Mohon tunggu...
Daniel H.T.
Daniel H.T. Mohon Tunggu...

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Novel

Life of Pi: Kisah yang Membuat Orang Percaya pada Tuhan

20 November 2012   15:24 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:59 0 1 0 Mohon Tunggu...
Life of Pi: Kisah yang Membuat Orang Percaya pada Tuhan
13534238131035118919

[caption id="attachment_210435" align="aligncenter" width="497" caption="Novel LIFE OF PIE, Gramedia, 2012 (Foto milik pribadi)"][/caption]

Kisah ini akan membuat orang percaya kepada Tuhan.

Demikian adalah penggalan kalimat yang diucapkan oleh salah satu tokoh di dalam sebuah novel yang berjudul Life of Pi. Sebuah novel drama petualang sangat luar biasa, yang penuh dengan filosofi hidup berkualitas tinggi, bagaimanakah manusia itu ketika benar-benar merasakan bisa menyentuh Tuhan.

Novel yang terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama ini baru saja saya selesai membacanya. Novel karangan Yann Mattel (2001) ini sebenarnya sudah pernah terbit edisi bahasa Indonesianya oleh penerbit yang sama pada November 2004. Sampai dengan November 2007 mengalami cetak ulang yang keempat kalinya. Dan, dicetak lagi untuk kelima kalinya pada November 2012. Cetakan kelima inilah yang saya baca. Cetakan kelima ini diterbitkan tentu saja tidak lepas dari karena novel ini telah difilmkan, dan dalam November 2012 ini juga sudah bisa disaksikan di layar-layar bioskop di seluruh dunia (tanggal 21 November 2012 di AS).

Film yang dirilis dalam format 3D dan format 2D ini disutradarai oleh sutradara pemenang Oscar asal taiwan, Ang Lee. Ang Lee mengaku bahwa ini adalah film tersulit yang pernah dia buat. Bagaimana menuangkan makna filosofi spritual, teologi, zoologi, dan ilusi yang begitu tinggi maknanya di novel tersebut ke dalam sebuah film. Namun demikian, dari trailer yang kita saksikan, kita tak perlu ragukan lagi bahwa Ang Lee telah berhasil melakukannya dengan baik.

Novel setebal 446 halaman (edisi bahasa Indonesia) ini mengisahkan petualang luar biasa tak terkirakan, nyaris ajaib, dari seorang anak laki-laki India, bernama  Piscine Molitor Patel, yang oleh keluarganya biasanya dipanggil dengan nama depannya, Piscine. Tetapi karena di sekolahnya namanya itu disalahucapkan atau dengan sengaja plesetkan dengan Pissing, dalam bahasa Inggris, yang artinya “kencing.” Maka, di dalam setiap perkenalannya di kelas, Piscine selalu menyampaikan dengan cara menulis di papan tulis tentang penglafalan namanya yang benar. Dia menulis namanya dengan “Pi Patel,” yang diikuti dengan menulis konstanta (lambang dalam matematika, -- perbandingan antara diameter dan keliling sebuah lingkaran), sebagai penegasannya.

Pi tinggal di kota Pondicherry, India, bersama kedua orangtuanya dan seorang kakak laki-lakinya bernama Ravi Patel. Ayah Pi adalah pemilik dan sekaligus pengurus dari sebuah kebun binatang di kota tersebut. Suatu ketika ayahnya berencana untuk pindah bersama seluruh keluarganya ke Kanada, dengan terlebih dulu menjual seluruh koleksi kebun binatangnya. Alasan ayahnya untuk pindah adalah untuk kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya, karena merasa India di bawah kepimpinan PM Indira Gandhi adalah sebuah kehidupan yang tidak nyaman.

Banyak koleksi penting kebun binatang mereka itu dibeli oleh beberapa kebun binatang dari beberapa kota Amerika Serikat. Binatang-binatang itu dikirim dengan sebuah kapal cargo milik Jepang berbendera Panama, bernama Tsimtsum. Para perwira kapalnya terdiri dari orang-orang Jepang, sedangkan ABK-nya terdiri dari orang-orang Taiwan. Bertolak dari pelabuhan Madras, India menuju Kanada. Keluarga Pi berangkat bersama kapal tersebut. Ayahnya sekaligus bertugas untuk mengurus binatang-binatang tersebut selama perjalanan. Saat itu Pi berusia 16 tahun.

