Mohon tunggu...
Danny Prasetyo
Danny Prasetyo Mohon Tunggu... Seorang pendidik ingin berbagi pemikiran kepada sesama

Menulis adalah buah karya dari sebuah ide ataupun pemikiran.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis Itu Terapi di Tengah Pandemi

9 Mei 2020   09:36 Diperbarui: 9 Mei 2020   09:37 23 6 2 Mohon Tunggu...

Di rumah aja atau stay at home menjadi aturan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam diri setiap manusia. Hal ini karena nature manusia itu adalah beraktivitas dan bersosialisasi dengan sesama sebagai makhluk sosial dan tentu saja untuk melakukannya biasanya akan keluar rumah. Kondisi saat ini justru membuat setiap kita menjadi "menjaga jarak" dengan sesama dalam berelasi secara langsung dan digantikan dengan relasi virtual atau melalui media sosial.

Berada di rumah pada masa sebelum pandemi, merupakan hal yang amat menyenangkan bagi saya karena biasanya dalam seminggu hanya satu kali hari libur yang membuat saya dapat di rumah aja. Biasanya saat libur itulah saya muncul hobi saya yaitu menulis dan  menuangkan ide menjadi sebuah tulisan dan menerbitkannya di kompasiana ini. Akan tetapi, ketika ternyata situasi justru terjadi sebaliknya di masa pandemi ini bukankah seharusnya saya dapat menghasilkan tulisan lebih banyak karena memiliki waktu luang? 

Berdamai dengan situasi pandemi ini ternyata butuh waktu dan membuat akhirnya kita harus tetap bisa melakukan aktivitas pekerjaan kita tentu saja dengan berbagai penyesuaian.

Ketika saya mulai berdamai dengan kondisi ini, kemudian saya mulai melakukan hobi saya yaitu membaca kembali buku-buku yang saya miliki. Makin saya tenggelam dalam bacaan dan mulai mengurangi intensitas dalam mengikuti berbagai informasi yang beredar di media sosial ternyata membuat saya menjadi semangat kembali melakukan hobi saya yang berikutnya yaitu menulis.

Sudah sejak kecil saya suka untuk membaca buku baik itu komik, koran, majalah, koran atau bacaan lainnya (karena waktu saya kecil belum ada internet dan media blog seperti kompasiana ini hehehe). Dari kesukaan membaca dan kemudian menjadi hobi ternyata berkembang mulai untuk menulis tentang apa yang saya dapat dari buku atau koran yang saya baca.

Meski demikian, dibandingkan menuliskannya ternyata saya lebih senang berbicara atau bercerita tentang yang saya dapat dibandingkan harus menuangkan dalam sebuah tulisan. Akan tetapi, saat saya membaca suatu kalimat motivasi bahwa seorang dikenang dari apa yang dia tulis dibanding apa yang dia katakan. Ketika saya merenungkan kalimat ini, saya menyadari betul juga pernyatan ini, karena tulisan seseorang akan tetap ada dan abadi, bahkan akan tetap terkenang sampai si penulis sudah kembali kepada Sang Pencipta. 

Hal inilah yang kemudian membuat saya kembali untuk mengembangkan hobi saya selain membaca yaitu menulis, bahkan ternyata ada waktu yang tersedia dan dapat digunakan di masa pandemi ini. Menulis bisa juga dapat menjadi terapi agar tidak bosan, suntuk yang jika berkepanjangan tentu akan menyebabkan kita menjadi stress karena terlalu lama di rumah. Sebagian orang mungkin beralasan bahwa dia tidak bisa menulis dan bukan bakatnya menjadi penulis, atau ada juga yang mengatakan sulit dapat ide atau mencari mood yang tepat untuk menulis. Beribu alasan akan muncul jika memang tidak ada niat atau keinginan dalam diri sendiri untuk menulis. 

Sebenarnya setiap kita sudah dianugerahkan oleh Sang Pencipta hikmat dan pengertian untuk memahami setiap hal yang ada di sekeliling kita. Ibaratnya tulislah apa yang dirasakan, apa yang dilihat, apa yang dipikirkan atau bahkan apa yang sedang dialami.

Bukankah kita pernah berkomentar pada media sosial atau bahkan kita sering up date status kita dengan tulisan, lalu mengapa banyak alasan bahwa kita tidak bisa menulis? Mungkin yang perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa jangan terpengaruh oleh komentar negatif dari orang lain tentang tulisan kita, karena yang penting bagi kita adalah ada rasa lega bahkan puas ketika kita bisa menghasilkan satu tulisan dan berlanjut terus kepada tulisan berikutnya.

 Jadikan menulis bukan mencari apa yang menjadi kesukaan orang lain, karena jika ini yang dilakukan maka menulis itu menjadi suatu beban atau tuntutan dimana anda harus menyenangkan pembaca anda. Akan tetapi, jadikan menulis itu sebagai terapi bagi diri kita sendiri dengan menulis apa yang memang kita mau tuliskan dan kompasiana ini dapat menjadi wadah yang tepat untuk menuangkannya. Jadi mulailah menulis dan jadikan menulis itu terapi untuk mengisi waktu luang kita juga di masa pandemi ini, siapa tahu ketika pandemi ini berakhir, menulis makin menjadi kesukaan bagi diri kita untuk melakukannya.

9 Mei 2020

-dny-

VIDEO PILIHAN