Mohon tunggu...
Daniel SetyoWibowo
Daniel SetyoWibowo Mohon Tunggu... Tutor kelompok belajar anak-anak

Seorang warga negara Indonesia yang mau sadar akan kewarganegaraan dengan segala ragam budaya, agama, aliran politik, sejarah, pertanian / kemaritiman tetapi dipersatukan dalam semangat nasib dan "imagined communities" yang sama Indonesia tetapi sekaligus menjadi warga satu bumi yang sama.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

(Tinjauan Buku) "Amarah" Karya John Steinbeck

13 Agustus 2019   12:10 Diperbarui: 13 Agustus 2019   12:16 0 3 1 Mohon Tunggu...
(Tinjauan Buku) "Amarah" Karya John Steinbeck
Foto: Dokpri

Apa salahnya menyusui tua bangka yang sekarat agar bisa tetap hidup dari teteknya sendiri sementara bayinya sendiri yang baru saja lahir ternyata mati? Dunia ini memang terbalik-balik! Mungkin demi  kebaikan dalam keterpaksaan dan ketakberdayaan? Tidak pernah terpikirkan apalagi terbayangkan. 

Tapi, John Steinbeck dengan cerdasnya membawa kita pada dunia yang semacam itu. Dan, apa jawabannya? "Kau harus," katanya. Ia menggeliat lebih dekat dan menarik kepala laki-laki itu di dekatnya. "Nah !" katanya. "Di situ." Tangannya bergerak ke belakang kepalanya dan menopangnya. Jari-jarinya bergerak dengan lembut pada rambutnya. Ia melihat ke atas, ke seputar gudang itu, dan bibirnya merapat dan tersenyum dengan misterius (hal. 396).

Bagaimana bisa dipahami tanaman anggur harus dihancurkan atau jutaan jeruk harus dibuang. Kentang, jagung, kopi harus dibuang atau dibakar untuk semata-mata menjaga dan menaikkan harga, sementara orang-orang di sekelilingnya kelaparan? Pemenang Nobel di bidang sastra ini menjawabnya, "...dan dalam mata orang yang kelaparan ada amarah yang semakin besar. Di dalam jiwa orang-orang itu anggur kemurkaan sedang tumbuh dan semakin hebat, semakin berat untuk dipanen." (hal. 233).

Bagaimana dapat dipahami ketika ada pekerjaan untuk satu orang, ratusan lainnya memperebutkan - berebut dengan upah serendah-rendahnya ? Upah semakin rendah, tetapi harga-harga kebutuhan pokok tetap tinggi atau semakin tinggi ? Semakin banyak pencari kerja, semakin rendah upahnya. Buku yang sempat memenangkan Hadiah Pulitzer ini menjawabnya.

"Perusahaan-perusahaan besar tidak mengetahui bahwa batas antara rasa lapar dan amarah adalah garis tipis. Dan uang yang seharusnya menjadi upah mengalir untuk bensin, senjata, untuk agen dan spion, untuk daftar hitam, untuk latihan. Di atas jalan-jalan raya orang bergerak seperti semut dan mencari pekerjaan, demi sesuap makanan. Dan, kemarahan itu mulai meragi." (hal. 130)

Dengan menampilkan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban seperti di atas, buku berjudul Amarah kiranya membawa pembacanya pada jatuhnya martabat manusia sampai di titik nadir. Bagaimana kalau sudah sampai taraf itu? Masa depan bahkan masa kinipun kabur. Tiada pengharapan lagi. 

Dan, bagaimana kalau pengharapan sudah tidak ada lagi? Batas antara yang boleh dan tidak, baik dan buruk, yang kuat dan yang lemah, yang suci dan profan, yang tua renta dan bayi, tidak ada lagi. Di titik paling rendah itulah, martabat kemanusiaan, keilahian manusia, sudah tak berharga lagi.

Awal Kisah

Amarah diawali dengan kisah kembalinya Tom Joad dari penjara karena membunuh orang. Ia dilepas dalam masa percobaan karena kelakuannya yang baik. Di luar penjara pun keadaannya lebih berat dibanding di penjara. 

Ia menemukan rumah dan tanah keluarganya hancur berantakan digusur traktor, kepanjangan tangan kekuatan abstrak yang dilembagakan sebagai bank. Keluarganya berantakan harus mengungsi ke tetangganya yang masih tersisa. Di sinilah ia bertemu Casy, yang meninggalkan kependetaanyan dan yang tidak yakin akan pengharapan.

Tanah adalah satu-satunya penghidupan turun temurun keluarga Joad. Mereka adalah petani di daerah tandus di Oklahoma. Karena itu, mereka disebut "Okies". Tapi, tanah mereka sekarang bukan tanah milik mereka lagi. Memang ada Al yang ingin meninggalkan pertanian dan belajar ke industri, yaitu jadi montir, tetapi pekerjaan yang tersedia dan itupun diperebutkan banyak orang hanyalah buruh petik buah atau kapas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3