Ini adalah 3 gambar dari film "Life of Pi" :

[caption id="attachment_210436" align="aligncenter" width="460" caption="Pi Patel (Suraj Shalma) dan Richard Parker, si harimau Royal bengal (sumber: imdb.com)"]

1353426178323834160
1353426178323834160
[/caption] [caption id="attachment_210437" align="aligncenter" width="509" caption="(sumber: apnatimepass.com)"]
13534246251675162277
13534246251675162277
[/caption] [caption id="attachment_210439" align="aligncenter" width="420" caption="(Sumber: soundonsight.org)"]
13534266781232081583
13534266781232081583
[/caption]

Pada 21 Juni 1977, Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Kanada. Pada 2 Juli 1977, kapal itu diterpa badai dahsyat, dan tenggelam di Samudera Pasifik. Hanya ada satu sekoci yang berhasil diturunkan, membawa penumpanngnya, yang terdiri dari Pi,  seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan, seekor hyana tutul yang ganas, dan seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kilogram.

Selama lebih dari tujuh bulan, atau 227 hari sekoci itu terombang-ambing di tengah-tengah Samudera Pasifik yang biru, seolah tanpa tepi, sangat dalam dan  ganas itu. Selama itu pulalah kisah petualang Pi berlangsung. Kisah yang sangat luar biasa dan penuh keajaiban itu, yang membuat seorang tokoh di novel itu berkata, kisah ini akan membuat orang percaya kepada Tuhan.

Mulai dari pengalaman luar biasa nan mengerikan Pi menyaksikan hewan-hewan di atas sekocinya itu yang saling memangsa di depan matanya, termasuk menjadikan dirinya sebagai sasaran berikutnya, fenomena pemandangan alam Samudera Pasifik dan penghuninya yang bagaikan berada di dunia dongeng, sampai dengan perjuangan hidup Pi di atas sekoci bersama dengan Richard Parker, nama harimau Royal Bengal itu.

Kisah perjuangan hidup-mati yang menakjubkan Pi bersama Richard Parker di atas sekoci di Samudera Pasifik selama 227 hari itu (2 Juli 1977 – 14 Februari 1978) itulah yang menjadi inti cerita Life of Pi ini.

Bagaimana Pi bisa hidup bersama dengan seekor harimau seberat 225 kilogram di atas sekoci yang sempit itu, di alam samudera yang seolah tanpa tepi itu? Hiu-hiu yang berseliweran di bawah permukaan laut. Siang udaranya luar biasa panasnya, sedangkan malam, luar biasa dinginnya. Persediaan makanan dan minuman yang semakin menipis dan akhirnya habis. Badai besar yang masih datang menerjang.

Ribuan ikan terbang yang meloncat terbang dari dalam laut  melintasi dan menabrak mereka (Pi dan Richard Parker). Ikan-ikan terbang itu  sedang dikejar ikan-ikan dorado untuk dimangsa, dan di belakang ikan-ikan dorado itu,  ada hiu-hiu yang mengejar mereka  untuk dimangsa pula. Puluhan ikan paus dan lumba-lumba yang berenang dan berloncatan bagaikan bermain di sirkus raksasa di tengah keheningan samudera. Cahaya-cahaya kehijau-hijauan yang ajaib.

Menemukan Pulau Ganggang di Samudera Pasifik dengan pohon-pohon karnivoranya. Di pulau itu ada ganggang pemakan ikan dan penghasil air tawar, dan ada binatang-binatang pengerat akuatik, bentuknya mirip meerat, semacam luwak, pemakan ikan-ikan mati, yang tinggal di atas pohon.

Dan seterusnya.

Terutama sekali tentu saja pengalaman hubungan antara Pi dengan Richard Parker, si harimau Royal Bengal seberat 225 kilogram itu. Awalnya, tentu saja Pi sangat ketakutan berdua dengan harimau besar itu. Sampai-sampai dia membuat rakit dari pelampung-pelampung yang ada di sekoci tersebut, mengapungkan dan naik di atasnya. Menjauh dari sekoci tersebut dengan seutas tali tetap menyambungkan rakitnya dengan sekoci itu.

Sementara itu sang harimau pun mengincar Pi untuk dijadikan santapannya.

Tetapi, seiring berlalunya waktu, ternyata kedua makhluk berlainan spesies ini merasa senasib, dan  saling membutuhkan. Saling membutuhkan teman di tengah-tengah keheningan Samudera Pasifik.

