Mohon tunggu...
Darwin
Darwin Mohon Tunggu... Dosen - Dosen, CTO, COO, Trainer, Public Speaker

S.Kom., M.Kom., CPS®, CRSP, CH, BKP, CDM, Google Ads Certified, Google My Business Certified, SEMrush Digital Marketing Certified, Content Marketing Certified, Inbound Marketing Certified, Service Hub Software Certified, Sales Management Certified, CITGP, COBIT® 2019 Foundation

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Gambaran Squid Game Di Dunia Nyata

7 November 2021   11:56 Diperbarui: 7 November 2021   12:04 469
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar : https://lifestyle.kompas.com/read/2021/10/14/093952120/alasan-psikologis-di-balik-kesukaan-orang-tonton-squid-game?page=all

Squid Game adalah film yang tidak kalah hot-nya dengan berita pandemi covid-19. Film ini menggambarkan manusia yang demi mendapatkan uang banyak bisa melupakan esensi dari makhluk sosial. Apakah uang lebih penting dibandingkan nyawa manusia?

Manusia secara naluri ketika dalam keadaan terpojok kerap kali menghalalkan segala cara demi menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sebenarnya ini normal, akan tetapi jika kita mampu melihat sebab dan akibat, maka pasti akan berbeda dengan kejadian dalam film Squid Game ini. 

1. Ketika hendak berenang, maka kita harus mengenakan pakaian renang. Bayangkan jika kita mengenakan jas untuk berenang. Tidak perlu berharap gaya renang apapun, terapung saja susah karena jas tidak bisa menyerap air. Hal seperti ini sudah bisa diprediksikan di awal apa yang akan terjadi. Penyebabnya adalah mengenakan jas, akibatnya tidak bisa berenang dan bahkan nyawa pun terancam. Ketika nasi sudah menjadi bubur, kita mau menyalahkan siapa? Menyalahkan pemilik kolam renang? Tidak mungkin.

swimmer-dives-into-water-from-splash-watercolors-illustration-paints-291138-350-6187557f06310e06371ec9b4.jpg
swimmer-dives-into-water-from-splash-watercolors-illustration-paints-291138-350-6187557f06310e06371ec9b4.jpg
2. Kebiasaan menunda secara tidak langsung telah direfleksikan dalam film Squid Game ini. Selama manusia mau berusaha di jalan yang benar, tidak menunda, dan tidak membuang waktu, maka tujuan hidup niscaya bisa tercapai. Yang membedakan hanya perkara waktu. Ada kenalan saya sering mengeluh, enak sekali manajernya. Datang tidak pernah tepat waktu, follow-up kerjaan sering dilakukan di luar jam kerja. 

Pertanyaan pertama yang perlu dicari tahu jawabannya adalah sudah berapa lama manajernya menjabat posisi tersebut? Tidak semua manajer hanya makan gaji buta. Manajer bertanggung jawab di ranah manajemen, melakukan perencanaan, delegasi, dan kemudian pengontrolan / memastikan semua bekerja sesuai apa yang telah direncanakan. Ini tidak mudah lho sebenarnya. Abraham Lincoln mengatakan "Beri saya waktu enam jam untuk menebang sebatang pohon dan saya akan menghabiskan empat jam pertama untuk menajamkan kapaknya".

procrastination-it-later-postpone-work-tomorrow-unproductive-excuse-concept-212586-326-61875684f5eb6869d428a012.jpg
procrastination-it-later-postpone-work-tomorrow-unproductive-excuse-concept-212586-326-61875684f5eb6869d428a012.jpg
Ini disebut bekerja secara smart. Jika Abraham Lincoln langsung menebang pohon tanpa menajamkan kapaknya, tidak mungkin enam jam cukup untuk menebang sebatang pohon, bisa jadi membutuhkan waktu enam tahun. Jadi jangan terlalu dini menilai seseorang. Kendala yang kerap terjadi lagi di masyarakat adalah tidak ingin tahu, sehingga ketika menghadapi suatu masalah tertentu bukannya menyelesaikan, melainkan mengeluh. Adakah manfaat mengeluh? Beban pikiran bukannya berkurang, malah menjadi tidak bahagia.

Seong Gi-Hun di dalam film Squid Game ini memenangkan 45.6 juta won. Dia berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan ratusan pesaing dalam permainan yang mematikan. Apakah dia bahagia kemudian? Yang menarik dari ending film ini adalah munculnya kebijaksanaan dari dalam diri  Seong Gi-Hun. Dia tidak berfoya-foya atas uang yang telah dimenangkannya. 

Setiap orang pada dasarnya memiliki jiwa kebijaksanaan, dan kebijaksanaan tidak untuk dipamerkan, melainkan untuk dipraktekkan. Akan tetapi, kebijaksanaan itu muncul berkat adanya pengetahuan atau pengalaman, dan pengetahuan itu muncul dari informasi yang diperoleh dari belajar. 

Walaupun kita telah menyelesaikan pendidikan akademis, belajar itu adalah wajib dan tidak boleh berhenti. Pengetahuan membuka sudut pandang kita, dan setelahnya kita membuka pintu solusi untuk orang-orang yang ada di sekitar kita.

the-power-of-reading-61875b4bffe7b5340037a7e3.jpg
the-power-of-reading-61875b4bffe7b5340037a7e3.jpg
Silakan tonton video tambahan ini di YouTube channel saya mengenai affinity process untuk menyelesaikan masalah :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun