Analisis Pilihan

Angkat Topi untuk Timses Prabowo-Sandi

19 April 2019   15:03 Diperbarui: 19 April 2019   15:08 4091 20 12
Angkat Topi untuk Timses Prabowo-Sandi
img-20190419-wa0024-5cb98094cc528378434035c2.jpg

INI pelajaran berharga untuk para timses politik. Di level apapun. Meski kalah atas Jokowi di Pilpres 2019, Prabowo layak angkat topi untuk timsesnya: BPN.

Di bawah komando Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso BPN bekerja sangat efektif. Masif, sistematis, dan terstruktur. Khas militer. Harus diakui, sampai saat ini TNI adalah organisasi terbaik di negeri ini.

Pertama, masif. Hampir semua orang mengakui, kampanye Prabowo-Sandi lebih hidup. Gerakan mereka lebih berasa hadir di hampir setiap acara yang mereka gelar.

BPN berhasil menghadirkan suasana yang membuat orang Jawa mengira, wahyu keprabon ada di kubu Prabowo. Kondisinya mirip Jokowi di 2014.

Ada kebanggaan ketika mereka menunjukkan simbol numeriknya: ibu jari dan telunjuk membentuk revolver. Sama seperti kebanggaan mengenakan baju kotak-kotak khas Jokowi-JK di 2014. Jokowi-Amin tidak mempunyai ini.

Kedua, sistematis. Sangat terasa Prabowo-Sandi di-back up kekuatan intelijen yang sangat matang. Dengan disiplin tinggi mereka berhasil menggerakkan jaringannya hampir di semua channeling.

Di jaringan masjid, kelompok profesi, grup alumni, dan LSM, berhasil mereka dominasi. Bahkan, di kelompok perangkat desa dan ASN yang harusnya dikuasai incumbent, jatuh ke tangan mereka.

Sebagai pengurus DKM yang tak aktif, saya merasakan bagaimana diskusi di organisasi ini seringkali mengarah ke upaya mendukung Prabowo. Padahal, di grup pengurus seringkali diserukan, dilarang share politik. Tentu, kecuali, terkait Prabowo.

Sebagai jurnalis, hal yang sama saya temukan di grup-grup WA wartawan. Hampir setiap saat ada up date acara ke mana Prabowo dan Sandi hari ini.

Bahkan, secara rutin dan bergiliran, muncul artikel-artikel soft/hard selling atas nama jurnalis senior. Content-nya, kalau ndak menjual Prabowo-Sandi, ya mem-bully Jokowi-Amin.

Hal-hal yang tidak saya temukan di kelompok Jokowi-Amin. Mereka kalah sistematis. Kalah jauh.

Ketiga, terstruktur. BPN berhasil membuat gerakan dengan memanfaatkan jejaring mereka secara solid dan konsisten. Bagaimana sibuknya pengurus DKM dan atau pengurus RT/RW, menjelang kampanye akbar Prabowo, atau acara lain yang terkait Prabowo.

Meski incumbent, Jokowi justru seperti tersandera. Bagaimana kekinya mereka ketika akan merayakan HUT BUMN berbarengan dengan kampanye akbar Jokowi. Padahal, waktu dan tempat terpisah.

Hasil kerja smart BPN inilah yang membuat beberapa kalangan, termasuk saya, ragu: benarkah Jokowi akan menang di Pilpres 2019? Hasil survei 10 lembaga kredibel pun belum cukup meyakinkan.

Tapi, manusia merencanakan, Tuhanlah penentunya. Jokowi tetap berhasil memenangkan pertempuran.

Anda boleh tidak percaya quick count. Tapi, setidaknya percaya satu hal ini: selalu ada intervensi Tuhan atas semua hal yang terjadi di bumi bulat ini. Entah kalau di Bekasi.



Gading Serpong, 19 April 2019