Pi, bahkan kemudian merasakan kehadiran harimau itu justru menjadi motivasinya untuk terus berjuang hidup. Rencananya yang semula untuk bagaimana caranya melenyapkan harimau itu dari hadapannya untuk selama-lamanya, dengan prinsip “saya atau dia”, berubah menjadi “saya dan dia.”

Dari peralatan yang terdapat di sekoci penyelamat itu Pi kemudian belajar menyulingkan air laut menjadi air tawar yang bisa diminum, memancaing ikan, menangkap penyu-penyu besar yang berenang di permukaan laut, mengkulitinya, dan memakan dagingnya mentah-mentah. Pi juga minum darah penyu yang ditangkapnya. Dari buku petunjuk yang ada di sekoci, Pi diberitahu bahwa darah penyu segar bagus untuk stamina. Buku itu juga mengingatkan agar jangan kencing di celana, karena akan segera kering di badan, badan akan terasa gatal-gatal, diikuti dengan timbulnya kudisan dan luka-luka. Ada banyak petunjuk di buku itu yang membantu Pi bisa bertahan hidup lebih lama.

Pi juga selalu berbagi ikan-ikan dan daging penyu-penyu itu dengan Richard Parker. Tentu saja bagian Richard Parker selalu jauh lebih besar.  Sebelumnya, seluruh makanan kering dan minuman yang tersedia di sekoci penyelamat itu telah habis semuanya dikonsumsi  Pi. Dengan Pi selalu memberinya makan dan minum itulah si harimau Royal Bengal pun merasa membutuhkan Pi, dan tak berniat memangsanya.

Kemudian Pi pun berpikir dan berupaya untuk bisa menaklukkan Richard Parker seperti seorang pelatih sirkus dengan harimaunya dengan pluit yang diperoleh dari sekoci. Sebagai anak dari pengurus kebun binatang, Pi pun mengerti bahwa harimau biasanya menandakan daerah kekuasaannya (teritorinya) dengan cara mengencingi lokasi tersebut. Pi pun meniru cara harimau itu, dengan mengencingi teritorinya, di bagian lain di sekoci itu. Kedua makhluk itu pun tidak saling melanggar wilayahnya masing-masing.

Richard Parker tidak lagi memperlihatkan permusuhannya dengan mengeluarkan suara auman rendah, yang disebut Prusten. Sebagai isyarat untuk mengajak bersahabat dengan Pi.

Tapi, sampai kapan? Sampai kapan hubungan baik itu bisa berlangsung, dan yang terpenting dari semua itu, sampai kapan mereka bisa bertahan hidup? Halusinasi pun sering datang pada Pi. Kemeja dan celana Pi perlahan-lahan mulai lapuk termakan panasnya matahari dan hawa air laut, sampai akhirnya benar-benar hancur. Pi tak berbusana sama sekali. Selimut yang ada pun bernasib sama. Sebagai pengganti untuk melindunginya dari hawa dingin dan panas Pi menggunakan rumah-rumah penyu yang berhasil ditangkapnya itu.

Tetapi penderitaan masih terus berlangsung, tubuh Pi mulai lecet-lecet dan bisul-bisul, bernanah, di banyak tempat. Tubuhnya kurus kering. Demikian juga dengan Richard Parker. Bahkan mata kedua makhluk berlainan spesis itu pun juga mulai mengeluarkan nanah. Mereka berdua mulai kehilangan penglihatannya.

*

Ketika Pi akhirnya selamat, terdampar dan ditemukan di pantai sebuah desa di Mexico pada 14 Februari 1978, di rumah sakit, dia didatangi oleh dua orang Jepang, Tomohiro Okamoto dan asistennya Atsuro Chiba dari Departemen Maritim di Kementerian Transportasi Jepang. Mereka meminta keterangan dari Pi Patel tentang tenggelamnya kapal Tsimtsum itu.

Pi pun bercerita seperti kisah di novel tersebut. Tetapi dua orang Jepang itu tidak percaya. Terutama tentang kisah ada binatang-binatang itu di sekocinya, apalagi dengan seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kologram selama 227 hari.

Si Royal Parker, menurut kisah Pi, begitu sekoci mereka sampai di pantai itu, harimau itu langsung meloncat ke daratan, memandangnya sebentar. Kemudian pergi begitu saja, masuk ke hutan di dekat situ.

