Mohon tunggu...
Daniel Mashudi
Daniel Mashudi Mohon Tunggu... Kompasianer

Lifelearner. E-mail: daniel.mashudi@yahoo.com Twitter, IG: @samLeinad

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Merayakan Pram di Bumi Manusia

15 Agustus 2019   21:50 Diperbarui: 15 Agustus 2019   21:52 0 3 1 Mohon Tunggu...
Merayakan Pram di Bumi Manusia
Sumber: jogja.tribunnews

Selasa (13/8) yang lalu saya sempat buru-buru datang ke bioskop untuk menonton film Bumi Manusia. Saya melihat di aplikasi online, film ini sudah nongol di daftar tayang, tanpa mengecek terlebih dahulu kapan hari tayangnya. 

Saya akhirnya harus keluar dari tempat tersebut setelah mengetahui Bumi Manusia baru tayang Kamis ini (15/9). Untung saja jarak bioskop tidak jauh dari rumah. Dan hari ini saya akhirnya bisa menonton film keren ini, yang berdurasi 3 jam. Cukup lama, namun tak sedikit pun terasa membosankan.

Saya masih ingat, tahun lalu di media sosial dan blog sempat ramai ketika novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini akan dilayarlebarkan. Banyak penggemar Pramoedya yang protes terhadap pemilihan aktor utama, Iqbaal Ramadhan yang akan memainkan tokoh Minke. 

Alasan utamanya karena karakter Iqbaal dianggap kurang cocok buat memerankan Minke. Iqbaal memang sudah terlanjur dikenal sebagai Dilan, anak SMA yang suka berkelahi. Karakter yang berbeda jauh dengan Minke di BM, seorang pemuda terpelajar yg penuh karisma.

Kekuatan film Bumi Manusia ini tentu saja pada jalan ceritanya. Saya akan sedikit saja menulisnya di postingan ini. Minke (Iqbaal Ramadhan), anak  seorang Bupati di Jawa yang juga bersekolah di HBS bersama anak-anak keturunan Belanda. 

Minke jatuh cinta dengan Annelies Mellema (Mawar de Jongh), seorang wanita blasteran, anak dari ibunya bernama Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) yang berdarah Jawa dan bapaknya bernama Herman Mellema yang seorang Belanda. Nyai Ontosoroh sendiri adalah gundik dari Herman Mellema, dan Herman juga mempunyai istri di Belanda.

Ayah Minke (Donny Damara) tidak menyukai kedekatan Minke dengan Nyai tersebut, karena status Nyai dianggap rendah di mata sosial. Sebaliknya, Minke malah mengagumi pemikiran Nyai yang revolusioner untuk melawan hagemoni bangsa Eropa. 

Kisah cinta Minke dan Annelies berlanjut hingga keduanya menikah. Permasalahan muncul saat Herman Mellema meninggal. Pernikahannya dengan Nyai Ontosoroh dianggap tidak sah di mata hukum kolonial saat itu. Hubungan pernikahan Minke dan Annelies juga dipandang tidak sah. 

Pengadilan memutuskan Annelies harus kembali ke Belanda untuk mendapatkan pengasuhan yang sah sesuai hukum. Perlawanan dilakukan Minke dan Nyai Ontosoroh di pengadilan, namun mereka akhirnya tetap kalah.

Tentang akting dari para pemain film Bumi Manusia, saya cukup puas. Iqbaal cukup lumayan memerankan Minke. Yang paling mengesankan justru akting Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Ine bisa menggambarkan sosok Nyai sebagai wanita yang kuat dan tangguh. Pemeran-pemeran film ini banyak menggunakan orang Belanda. Sang Sutradara, Hanung Bramantyo, memang sengaja melakukan casting di Belanda untuk memperkuat film Bumi Manusia yang dibuatnya.

Banyak dialog di Bumi Manusia yang memiliki kedalaman makna. Misalnya, "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan," kata Jean Marais (sahabat Minke), saat sedang mendengar Minke yang menceritakan perasaannya terhadap Annelies dan Nyai Ontosoroh.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x