Mohon tunggu...
Teuku Rahmad Danil Cotseurani
Teuku Rahmad Danil Cotseurani Mohon Tunggu...

Pribadi yang menyenangkan dan suka berinteraksi dengan orang lain. jadilah, langkah pertama menentukan langkah selanjutnya.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Warung Kopi Cyber di Aceh

10 Desember 2015   07:41 Diperbarui: 10 Desember 2015   08:06 160 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Teuku Rahmad Danil Cotseurani

“Jak Lom U Banda Aceh” atau kunjungi lagi ke Aceh, belum lengkap jika kita tidak sempat ngopi di warung kopi (warkop) yang notabenenya khas daerah yang paling ujung pulau Sumatera ini, dimana jumlah waarung  kopi semakin bertambah dan menunjukan trend yang meningkat dari tahun ketahun. Masyarakat Indonesia dan dunia pada umumnya yang telah bekerja pada saat masa rehab rekon dan berkunjung ke Aceh, pasti sudah mencicipi cita rasa khas kopi Aceh dan kopi Gayo.

Bagi para pekerja kemanusiaan saat itu duduk dan ngopi di warung kupi merupakan agenda rutin, bahkan ada yang bilang warung kupi adalah kantor kedua. Masyarakat Aceh juga demikian baik yang ada di kampong sampai kota, nongkrong diwarung kopi merupakan rutinitas, hal ini juga berlaku bagi para pejabat sampai Gubernur. Posisi warung kopi sudah dianggap tempat yang representative untuk agenda tertentu dan menjamu tamu diluar kantor sambil santai.

Fenomena tersebut menguntungkan bagi para pengusaha warkop yang lama, pengusaha yang baru membuka warkop dan pengusaha yang merambah sektor ini. Karena dianggap lebih menguntungkan dan potensial. Hal ini wajar dalam dunia bisnis disamping membuka lapangan kerja bagi pemuda-pemudi Aceh juga berimbas pada pendapatan asli daerah (PAD) dan tempat berkumpul komonitas-komonitas dalam masyakat.

Perkembangan warkop di Aceh sangat pesat ditambah lagi denga menyediakan fasilitas wifi/hotspot untuk memanjakan pengunjung. Kehadirannya juga mendongkrak bertambahnya jumlah warkop, caffe dan restoran sejenis. Disamping itu permintaan akan laptop/note book meningkat di Banda Aceh khususnya dan Aceh pada umumnya. Dapat kita lihat disejumlah warkop yg punya wifi disebut warkop cyber, pengunjungnya asyik dengan laptop/note book di meja masing-masing. Demam facebook akhir-akhir ini jugab berimbas pada peningkatan permintaan laptop di Aceh, tapi hal tersebut kurang begitu terasa di kota Medan, yang nota benenya kota nomor tiga di Indonesia. Pesona facebook dan warkop cyber telah menghipnotis masyarakat Aceh untuk maju selangkah dibandingkan daerah lain. Tentu saja fenomena ini punya dua sisi mata uang,ada sisi positif dan negatifnya, Cuma tergantung pribadi masing-masing dalam menggunakan fasilitas dan teknologi bidang informasi teknoligi (IT) ini.

Kita tentu masih ingat ketika MPU dan Dinas Syariat Islam mencoba mengkaji unsur judi dalam salah satu game online yang ada di fasilitas facebook tersebut, tapi sampai sekarang belum ada titik temu. Para mahasiswa, pekerja NGO yang tersisa, PNS bahkan masyarakat umum sangat menikmati game tersebut, dimana bisa bermain game dalam waktu bersamaan dengan sejumlah orang diberbagai tempat. Indikasi adanya praktek judi online belum dapat dibuktikan dan memang belum pernah ada razia oleh instansi terkait, semoga saja tidak ada praktek judi, karena Aceh adalah daerah bersyariat katanya. Pengaruh lain yang sudah pasti bagi para gameer adalah melalaikan waktu, lupa waktu karena keasyikan bermain, juga ada warkop yang membuka 24 jam. Hal ini berpulang kembali ke person masing-masing, jangan karena game lupa waktu shalat, kerjaan dan anak istri dirumah. Karena arus informasi dan teknologi tidak dapat ditolak, tapi ada filter dan control dari kita.

Semoga saja pencitraan Aceh dengan kehadiran warung kopi cyber dapat menarik wisatawan berkunjung ke Aceh dan ngopi dengan cita rasa kopi Aceh/Gayo dan berkunjung ke tempat-tempat wisata lainnya di provinsi Aceh.

*) adalah

Internal Auditor ASDC

Bireuen-Aceh-Indonesia 24251

VIDEO PILIHAN