Okamoto dan Chiba juga tidak percaya dengan cerita Pi yang menemukan pulau ganggang, yang di atasnya tertanam pohon-pohon karnivora pemakan daging, ganggang yang bisa membuat air laut menjadi air tawar, dan binatang-binatang kecil pengerat akuatik yang tidur di dahan-dahan pohon (bentuknya mirip meerkat, semacam luwak, tetapi menurut Pi mereka makan ikan-ikan mati di pantai dan tidur di dahan-dahan pohon di pulau ganggang itu). Karena memang secara ilmu botani manapun, belum pernah dikenal adanya pulau ganggang, ganggang, pohon dan binatang seperti itu dalam sejarah manusia.

Tetapi Pi tetap bersikeras, dengan berbagai argumennya. Misalnya, dengan mengatakan samudera itu sangat, sangat luas, hanya secuil bagian darinya yang dikenal manusia. Maka, bisa saja pulau ganggang itu memang belum pernah ditemukan manusia, tetapi bukan berarti tidak ada.

Okamato pun membuat laporan untuk Kementeriannya, yang isinya tidak menyinggung tentang cerita-cerita Pi yang mereka anggap mustahil benar terjadi. Hanya di bagian akhir laporan itu antara lain ditulis catatan sebagai berikut:

Berdasarkan pengalaman penyelidik, cerita tersebut tak ada tandingannya dalam sejarah kapal tenggelam. Sangat sedikit korban kapal tenggelam yang bisa bertahan begitu lama di laut seperti Mr. Patel, dan belum pernah ada yang ditemani harimau Bengal dewasa.”

*

Ada bagian yang menarik lain di novel ini. Yakni bagian yang menceritakan pengalaman spritual masa kecil Pi Patel dalam menemukan Tuhan. Dia pergi dan belajar agama di Kuil (Hindu), Gereja (Kristen), dan Masjid (Islam).

Suatu ketika ketika Pi berjalan-jalan bersama keduaorangtua dan kakaknya, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan pastor, imam, dan pandita.

Terjadilah percakapan menarik dan unik seperti yang saya kutip di bawah ini. Percakapan yang membuat semua orang itu bingung (dari Life of Pi, halaman 108-112).

Dengan nada bangga pastor berkata: “Piscine anak Kristen yang baik. Mudah-mudahan dia mau segera bergabung dengan kelompok paduan suara kami.”

Kedua orangtuaku, sang pandita, dan sang imam tampak terkejut.

“Anda pasti keliru. Dia anak Muslim yang saleh. Dia selalu datang untuk sholat Jumat, dan pengetahuannya tentang Qur’an semakin banyak.” Begitulah kata sang imam.

Kedua orangtuaku, sang pastor, dan sang pandita tampak terheran-heran.

Sang pandita berkata, “Anda berdua keliru. Dia anak Hindu yang taat. Saya sering melihat dia datang ke kuil untuk darshan dan melakukan puja.”

Kedua orantuaku, sang imam, dan sang pastor tampak tercengang.

“Saya tidak mungkin keliru,” kata sang pastor. “Saya kenal anak ini. Dia Piscine Miliror Patel, dia anak Kristen.”

“Saya juga kenal dia, dan saya sudah bilang dia itu Muslim,” sang imam menegaskan.

“Omong kosong!” seru si pandita, “Piscine lahir sebagai anak Hindu. Hidup sebagai anak Hindu, dan akan mati sebagai anak Hindu pula.”

...

Mata mereka semua tertuju kepadaku.

“Piscine, benarkah ini?” tanya sang iman penasaran. “Hindu dan Kristen memuja berhala. Tuhan mereka banyak.”

“Dan Muslim mempunyai banyak istri,” balas sang pandita.

Pastor menatap kedua orang bijak lainnya dengan tak senang. “Piscine,” dia nyaris berbisik, “keselamatan hanya ada dalam Yesus.”

“Omong kosong! Orang Kristen tidak tahu apa-apa tentang agama,” kata sang pandita.

“Mereka menyimpang dari jalan Tuhan lama berselang,” kata sang imam.

“Di manakah Tuhan dalam agamamu?” bentak sang pastor. “Tidak ada satu pun keajaiban Tuhan di dalamnya. Agama macam apa itu, tanpa keajaiban sama sekali?”

