Mohon tunggu...
Daru Nur Dianna
Daru Nur Dianna Mohon Tunggu... Penulis

Berita, Essay Populis, dan Catatan Ilmiah Mengenai Pemikiran dan Peradaban Islam

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Tentang Teori Keilmuan: Catatan Konferensi Nasional Integrasi-Interkoneksi Kedua di Saintek UIN Suka

19 November 2019   22:48 Diperbarui: 20 November 2019   08:47 0 0 0 Mohon Tunggu...
Tentang Teori Keilmuan: Catatan Konferensi Nasional Integrasi-Interkoneksi Kedua di  Saintek UIN Suka
dokpri


Hari ini tadi (Senin, 18/11) telah berlangsung Konferensi Integrasi-Interkoneksi kedua kalinya. Kurang afdhal kalau belajar teori, sedang pencetus teori itu masih hidup, kita belum bertemu langsung dengannya. Hari ini, bisa bertemu mendengar penjelasan langsung Prof. Amin Abdullah, pencetus Integrasi-Interkoneksi Sains dan Agama yang telah mentransformasi IAIN menjadi UIN, dan konsep ini menjadi Himne UIN Suka. Jadi lebih jelas, gimana konsep dasar teori ini, dan paradigmanya mengarah kemana. Pengen tau? insya Allah kita bahas di lain tulisan saja ya, hehe. 

Paradigma Integrasi-Interkoneksi, setelah 15 tahun digagas dan diperjuangkan oleh Prof. Amin Abdullah, baru kini 2019 diakui Kemenag dan akan terbit buku pedoman implementasi paradigma ini ke PTIN se-Indo. Prof. Siswanto Masruri, keynote speaker ke-dua selaku Guru Besar Ushuluddin UIN Suka, mengomentari bahwa kurang suka sama buku pedoman ini. Dibaca dulu saja boleh, kalau untuk implementasi kurang sepakat. Implementasi tidak perlu memakai pedoman yang setebal ini. Implementasi itu mnurutnya sendiri lebih penting adalah bagaimana kebijakan pimpinan dan dekanat. Karena menurutnya, di UIN Suka sendiri tiap prodi masih kental berdiri sendiri-sendiri, masih kurang berintegrasi dan terkoneksi. Pun, pedoman-pedoman itu juga bisa jadi pengekang dan sebuah proyek akademik yang "no money no integration". 

Pak Amin menanggapi dan berkata, bahwa suka tidak suka, apa yang ditulis oleh Kemenag inspirasinya dari Jogja sini, maka UIN Suka harus mengimplementasi dan jadi pionirnya, walau isinya dapat menjadi aturan-aturan yang bisa jadi pengekang, sehingga tidak sebebas versi aslinya. Menurutnya, pedoman implementasi ini akan menjadi kompas. Adapun praktiknya memang nanti akan ada perbedaan-perbedaan tergantung variabel kualitas pemahaman dan dosen masing-masing PTIN.

Jadi, yang namanya teori akademik itu, ya seperti itu. Adalah ijtihad manusia yang tidak sempurna. Si teori itu layak dikritik untuk diuji, dan bisa muncul berbagai versi. Wajahnya juga bisa diganti-ganti sesuai kondisi hati. Karena memang sebuah teori perlu dikritik untuk diuji ketahanannya. Juga untuk diuji kebenarannya. Prof. Amin Abdullah dalam konferensi hari itu, mengatakan demikian juga.

Nah, begitulah teori, sehingga yang diperlukan adalah bagaimana membuktikannya, tidak untuk diimani. Fanatik dan mengimani sebuah teori akademik ciptaan manusia adalah kesalahan mendasar dan fatal. Apalagi ternyata teori itu melanggar maqashid syariah. Ini berlaku juga kepada teori-teori ciptaan manusia lain seperti pluralisme, gender, materialisme dialektik, dll...

So, jauhi fanatik teori-teori akademik sampai mengkritik Ulama-Ulama penerus Risalah Nabi. Di sisi lain, pencetus teori-teori ilmu pengetahuan selalu diagungkan. Hidup sementara, bersyariatlah yang benar. Memajukan Islam dengan sains dan teknologi, tidak harus liberal seperti orang Barat. Kebebasan akdemik bukanlah tempat bebas seperti hukum rimba. Bukanlah justru paradoks, ketika sebuah kegiatan keilmuan, malah menjadi sebuah tempat hilangnya makna hakiki pembebasan manusia, karena bebas tanpa mengenal batas. Adapun keterbukaan dalam mempelajari berbagai teori dan ideologi bagi seorang akademisi, memang adalah sebuah keharusan. Namun, catatannya adalah jangan fanatik dan hanyut mengikuti salah satu teori melebihi patuh terhadap syariat dan kaidah ilmu dibawah bimbingan otoritas Ulama'.

Ketua Umum MIUMI, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam tulisannya yang berjudul "Membangun Peradaban dengan Ilmu" menjelaskan bahwa corak Universitas Islam Modern zaman ini, lebih sebagai sebuah fotokopi dari Universitas Barat. Orientasi berfikir kritis, nasionalis, demokratis, liberalis, dan sekularis justru lebih dominan  dari pada usaha-usaha kearah penanaman cara pandang Islam. Sehingga, tak heran kebebasan diartikan sebuah kebebasan seluas-luasnya dan ini berdampak pada penentangan otoritas Ulama' klasik. Seharusnya kebebasan akademik tidak demikian menurut cara pandang Islam. Kebebasan dalam akademik di Universitas Islam, harus berdasarkan kebebasan yang bersifat ikhtiar memilih yang lebih baik dengan ikatan keilmuan. Sehingga Ulama' tetap sebagai pemegang otoritas yang perlu diikuti oleh peneliti atau ilmuan junior.

Adapun teori integrasi-interkoneksi ini, menurut saya kekuranganya adalah tidak adanya perangkat filter yang jelas untuk memfilter isme-isme yang problematis. Jadi, potensi menggabungkan segala isme ada. Kebebasan dan keterbukaan dalam konsep integrasi-interkoneksi perlu untuk di diperhatikan. Perlu sebuah perangkat agar kebebasan itu tidak membawa kepada liberalisasi pemikiran. Isu dan ilmu-ilmu humaniora kontemporer-postmodern perlu dikaji dahulu bagaimanakah ia menurut cara pandang Islam. Difilter apakah ia perlu dikembangkan atau tidak dalam tradisi intelektual Islam. Jadi, tidak serta merta mengintegrasikan Islam dengan ilmu lain seperti pluralisme, kesetaraan gender, dan lain-lain. Juga agar Islam tidak hanya sebagai sub ordinat ilmu humaniora Barat dalam sistem integrasi tersebut. []

VIDEO PILIHAN