Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Sebastian Coe: Zohri Masa Depan Atletik Indonesia

27 Agustus 2018   06:33 Diperbarui: 27 Agustus 2018   07:53 1120 0 0

Senada dengan tulisan kami di kompasiana tanggal 24 Juli 2018 yang bertajuk "Lalu Muhammad Zohri Aset Bangsa", Anggota Parlemen Inggris Sebastian Coe menyatakan bahwa Zohri atau lengkapnya Lalu Muhammad Zohri adalah "Masa Depan Atletik Indonesia". 

Pernyataan Coe tentu bukanlah tanpa alasan, sebagai politikus mantan atlet, tentu Sebastian Coe memiliki argumentasi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Perlu diketengahkan disini sekedar informasi sekilas, bahwa Sebastian Coe adalah seorang politikus Inggris dan mantan atlet athelitik. Sebagai pelari jarak menengah , Coe menang empat medali Olimpiade, termasuk medali emas 1500 m di dua olimpiade yakni  pada olimpiade  tahun 1980 dan 1984. 

Ia mencetak delapan rekor luar ruangan dan tiga rekor dunia dalam ruangan dalam lomba-lomba trek jarak menengah -- termasuk, pada tahun 1979, mencetak tiga rekor dunia dalam lingkup 41 hari -- dan rekor dunia yang ia cetak dalam bidang lari jarak menengah nomor 800 meter pada tahun 1981 yang masih belum dipatahkan sampai tahun 1997. 

Persaingan Coe dengan orang Inggris sejawatnya Steve Ovet  dan Steve Cram  mendominasi balap jarak menengah pada sebagian besar 1980 an.

Saat melihat  Zohri turun  di Final lomba lari 100 meter Asian Games 2018 semalam, berada di lintasan yang di apit oleh pelari tercepat dan pemegang rekor  asia saat ini Su Bingtian dengan 9,91 detik dan pelari Qatar, Semi Seun Ogunde (mendapat perak) penulis berharap Zohri dapat terpacu kecepatannya untuk melampaui personal best nya (10,18  detik) dan dapat memecahkan rekor nasional atas nama Surya Agung (10,17 detik). 

Sayang, lagi-lagi sebagaimana penulis sampaikan bahwa kelemahan Zohri di start dan jarak awal, cukup merepotkan bagi Zohri untuk lebih memacu dirinya mengejar pelari dunia Su Bingtian dan Ogunde

Kembali pada pernyataan Coe, penulis menmahami dalam dua aspek, yakni masa depan pribadi Zohri sebagai atlet atletik, dan masa depan atletik Indonesia secara keseluruhan. 

Dalam kontek pribadi Zohri sebagai atlet, Zohri sangat memiliki masa depan yang sangat propestif jika Zohri focus mengembangkan dirinya sebagai sprinter mengingat usianya yang sangat belia. 

Zohri dapat belajar dari Su Bingtian dan Ogunde, yang kemudian sukses sebagai atlet tingkat dunia yang, tentu saja kita dapat melihat betapa hebatnya kehidupan dan gaya hidup atlet dunia, terutama sprinter dengan hidup yang berlimpah. 

Zohri harus menolak tawarean-tawaran untuk menjadi PNS, TNI atau kerja lain saat ini, hal ini dikarenakan justri dapat menghancurkan prestasi atletik Zohri, kecuali dengan jaminan, bahwa Zohri meski menjadi PNS atau anggota TNI tetap diperbolehkan fokus berlatih meningkatkan prestasinya. 

Tapi apakah hal ini bisa ? Apa yang didiskusikan oleh para wartawan olah raga dan para paanitia lari Asian Games yang penulis ikuti menjelang pelaksanaan lomba marathon Asian Games putera pada hjari Sabtu, 25 Agusatus 2018 intinya adalah, saat ini berbeda, atlet yang sudah menjadi PNS, tidak otomatis dapat fokus latihan, hal ini dikarenakan mereka harus menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai abdi negara (ASN). 

Sebagai contoh kongkritnya yang disinggung terkait dengan atlet marathon adalah Tryaningsih, yang akhirnya gagal berlomba di nomor Marathon Asian Games puteri yang dilaksanakan pada hari Minggu, 26 Agustus 2018.

Dalam pandangan penulis, nomor sprint yang berdurasi pendek dengan tiga tahapan Start, Akselerasi dan finish tentu harus benar- benar dikuasa secara perfect oleh seorang sprinter. Jika kita amati Zohri berlari, paling tidak ada dua kelemahan, yakni pada Start dan finis. 

Pada start dan sekitar 25 awal hampir sebagian besar Zohri tertinggal, sedang kelemahan pada finish, Zohri belum menunjukkan finishinh yang semestinya yang menjadi penentu finish yakni daerah dada (dodot, atau torso). bahkan dalam semifinal Asian games lalu, Zohri justru menengok kekiri (ke arajh pelari Arab saudi). 

Menengok ke kiri maupun kekanan saat berlari jelas sangat b erpengaruh pada kecepatan lari, sedang upaya mengedepankan dodot (torso) akan memberikan daya dorong sendiri. 

Dilihat dari usia, Zohri masih pada usia pertumbuhan oleh karenanya, untuk meningkatkan prestasinya, asupan gizi terutama yang terkait denga funsi pertumbuhan tulang dan otot seperti kalsium dan protein sangat perlu diperhatikan. hal ini dikarenakan untuk menghasilkan gerak yang efektif, cepat dan kuat, kondisi tulang sebagai alat gerak pasif dan otot sebagai alat gerak aktif sangatlah menengtukan. 

Otot sebagai alat gerak aktif, kontraksinya sangat tergantung dari aktin dan miosin yang tersedia dalam tubuh. Aktin dan myosin merupakan jenis-jenis protein, artinya asupan protein memang harus sangat diperhatikan. 

Dengan perpaduan latihan fokus dan terarah, asupan gisi dan tekhnology lari yang presisi, diharapkan Zohri tumbuh menjadi Atlet yang ideal dalam fisif, teknik dan sudah barang tentu mental juaranya. Ketiga aspek itu tentu saja tidak dapat "diberikan" dalam periode yang singkat, namun sesuai dengan pertimbuhan dan perkembangannya. 

Wajar saja, polesan dari PB PASi belum nampak  sepenuhnya pada tampilan Zohri pada final lomba nomor 100 meter Asian Games semalam. Seperti diakui sendirii oleh Zohri  saat wawancara pasca babak semi final, startnya masih bermasalah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2