“Agama kami bukanlah sirkus yang mempertontonkan orang-orang mati melompat keluar dari dalam kubur mereka! Kami, orang-orang Muslim, berpegang pada keajaiban yang paling dasar, yakni eksistensi itu sendiri. Burung-burung yang beterbangan, hujan yang turun, hasil-hasil pertanian – semua itu sudah cukup merupakan keajaiban bagi kami.”

“Burung dan hujan boleh saja, tapi kami lebih suka yakin bahwa Tuhan benar-benar ada bersama kami.”

“Begitukah? Wah, percuma saja Tuhan ada bersama kalian – kalian mencoba membunuh-Nya! Kalian memaku-Nya di salib dengan paku-paku besar. Pantaskah memperlakukan nabi secara demikian? Nabi Muhammad SAW menyampaikan wahyu Allah pada kami tanpa banyak omong kosong yang tidak pada tempatnya, dan meninggal dalam usi lanjut.”

“Wahyu Allah? Pada saudagar buta huruf di tengah padang pasir? Itu bukan wahyu dari Allah, itu omongan orang sakit yang duduk terguncang-guncang di atas untanya.”

“Kalau Nabi--SAW—masih hidup, beliau pasti menegurmu dengankeras,” sang iman menyahut dengan mata disipitkan.

“Tapi dia sudah mati! Kristus hidup, sementara SAW-mu sudah mati, mati, mati!”

Sang pandita menyela pelan. Dalam bahasa Tamil dia berkata, “Pertanyaannya sekarang adalah, kenapa Piscine membuang-buang waktu dengan agama-agama asing ini?”

Seketika sang pastor dan sang iman sama-sama melotot mendengarnya. Mereka berdua sama-sama orang Tamil.

“Tuhan itu universal,” kata sang pastor.

Sang imam mengangguk-angguk setuju. “Hanya ada satu Allah.”

“Dan dengan Allah mereka yang satu itu, Muslim selalu menimbulkan masalah dan memicu keributan. Bukti, betapa buruknya Islam bisa dilihat dari perilaku kaum Muslim,” kata sang pandita.

“Kau sendiri pendukung perbudakan yang menganut sistem kasta,” kata sang imam, “Orang-orang Hindu memperbudak manusia dan memuja boneka-boneka yang didandani.”

“Mereka pemuja lembu emas. Mereka menyembah sapi-sapi,” sang pastor ikut-ikutan.

“Orang-orang Kristen menyembah orang kulit putih! Merekalah pemuja dewa asing. Merekalah yang merupakan mimpi buruk bagi orang-orang non kulit putih.”

“Mereka makan babi, mereka kanibal,” sang imam menambahkan.

Dengan kemarahan tertahan sang pastor berkata, “Sekarang masalahnya apakah Piscine menginginkan agama sejati—atau sekadar mitos-mitos dari komik kartun.”

“Allah—atau patung-patung,” kata sang imam dengan sungguh-sungguh.

“Dewa-dewa kita sendiri—atau dewa-dewa asing,” desis sang pandita.

Sulit dikatakan, siapa yang wajahnya lebih merah membara. Mereka bertiga seperti akan meledak.

Ayah mengangkat kedua tangannya, “Saudara-saudara, saudara-saudara, sudahlah! Dia menengahi. “Saya ingin mengingatkan pada Anda sekalian bahwa negeri ini menganut kebebasan beragama.”

Tiga wajah marah menoleh ke arahnya.

“Ya!” Beragama—satu agama!” ketiga orang bijak itu berseru serentak. Tiga jari telunjuk terangkat bersamaan, seperti tanda seru, untuk memberi tekanan pada ucapan mereka.

...

*

Dalam kisah selanjutnya, Pi Patel memutuskan: Bukan satu agama saja yang dianut. Tetapi ketiga-tiganya sekaligus menjadi Hindu, dibaptis di gereja, dan mengucapkan kalimat syahadat--masuk Islam.

Ketika berada di dalam perjuangan hidup-matinya di Samudera Pasifik selama lebih dari 7 bulan, atau 227 hari itu, Pi berdoa, berseru, memanggil Tuhan, agar  Tuhan mau menyentuhnya, menolongnya, dengan menggunakan cara-cara dari tiga agama itu secara bergantian. Dan, dia kemudian benar-benar merasakan sentuhan Tuhan itu. ***

Inilah trailer film LIFE OF PI: