Mohon tunggu...
Ahmad Ikhwanul Muslimin
Ahmad Ikhwanul Muslimin Mohon Tunggu... Ilustrator - Ilustrator, desainer, komikus

Arts, musics, movies, cultures, books, cats, and human enthusiast

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Our Relationship Defined by Our Social Media

30 Desember 2020   05:57 Diperbarui: 30 Desember 2020   06:02 403
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image caption| Dok Generation GAP

Apa kamu pernah tidak sengaja meng-unfollow seorang teman kemudian kembali mem-follow-nya, dan temanmu bertanya, "Kok baru follow aku?" Atau saat salah seorang teman di Instagram meminta maaf karena meski sudah lama saling berkomunikasi, tapi belum sempat mem-follback? Atau kamu mengajak orang lain untuk mem-follow salah satu aku usahamu, orang itu akan balik minta, "Nanti follback aku, ya."

Urusan follow-memfollow orang di media sosial kadang bisa menjadi hal sensitif meski sebenarnya sepele. Saling follow maupun unfollow di dunia maya kerap dijadikan ukuran "seberapa baik" hubungan kita dengan seseorang maupun sekelompok orang.

Misal Si A berpacaran dengan Si B, lalu mereka putus, kemudian mereka saling unfollow akun media sosial, bahkan saling blokir. Atau, Si C dan Si D. Mereka adalah rekan kerja, namun hubungan mereka secara personal kurang baik. Meskipun Si C dan Si D sama-sama mem-follow rekan kerja sekantor mereka, namun Si C dan Si D tidak saling follow, bahkan satu dengan yang lain saling menyuyikan pemberitahuan baik pada postingan maupun cerita mereka. 

Atau, Si E dan Si F pernah bergabung salam satu tim. Karena satu hal Si F mengakhiri kerjasama dengan Si E, hingga kemudian Si E meng-unfollow akun media sosial si F, juga beberapa tim lainnya yang saling terafiliasi dengan si F. Atau Si G tidak mau mem-follow Si H karena merasa gengsi sebab Si G pernah kecewa pada si H.

Meski dunia maya tidak secara utuh merepresentasikan dunia nyata, namun dengan melihat pola hubungan kita dengan yang lainnya di dunia maya dapat menjadi tolak ukur hubungan kita dengan seseorang. Seperti saya misalnya, ada 3 jenis kategori akun media sosial yang saya ikut: 1). Pribadi; 2). Bisnis, yang mencakup produk maupun jasa, maupun tokoh publik; 3). Non profit, seperti pemetintahan, pendidikan, maupun jenis organisasi lainnya.

Untuk Akun personal, saya pastikan kami saling kenal, atau setidaknya pernah berada di lingkungan yang sama, baik pernah berada di satu sekolah, komunitas, maupun lingkungan dari minat dan tujuan yang sama. 

Sementara akun bisnis, tentu saja karena saya pengguna dari produk tersebut, atau karena saya menyukai pemilik maupun subyek atau konten dari akun tersebut, tak peduli apakah kami saling kenal. 

Akun selebriti misalnya, pemusik, produsen audio, dan lain sebagainya. Sedangakn untuk jenis akun ketiga tidak jauh beda dengan akun jenis kedua. Saya tidak perlu saling kenal atau terhubung dengan mereka sebelumnya, karena apapun jenis organisasinya, tidak ada ikatan personal di dalamnya.

Baik akun pribadi, bisnis, maupun non profit, saya juga pernah unfollow beberapa akun tersebut. Alasan utama saya berhenti mengikuti karena postingan dan cerita mereka tidak berfaedah bagi saya, atau bahkan kami tidak saling kenal secara personal dan tidak saling memberikan manfaat secara langsung. Namun ada juga beberapa akun --kebanyakan akun pribadi--yang tetap saya follow, hanya saja saya batasi atau senyapkan postingan maupun cerita mereka, sehingga saya tidak lagi melihat mereka di halaman utama akun media sosial saya. 

Hampir sama dengan alasan utama, selain tidak berfaedah alasan saya membatasi postingan akun-akun seperti ini biasanya karena mereka sangat sering memposting ulang dari akun TikTok, spamming, curhat terlalu panjang yang kalau disatukan sudah cukup dimasukkan ke IG TV, atau isinya keluhan maupun over narsir. Tapi tentu saja, saya tidak pernah bilang ke orangnya langsung kalau saya mengunfollow atau membatasi postingan mereka. Bagaimanapun ini hak saya sebagai pengguna media sosial.

Lalu bagaimana dengan akun personal yang tidak mem-follow balik saya? Tidak masalah sama sekali, toh di dalam kubur nggak bakal ditanya berapa jumlah follower-nya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun