Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Biologi Dipilih karena Dianggap Mudah?

10 Januari 2017   04:27 Diperbarui: 11 Januari 2017   23:47 3746 3 4
Biologi Dipilih karena Dianggap Mudah?
Foto: Kompas/Ahmad Arif

Hari pertama sekolah mendapat laporan dari wali kelas 12 IPA bahwa sekitar 2/3 peserta didik di kelas 12 IPA memilih mata pelajaran Biologi untuk mata pelajaran jurusan di Ujian Nasional tahun 2017. Seperti sudah penulis sampaikan bahwa untuk Ujian Nasional tahun ini mata pelajaran jurusan disyaratkan memilih salah satu mata pelajaran sesuai kemauan siswa. Untuk Jurusan IPA, terdapat tiga mata pelajaran jurusan yakni biologi, fisika dan kimia, ketiga mata pelajaran ini dipilih salah satu oleh setiap peserta ujian nasional. Dan seperti perkiraan penulis sebelumnya, biologi ketiban pulung.

Seperti telah disampaikan oleh penulis juga jika tanpa arahan untuk prasarat masuk perguruan tinggi, akan terjadi ketimpangan dalam pemilihan mata uji pelajaran jurusan, dan itu paling tidak tercermin dari peserta didik penulis senidiri. Akan menjadi masalah jika alasan pemilihan itu adalah anggapan bahwa sebuah mata pelajaran gampang apalagi disertai anggapan keliru bahwa biologi sekedar hafalan sehingga gampang jadi nantinya mudah untuk lulus. Anggapan seperti ini tentu sangat menjebak, hal ini bisa dibuktikan bahwa banyak terjadi kasusu di sekolah-sekolah negeri ternama di Jakarta, justru tidak lulus karena nilai biologi menjadi penghalang. 

Bagaimanapun juga stigma Biologi sebagai pelajaran hafalan masih melekat, bahkan tidak jarang pula guru baik dari SD, SMP hingga SMA dalam pembelajarannya mengandalkan proses menghafal, meskipun jelas-jelas ditetapakan dalam kurikulum sebagai pendekatan sain. Proses menalar yang dibangun memalui proses deduksi induksi melalui berbagai langkah-langkah sains yang dalam hal ini eksperimen tidak mendapatkan porsi yang cukup. Ditambah lagi dengan ketersediaan alat dan bahan untuk eksperimen yang sangat terdapatas bahkan dalam beberapa kasus sangat langka. Seperti mislanya, tuntutan mendeskripsikan perbedaan bakteri gram positif dan gram negatif (Materi kelas X sm 1) tanpa tersedianya bahan=bahan pengecatan gram, maka terpaksa pernyataan-pernyataan teoritik , pendeskripsian itu hanya dilakukan mealui  hafalan gampangannya, tanpa proses proses observasi, discovery dan inquiry

Memang pelajaran biologi itu bukan mata pelajaran numerik, dalam arian yang menggunakan hitungan kecuali untuk materi genetika yang cenderung menggunakan perhitungan probabilitas dan evolusi dalam kaitan hukum Hardy Wenberg yang menggunakan persamaan kuadrat, serta pertumbuhan bakteri yang menggunakan deret geometri dengan rasio 2 (karena pembelahannya biner). Namun bukan berarti pelajaran biologi mudah karena hafalan atau ingatan yang diasumsikan tingkat kognisinya jika dikatagorikan ke dalam taksonomi bloom sebagai C1 (ingatan).

Perlu diketahui terutama untuk orang tua, bahwa struktur soal ujian nasional mata pelajaran biologi terdiri dari ingatan dan pemahaman (C1 dan C2) sekitar 25 % (10 soal), Apikasi (C3) sekitar 50 % (20 soal) dan Penalaran (C4,C5 dan C6) sekitar 25 % (10 soal). Jika dianalisa berdasar muatan kurikulum, maka sekitar 25 % materi kelas 10, 25 % materi kelas 11 dan sekitar 50 % materi kelas 12. Sementara itu untuk memenuhi kriteria ingatan dan pemahaman (biasanya penulis sebut tipe A), aplikasi (tipe B) dan penalaran (tipe C) disajikan soal dengan narasi, gambar, grafik, bagan dan tabel hasil percobaan. Dengan komposi seperti itu, maka jika mengandalkan sekedar hafalan, siswa akan terjebak pada kemampuan 12,5 % dari katakanlah separoh dari soal C1 dan C2. 

Sementara itu, untuk dapat menguasai tipe aplikasi, maka peserta didik harus sudah memahami konsep terlebih dahulu (C2) dan untuk memahami konsep maka hal paling dasar tahu tentang konsep konsep itu sebuah keharusan. Sebenarnya dengan adanya kisi kisi (SKL) bisa menjadi terfokus pada konsep-konsep tertentu dari seabrek konsep biologi yang membutuhkan otak dengan megabite tinggi, namun demikian tanpa semangat, kesungguhan dan ketekunan upaya penguasaan konsep,  maka konsep yang telah terfokus untuk ujian nasional pun tak terkuasai, apalagi jika pemilihan mata uji dilandasi oleh sikap “nggampangke”. Tanpa penguasaan konsep yang adequat maka soal-soal penerapan apalagi penalaran mungkin dapat dijawab karena tinggal mengeklik, tetapi jawaban menjadi spekulatif dan resiko salah jawanan menjadi tinggi. 

Satu lagi terkait dengan soal penalaran yang rata-rata berlandaskan dari uji laboratorium, untuk dianalisis, diinterpretasi dan membuat simpulan, tanpa terlatih dengan menggarap laporan yang benar maka kemunginan spekulatif juga tinggi. Pengalaman memeriksa hasil laporan resmi dari praktikum siswa dua bagian hasil dan pembahasan dan kesimpulan selalu menjadi titik lemah. Peserta didik cenderung hanya menyampaikan hasil percabaan tanpa pembahasan yang merupakan interpretasi dari hasil tersaji. Demikian juga ketika harus  membuat simpulan, datanya bagaimana, kesimpulannya bagaimana. 

Dari uraian di atas yang ingin penulis sampaikan adalah, jangan memilih mata uji karena sikap menggampangkan. Pilihlah mata uji yang benar-benar peserta didik kuasai, dan akan lebih baik lagi jika terkait dengan fakultas atau jurusan yang akan dijalani di perguruan tinggi nanti. 


Penulis guru biologi SMA Swasta di Jakarta