Daniel Ronda
Daniel Ronda Dosen Teologi

Dosen Teologi, tinggal di kota Makassar

Selanjutnya

Tutup

Politik

Istana dan Obor

2 Juli 2014   16:47 Diperbarui: 18 Juni 2015   07:50 89 0 3

Tersebutlah sebuah kerajaan yang sedang menanti hari pemilihan raja. Kerajaan ini unik karena setiap satu dekade ada pemilihan raja, di mana tidak otomatis ketika raja turun sang anak atau keturunan menggantikannya. Mekanisme mencari raja baru dilalui lewat partai yang bertanding dengan nama demokrasi. Sudah lumayan baik kerajaan ini berhasil melalui proses demokrasi ini setelah pernah kerajaan ini dipimpin sang diktator selama 30 tahunan. Namun raja gundah gulana dan galau alang kepalang. Bagaimana tidak? Sang raja yang baik dan santun telah berhasil memimpin negeri ini selama dua dekade. Raja pusing karena berharap penggantinya akan menjaga dia dan keluarganya setelah dia turun. Bukan rahasia bahwa banyak gosip beredar keluarga sang raja terlibat banyak kasus korupsi dan segera akan ditangkap lembaga rasuah di kerajaan ini. Namun dengan hanya ada 2 calon raja tentu mengecewakan hati sang raja, apalagi partai yang dibentuknya berharap memunculkan calon malah jeblok waktu pemilihan wakil rakyat kerajaan. Ada dua calon raja akhirnya yang muncul: sang calon raja yang kerempeng, tapi ternyata populer tapi jujur bukan main. Hidupnya sederhana dan sangat merakyat. Popularitasnya sangat luar biasa karena didukung rakyat. Calon yang lain kelihatan garang karena pernah terlibat menjadi salah satu pemimpin laskar kerajaan. Sempat melarikan diri lama ke negeri entah berantah, sebelum akhirnya balik menjadi saudagar. Sangat rajin sekali beriklan karena harta yang melimpah dan iklannya menggambarkan ketegasan untuk menggantikan sang raja sekarang yang dikesankan plin plan, ragu-ragu dan kurang tegas. Rakyat rupanya bersimpati juga. Raja yang sekarang menjadi gundah, karena si kerempeng tidak mau didekati. Sedangkan di garang mau didekati walau hati belum sreg. Tapi rasanya lebih baik si garang, karena dia ambil wakil raja dari keluarganya juga. Paling tidak ada yang akan melindunginya. Begitulah pikiran sang raja. Kegundahan sang raja ini diketahui para abdinya.

Alhasil suatu ketika abdi istana kerajaan dan para begundalnya datang melapor kepada raja. Para begundal ini menguasai berbagai proyek, beras, sembako, minyak, bibit, dan daging rakyat. Mereka merasa si kerempeng akan membuat mereka kehilangan untuk tetap menguasai sistem korup perdagangan ini. Raja tahu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menghadap raja dan memberi solusi kemungkinan untuk menolong si garang mengalahkan si kerempeng. Abdi istana kerajaan membawa juga para penyihir handal. Mereka melaporkan bahwa satu-satunya cara mengalahkan si kerempeng dengan membuat obor. Obor yang terbuat dari bambu dan minyak ini di tangan penyihir akan membuat rakyat yang kita kasih obor ini akan membenci si kerempeng.
Raja bertanya, “Bagaimana bisa?”
Abdi dalem menjawab: “Bisa tuanku. Dengan dibantu para penyihir dengan mantranya maka rakyat akan benci karena di api obor itu sudah ditaruh mantra kebencian agama, ras dan suku”.
“Kita tambah ilmu minyak sihir yang membuat si kerempeng terlihat sebagai pencitraan dan tidak amanah waktu jadi adipati dan bupati di karesidenan,” tambah sang abdi dalem lainnya.
“Bagaimana kalau ketahuan yang membuatnya dari istana?” tanya sang Raja.
“Ooo gampang, seperti biasa kita sangkali. Dan kita akan siapkan surat maklumat bahwa yang bersangkutan sedang cuti dari tugasnya sebagai orang pintarnya abdi dalem,” kata salah satu abdi dalem yang lain.
Raja bertanya lagi, “bagaimana dengan kepala pamong praja? Dia kan keperintahkan sebagai pengadil yang baik?”.
Abdi dalem menimpali: “Kepala pamong praja sudah kusumpali dengan uang raja. Mereka pasti akan diam. Sudah saya bisikkan bahwa raja minta ulur-ulur waktu saja. Kepala pamong sudah aman, mereka di pihak kita. Memang orangnya penakut.”
Raja tambah galau. Dalam kegalauan itu, sang abdi menambahkan: “Yang penting tuanku diam saja. Terus pidato di mana-mana bahwa pemiilihan raja harus adil, hentikan fitnah, utamakan kejujuran. Rakyat masih percaya tuanku netral. Yang penting tuanku jangan buka rahasia dan jangan perintahkan tangkapi kami. Di masa ini, diam itu emas untuk tuanku”.
“Ya sudah, kalau nanti si kerempeng terpilih paling tidak aku sudah buktikan diri netral dan adil”, kata Raja dengan nada miris.
“Ya tuanku, setuju”, teriak semua abdi dalem istana dan para begundalnya.

Mulailah obor bambu yang berisi minyak dan api yang disertai mantra penyihir disebarkan ke semua rakyat, sehingga muncul kebencian kepada si kerempeng. Namun mereka lupa bahwa masih ada para pandita putih yang tidak bisa dibayar, para punggawa bersih dan jujur, para ksatria dan cerdik pandai di negeri kerajaan yang ikut turun mematahkan mantra para penyihir. Sempat obor ini membuat gejolak, namun rakyat sudah punya cara melindungi diri dari sihir jahat dari obor api istana ini. Rakyat marah, tapi bukan marah kepada raja. Marah dan kecewa sang raja membiarkan obor itu terus diedarkan kepada rakyat. Rasanya kemarifatan selama dua dekade hilang gara-gara obor. Sudah saatnya rakyat akan melawan kezaliman dan berharap sang raja menjadi sadar dan sungguh kembali menjadi raja yang netral. Alangkah berwibawanya sang raja jika turun menghantarkan raja baru naik tanpa dilumuri kekotoran nafsu berkuasa, kecurangan dan nista kebohongan. Rakyat menunggu apakah ini akan menjadi hari kemenangan sang raja atau hari penghukumannya