Mohon tunggu...
Daud Farma
Daud Farma Mohon Tunggu... Pribadi

Ig: @daudfarmaa -Membaca dan Menulis-

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dari Panti Asuhan ke Dayah Perbatasan

26 Oktober 2020   05:58 Diperbarui: 26 Oktober 2020   05:59 3 0 0 Mohon Tunggu...

Perkenalkan, namaku, Habib. Aku tinggal bersama ayah, ibu dan adik-adikku di Desa Buah Duku. Ya, namanya desaku Buah Duku. Kakak dan abang-abangku semuanya sudah berkeluarga. Desaku adalah surga bagiku dan mungkin juga desamu adalah surga bagimu. Aku resmi lulus SD Negeri Salim Pinim yang tidak terlalu jauh dari kampungku, hanya dua puluh menit dengan berjalan kaki. Tujuh tahun di SD Salim Pinim membuatku susah berpisah darinya, guru-guruku, teman-temanku, gedung dan halaman sekolah yang setiap paginya aku dan teman-temanku senam pagi sebelum masuk kelas. Wali kelasku, Pak Jamrin adalah guru yang kami cintai, beliau adalah guru terfavorit dari yang favorit.

Mungkin kalian bertanya kenapa aku tujuh tahun di SD? Ya aku tidak pernah berbohong untuk menjawab kenapa aku tujuh tahun lamanya di SD?, itu karena kemalasan dan kenakalanku dan juga karena kebodohanku. Di kelas tiga SD, aku belum bisa membaca dengan baik dan benar, sehingga ibu guruku yang bernama Inong, tidak memberikan kenaikan kelas untukku. Awal mula kejadian aku tidak naik kelas, waktu itu ibu Inong menyuruhku maju ke depan untuk membaca tulisan yang beliau tulis di papan tulis. Seperti biasa, setiap kali aku maju ke depan aku pasti belok ke sudut ruangan di samping papan tulis lalu mengankat kaki sebelah dan memegang kedua kuping. Ibu Inong makin muntab padaku bahkan ingin menelanku mentah-mentah. Tapi, Kawan, begitu kelas usai, aku dan teman-teman selalu menyalami dan mencium tangan beliu, pas di giliranku selalu ada kata spesial, "Bib, jangan lupa Kau berikan suratku pada ibu, Kau!" Aku punya niat tulus memberikannya pada ibu namun selalu saja gagal, "Ini surat bahaya Bib!, ini surat pencurian, pencuri itu masuk penjara! Maukah Kau masuk penjara Kawan?" Aku menggeleng, "Kalau begitu kita jadikan perahu kertas aja dan kita hanyutkan di parit!" Walhasil otak tupai si Endut berhasil membodohiku.

Tetapi, apakah aku pindah sekolah? Apakah aku tidak mau sekolah karena malu dengan teman-temanku? Tidak! Justru karena tinggal kelas lah yang membuat hidupku berubah secara dratis. Aku menjadi anak yang rajin, aku mulai bisa membaca dan kecanduan membaca. Segala tulisan yang kuihat aku baca. Mulai dari buku-buku mata pelajaran, bungkus-bungkus snack, tulisan-tulisan yang tertulis di dinding-dinding rumah, toko, plat-plat motor, mobil dan lainnya, semuanya kubaca. Aku bangga pada diriku sendiri ketika aku mulai bisa membaca, ternyata dengan membaca aku bisa membedakan antara baik dan buruk. Aku mencintai membaca ketika aku mulai bisa membaca. Aku tidak pernah absen sekolah kecuali karena sakit dan sebab tertentu. Membaca dan menulis mulai menjadi sahabat bagiku.

             ***

 Hari ini kali kedua bagiku akan keluar dari kampungku. Aku sudah lulus SD, dari jauh hari, sebelum aku lulus sudah ku pinta ke ayah dan ibuku untuk memasukkanku ke Pesantren dan itu harus jauh, jangan di kampungku. Aku ingin seperti abang Ayang-ku yang juga masuk Pesantren yang jauh dari kampungku. Pergi ke luar daerah untuk menuntut ilmu. Awalnya ibuku tidak lah setuju dengan usulanku, karena aku adalah anak laki-laki paling bungsu. Awalnya aku ingin masuk ke Pesantren ialah karena aku tidak mau di desaku, aku ingin merasakan bagaimana hidup di kampung orang lain dan jauh dari ayah, ibu, abang, kakak, adik dan saudaraku. Aku ingin jadi anak yang dirindukan, kepulangannya selalu dinantikan. Padanya orang-orang mengenalnya menaruh harap agar membawa petubahan yanh baik bagi kampungnya. Ya, aku ingin seperti itu.

 "Bib!" Ya itu suara ibu memanggil namaku. Pangggilan yang sudah melekat dalam jiwaku. Sudah tak asing lagi di telingaku, suara beliau yang begitu akrab di hatiku.

"Ya, Ma?"

"Siap-siap, sebentar lagi mobil datang, periksa lagi barang-barangmu, jangan ada yang ketinggalan ya, Nak!"

"Ya, Ma."

 Sore tadi adalah sore terakhirku bersama teman-temanku mandi di sungai, sore terakhirku di kampung halamanku, sore terakhir bersama saudara-saudaraku dan sore terakhirku bersama kakak, adik, ayah dan juga ibuku. Sore terakhir yang bersifat sementara dan aku tidak akan libur kecuali setahun sekali. Semuanya sudah beres, barang-barangku sudah masuk ke dalam tasku dan peti buatan ayah yang berukuran standart, yang bisa menampung tiga puluh pakaian yang sudah dilipat. Beberpa menit setelah kata, "Sebentar lagi mobilnya datang" kata ibu, perlahan becak itu memasuki halaman rumahku. Kuperhatikan pemiliknya, wajahnya tak asing lagi di mataku. Ya beliau adalah Bambku-ku, sebutan untuk suami dari bibikku. Ternyata bukan mobil yang datang, melainkan becak. Kutatap muka ibu, beliau hanya membalas dengan senyum bahagia melihat kepergianku yang bersifat sementata ini. Aku pasrah, aku hanya menurut, aku tidak menanyakan mobil lagi dan aku mengangkat peti buatan ayah itu ke depan pintu. Ingin kuraih tangan ibu untuk menyalaminya, niat perpisahan. Tapi beliau sudah mengisyaratkan agar jangan disalami dulu, tahan. Air mataku mulai sedikit meleleh, hatiku basah. Tiga adik perempuanku memandangiku penuh iba, melihat raut wajahku yang bagaikan akan pergi dan takkan kembali lagi.

"Ayo buruan, kita mau berangkat, Bib. Kau duduk di belakang Bambkhu-mu. Ayah dan Mama di dalam." kata Ibuku. Sekarang aku mulai mengerti, ternyata kedua orangtuaku juga ikut mengantarkanku ke luar daerah dengan naik becak reot ini, aku pun manut. Aku peluk adik-adik perempuanku satu persatu. Mereka menyalamiku dengan mencium tanganku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN