Mohon tunggu...
Dani Ramdani
Dani Ramdani Mohon Tunggu... Lainnya - Ordinary people

Homo sapiens. Nulis yang receh-receh. Surel : daniramdani126@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Hardiknas 2021, Saatnya Bicara Riset dan Teknologi Bukan (Lagi) Ideologi

2 Mei 2021   19:51 Diperbarui: 7 Mei 2021   16:16 675
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi seorang ilmuwan tengah mengembangkan vaksin. (SHUTTERSTOCK/Blue Planet Studio) via Kompas.com

Bukan rahasia lagi, riset dan inovasi merupakan salah satu kunci pertumbuhan ekonomi. Dihimpun dari kumparan, rilis Global Inovation Index (GII) pada 2020, Indonesia berada di urutan ke-85 dari 131 negara paling inovatif di dunia.

Peringkat tersebut jelas begitu rendah. Bahkan di ASEAN sendiri Indonesia menempati urutan terendah kedua di atas Kamboja. Sungguh memilukan. 

Padahal pengetahuan dan teknologi (iptek) terus berkembang dan tidak bisa dibendung. Mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan tersebut, jika tidak maka akan digilas oleh zaman.

Di negara-negara maju iptek merupakan tulang punggung bagi kemajuan bangsa, jangan mengambil contoh terlalu jauh seperti Amerika atau Jepang. Negara tetangga kita Singapura sudah menerapkan ini.

Iptek bisa tumbuh dengan subur terutama dalam lingkungan akademis. Hubungan yang harmonis antara berbagai institusi terkait telah menumbuhkan tradisi ilmiah. Tradisi tersebut menjadi budaya dan terus berkembang.

Tradisi ilmiah tersebut diharapkan bisa tumbuh di masyarakat kita. Akan tetapi, untuk menumbuhkan tradisi ilmiah dan budaya riset di Indonesia masih terkendala dengan beberapa masalah yang harus dibenahi. 

Biaya riset yang mahal menjadi salah satu faktor mengapa budaya riset sulit berkembang di Indonesia. Beberapa riset membutuhkan ongkos yang tidak sedikit. Masih menurut GII, dana riset yang digelontorkan pemerintah Indonesia untuk riset sebesar 0,25 persen dari PDB. Hal itu masih jauh dibandingkan dengan negara lain.

Di beberapa negara lain, riset justru didanai oleh swasta. Kondisi ini terbalik, di Indonesia penyumbang terbesar dana riset masih negara. Sebut saja di Amerika sana, orang terkaya di Amerika berlomba-lomba membiayai riset untuk perkembangan iptek, sekalipun riset tersebut ingin meredupkan cahaya matahari.

Masalah lain yang harus dibenahi adalah kita masih berkutat dengan ideologi. Permasalahan ideologi seharusnya sudah tuntas. Kita masih saja disibukan dengan isu bangkitnya ideologi bapak-bapak berjenggot tebal yang sebenarnya sudah tidak laku.

Kita masih saja berkutat dengan intoleransi dan perang melawan radikalisme. Bukan maksud menganggap remeh hal ini, tetapi untuk masalah intoleransi seharusnya sudah selesai sejak negara ini merdeka.

Negara lain sudah memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di planet lain dan membuat oksigen di sana, bahkan sudah beranjak pada rekayasa genetika dan menciptakan kecerdasan buatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun