Mohon tunggu...
Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita Mohon Tunggu...

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politik Identitas Kandas?

8 Maret 2019   10:20 Diperbarui: 8 Maret 2019   11:18 0 0 0 Mohon Tunggu...

Pada tulisan berjudul Strategy mengalahkan strategy, penulis ungkapkan salah satu potensi untuk mengalahkan jokowi adalah pertama, menggunakan politik indentitas dengan (2) memanfaatkan spirit kebangkitan umat dan (3) didukung figur capres yang benar benar sesuai spirit al Maidah 51, yaitu figur muttaien, yang tepat untuk amirul mukminin NKRI yang berbineka.

Jika kita ikuti srksama dua hal pertama, politik identitas dan pemanfaatan spirit kebangkitan umat telah dimanfaatkan oleh PKS dan kualisinya, yang didukung oleh PA 212. Sayangnya ketika harus memenuhi point ke tiga, kualisi yang mengidendtisufiksi sebagai poros Mekah gagal total.

Penetapan calon yang diusung melalui apa yang disebut sebagai Ijma Ulama, justru nampaknya tidak sesuai dengan indentitas keislaman itu sendiri. Tragisnya disinilah titik awal kegagalan penerapan politik identitas. Calon yang diusung adalah kartu mati yang membuat strategi derivasinya sulit di mudah dilumpuhkan dan nampaknya kegagalan total hanyalah masalah waktu.

Ketidak sinkronan antara strategy dan figur yang diusung tidak hanya membuat strategy itu tidak dapat diterapkan optimal, namun ironisnya strategy itu juga mengobarkan kontradictio internis pada figur yang diusung itu sendiri yang sangat mempengaruhi performa sang calon. Berkali kali sang calon terpeleset pada hal hal kecil secara berulang, hingga nampak kurang siap saat debat adalah indikasi indikasi yang penulis amati.

Disisi lain, sebagaimana penulis sampaikan ketika menyoroti pilkada Jateng, bahwa politik identitas model DKI tidak mungkin diterapkan secara nasional karena pertama kontestansi yang berbeda dan penguasaan mimbar yang berbeda, khususnya mimbar mimbar masjid yang secara riil di Jakarta benar benar didominasi oleh kelompok tertentu, yang sangat mengontrol siapa tang boleh tampil atau tidak.

Sementara itu stigma yang digunakan sebagai amunisi untuk menyerang Petahana sebagaimsna terjadi di pilpres 2014, semakin ketahuan hoaxnya. Hal ini mempertegas diterapkannya Propaganda Rusia, yang esensinya adalah menebar dusta terus menerus. Disamping cara drmikian gagal untuk mendeskriditkan dan menggerus kepercayaan kroada petahana.

Cara cara yang menghalalkan segala cara juga sangat bertentangan dengan identitas keislaman yang selalu digembar gemborkan. Sehingga semakin memhuat potrait suram penuh kontradiksi. Sehingga tidak heran jika acara munajat berubah menjadi orasi yang sarat dengan caci maki dan mengsncam otiritas ilahiah, bursa surga yang terlalu murah dll.

Mrmang kandasnya straregy politik identitas belum dapat dikatakan srbagai keniscayaan, namun dari hasil survey secara keseluruhan menunjukan bahwa semskin dekat hari pemilihan selisih ekektabilitas antara petahana dan penantangnya semakin.jauh, rata tata sudah di atas 20 % selisihnya.

Situasi drmikian memang dapat membetikan tekansn tersendiri, apalagi bagi mereka yang sangat terobsesi drngan kemenangan itu sendiri, bisa bisa terjebak untuk mengkonsumsi penenang dan juga stimulan untuk tetap fight tentu saja secara diam diam, meskipun secara sadar kita tahu itu melanggar peraturan undang undang, namun tuntutan kadang sulit dikendalikan.

Tragisnya karena para pesohor politik harus aktif berkampanye yang banyak disorot televisi, maka respon pupil matanya dapat dengan mudah dibaca okeh polisi anti narkoba yang berpengalaman. Dengan mengkomparasikan dengan data pupil di arsip kependudukan maka diagnosa keterdugaan sangat mudah ditegaskan.

Kita memang sangat terperanga menggadapi keberanian oknum oknum tertentu dalam menabur tuduhan, fitnah, dan hoax hoax politik yang akal sehat mensngkapnya sebagai hal ngawur. Kita jadi berranya apakah itu memsng kaeater atau akhibat konsumsi agen agen tertentu. Yang pasti baik karena karakter atau pengaruh konsumsi tertentu, keduanya sama sama tidak sesuai dengan identitas keislaman juga..

Kita tunggu hasil kontestansi pemilu yang nampaknya sangat berbeda ini.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x