Mohon tunggu...
Dani Fitriyani
Dani Fitriyani Mohon Tunggu... Perempuan

I'm Nothing

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sekolah dan Sinau

20 Mei 2019   10:05 Diperbarui: 20 Mei 2019   10:09 0 0 0 Mohon Tunggu...
Sekolah dan Sinau
sumber: insta-stalker.com

Tak jarang kita selalu mengaitkan kegiatan sinau/belajar dengan sekolah. Lalu apakah belajar itu memang harus dan hanya bisa dilakukan di sekolah?. Tidak. Secara spontan saya mengatakan tidak.Secara umum, sekolah diartikan sebagai tempat atau lembaga yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sedangkan belajar adalah kegiatan atau usaha untuk memperoleh ilmu ataupun kepandaian.

Terlalu sempit memang jika kita mendefinisikan belajar hanya pada lingkungan sekolah. Nyatanya, kekinian sekolah kadang tak berinti pada iktikad belajar, namun lebih ke cari ijazah. 

Sedangkan sinau (baca: belajar) tak terbatas pada ruang dan waktu. Bahkan dengan diri kita sendiri, kita dapat menciptakan universitas pada diri kita. Untuk ruang yang lebih luas, kita bisa belajar bersama keluarga, kawan, alam, dan bahkan belajar dari masalah-masalah yang mungkin orang lain enggan menolehnya.

Mungkin tak berlebihan jika kukatakan bahwa sekolah "hanyalah'" sebagian kecil dari tempat untuk melaksanakan kegiatan belajar. Yang nantinya selain mendapatkan pengetahuan, juga bisa jadi mendapatkan pengakuan. Pengakuan yang kadang nihil dalam mewujudkan ekspektasi yang dielu-elukan. "Nak, sekolah yang tinggi, biar dapat ijazah, lalu dapat kerja bagus, dapat uang banyak". 

Eits, terlalu sempit untuk melianglahatkan kegiatan belajar dengan cita-cita serupa. Hal tersebut terlalu sempit untuk sesuatu yang disebut dengan "cita-cita", dan terlalu luas untuk mewujudkan kemungkinan kecewa.

Dan menurut pemahamanku dari berbagai ucapan orang-orang bijak, bahwa kegiatan belajar adalah untuk belajar itu sendiri. Menekuni suatu bidang tertentu dan menjadikan kita ahli di dalamnya, akan membuat orang lain mencari kita, selanjutnya uang akan ia berikan secara sukarela sebagai ungkapan terimakasih atas kemanfaatan yang kita berikan kepadanya. Alhasil kita mungkin tak akan mengotori tujuan hidup kita dengan orientasi keduniawian.

Titik puncaknya jelas, bahwa belajar itu berpuncak pada niat pengabdian kepada Tuhan (dalam hubungan vertikal), dan kemanfaatan untuk makhluk lain (dalam hubungan horizontal).