Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Tak Ada Golput bagi Pemilih Cerdas

9 April 2019   11:38 Diperbarui: 9 April 2019   11:45 51 1 1

Dalam beberapa edisi, penulis telah menyampaikan konsep kecerdasan berganda (Multiple inteligen) yang saat ini menjadi acuan dalam penelisikan masalag kecerdasan dan kesuksesan seseorang. Dimana aspek kecerdasan non IQ diakui memegang peranan penting dalam mewujudkan kesuksesan seseorang dan juga pemimpin.

Bagaimana konsep kecerdasan menurut Radulullah SAW ? Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, juga oleh Tirmidzi , Abu Dawud  dsb, sebagai berikut : "Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah yaitu Ibnu Mubarak berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abu Maryam dari Dlamrah bin Habib dari Syaddad bin Aus berkata; Rasulullah Shallallahu. 'alaihiwasallam bersabda: "Orang yang cerdas (alkayyis) adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian(akherat), sebaliknya orang yang lemah(bodoh) adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." 

Jika ditarik dalam konsep kecerdasan berganda orang cerdas dalam kontek hadits adalah terkait aspek kecerdasan spiritual dn aspek kecerdasan emosional. Barangkali inilah esensi kecerdasan yang harus dimiliki seorang manusia. 

Dengan kecerdasan spuritual, dia akan senantiasa kelakukan berbagai aktivitas kesalehan, dan dengab kecerdasan emosionalnya dia akan mampu betinteraksi dengan orang lain dengan penuh kemuliaan (kecerdasan sosial). Atau secara mudah dapat dikatakan orang yang cerdas dalam kontek hadits nabi adalah orang yang hubungan vertikal dan horizontalnya baik.

Ketika konsep kecerdasan ini kita terapkan dalam memilih pemimpin, berarti kita memilih secara cerdas, dan ketika konsep kecerdasan ini dipersaratkan pada prmimpin yang kok ta pilih, maka hal itu berarti memilih pemimpin cerdas. Gabungan dari proses ini menjadi Cerdas memilih pemimpin cerdas.

Secara.praktis, cerdas memilih pemimpin cerdas ditandai dengan menerapkan indikasi indikasi habluminallah dan habluminannas dari seorang calon pekimpin. 

Bagaiman seorang calon pemimpin taat tethadap petibtah petintah agamanya dan bagaimana seorang calon pemimpin memiliki komitmen/istiqomah dalam menjauhi seluruh larangan Allah, bagaimana pelaksnaan ibadahnya, bagaiman ucapan./khifdzil lisannya. Pendek kata kita memilih pemimpin yang paling bertaqwa.

Dalam kontek kontestansi pilpres 2019 Cerdas Memilih Pemimpin Cerdas doaplikasikan dengan menerapkan berbagai indikasi ketawaan kepad dua capres kita Jokowi dan Prabowo, dimana siapa yang lebih menunjukan karakteristik bertakwa, yang lebih baik ibadahnya, yang lebih mulia akhlaqnya, yang lebih menyejukkan ucapannya menjadi pilihan kita nantinya.

Sikap cerdas berikutnya adalah peneguhan bahwa Tuhan maha tahu, maha cerdas, oleh karena itu apapun hasil upaya kita menelisik kedua capres harus kita kembalikan kepada Allah melalu munajat, doa, istikhoroh kita untuk tetap dalam bimbingan Allah dalam memilih nantinya.

Dengan proses yang demikian pemilih cerdas pada ahirnya dapat menentukan pilihan dengan cerdas kepada calon yang cerdas. Bagi pemilih cerdas tidak ada kata golput, karena dia punya kritetetia kriteria, cara cara dan aksi yang cerdas pula.