Mohon tunggu...
Dani Ramdani
Dani Ramdani Mohon Tunggu... Lainnya - Ordinary people

Homo sapiens. Nulis yang receh-receh. Surel : daniramdani126@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bandung Pilihan

Gedung Indonesia Menggugat, Saksi Bisu Soekarno Menentang Kolonialisme

3 Agustus 2021   14:33 Diperbarui: 3 Agustus 2021   20:32 528
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika Anda pergi ke Bandung, tidak jauh dari Balai Kota, terdapat satu bangunan yang mengandung nilai sejarah. Gedung tersebut dulunya merupakan Landraad, atau pengadilan pada masa kolonialisme Belanda.

Bapak pendiri bangsa Indonesia yaitu Soekarno pernah diadili di gedung tersebut. Ketika kuliah di Bandung, Bung Karno fokus pada perjuangannya demi Indonesia meraih cita-cita kemerdekaan.

Di Bandung pula, Soekarno menemukan satu gagasan yang disebut dengan marhaenisme. Marhaen terinspirasi dari petani asal Sunda yang bernama Kang Aen.

Rakyat Marhaen adalah mereka yang bekerja untuk dirinya sendiri. Hasil dari pekerjaan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Alat produksi memang punya sendiri, tetapi tidak sanggup jika harus membayar upah pada orang lain.

Marhaen sendiri merupakan paham sosialisme yang disesuaikan dengan kultur Indonesia. Di Bandung pula, Soekarno mendirikan partai politik yang menjadi kendaraan berjuangnya yaitu PNI.

Berasama denga PNI, Bung Karno sering melakukan rapat guna merancang strategi melawan kolonialisme. Tidak ada yang menyangkal dengan kepiawaian Bung Karno saat pidato.

Tidak heran jika Bung Karno disebut dengan singa podium. Ketika Bung Karno berpidato, semuanya khusyuk mendengar dan membuat jiwa nasionalisme terbakar.

Kemampuan tersebut mampu mengumpulkan beribu-ribu orang dalam satu lapangan. Namun, bagi pihak Belanda sendiri, Soekarno merupakan ancaman. Maka tidak heran gerak geriknya selalu diawasi.

Setiap kali Soekarno berpidato, pastilah ada beberapa polisi yang mengawasinya. Para polisi tersebut dengan teliti mencatat pidato Bung Karno. Diceritakan, ketika itu Bung Karno hendak pulang dan naik sepeda, tetapi dibuntuti oleh polisi.

Menurut Bung Karno, ini adalah hiburan baginya. Bung Karno lantas membawa polisi tersebut ke jalan sempit di sawah. Sang polisi tersebut tidak bisa meninggalkan sepeda tanpa ada yang menjaganya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bandung Selengkapnya
Lihat Bandung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun