Mohon tunggu...
Burdani Dani
Burdani Dani Mohon Tunggu... Insinyur - Sastra Mengubah Dunia

Saya senang membaca, saya juga berusaha menuliskan sesuatu yang berguna bagi orang. Boleh jadi menjadikannya hiburan atau penggugah inspirasi bagi orang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Nilai Ujian Nasionalku Memang Besar, Tapi...

7 Juni 2012   07:02 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:18 187 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mata Ratih berbinar di pagi yang masih menyisakan kabut, ia mencium tangan ibunya dengan harap restu suci sang ibu. Ibu tersenyum seraya mengelus rambut Ratih, ada komat-kamit di bibirnya, mungkin sebuah doa sedang ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa untuk anak tercintanya. Hari memang masih remang-remang menyambut fajar tertawa mengembang, namun ini desa terpencil yang jauh dari segalanya. Sekitar setengah jam melewati perkebunan dan pesawahan untuk tiba di sekolah, berjalan kaki, bukan naik Merci, BMW apalagi Alphard yang empuk dan mewah.

Sepatu butut yang kusam menyibakkan helai demi helai daun rumput liar yang sudah terbebani bulir-bulir bening embun. Pikiran Ratih menerawang sepanjang perjalanan, Ujian Nasional tinggal seminggu lagi. Mungkin semua anak SMU akan merasa was-was menghadapi horornya suasana Ujian Nasional. Ratih menyadari sepenuhnya bagaimanapun ia bersekolah bukan di sekolah kota yang difavoritkan, jauh dari segala informasi pendidikan. Apalagi untuk mengikuti Bimbel seperti tradisi siswa di perkotaan untuk menghadapi Ujian Nasional. Ratih hanya bisa menyerahkan semuanya pada kebijaksanaan Tuhan atas nasib dan takdirnya. Ratih yakin Tuhan mempunyai sebuah rencana besar pada hidupnya yang terlahir di sebuah desa dengan segala keterbatasannya.

Tinggal beberapa meter lagi perjuangan kaki Ratih mencapai finish. Ia buka gerbang sekolahnya yang masih tertutup, ada serpihan karat yang tertinggal di tangannya. Pintu gerbang sekolah memang sudah bertahun-tahun tak terawat, karatnya sudah membuat keropos di beberapa sisi. Maklum sekolah di desa jauh, mata pemerintah terlalu kecil untuk melihatnya. Suasana memang masih relatif sepi, hanya satu dua orang siswa saja yang terlihat. Pak Arman tersenyum sambil terus menyapu koridor kelas, penjaga sekolah yang ramah dan sering dianggap sahabat bagi para siswa.

“Ruang perpustakaan sudah dibukaPak Arman ?”

“Sudah, silahken, hehe......!”

Ratih memang sering memanfaatkan waktu setengah jam sebelum pelajaran dimulai untuk membaca di perpustakaan. Memang tak banyak buku baru yang bisa dibaca namun buku-buku usang peninggalan zaman ORBA masih banyak yang bisa diambil ilmunya. Saat ORBA Dinas P&K mengirimkan buku-buku wajib paket ke seluruh sekolah sampai ke pelosok-pelosok kepulauan. Buku paket itu merupakan buku wajib penunjang kegiatan belajar-mengajar, sehingga pengetahuan siswa di seluruh Indonesia bisa seragam. Tidak seperti sekarang, dengan Undang-Undang Otonomi setiap sekolah bebas menunjuk penerbit untuk membuat buku-buku LKS (Lembar Kerja siswa). Seringkali ini dijadikan bisnis guru terselubung yang memberatkan orang tua siswa. Isi dan kriteria pengajaranpun seringkali terlewatkan dari pemeriksaan guru yang bersangkutan sehingga menyimpang dari TIU (Tujuan Instruksional Umum) pengajaran. Meski buku-buku itu telah usang namun tidak usang dalam ilmu di dalamnya. Setidaknya Ratih berharap semuanya bisa sempat ia baca dan dihafalkan. Ratih memang cerdas, hafalannya cukup kuat. Kemampuan analisa nalarnya sudah sangat baik, tidak sulit baginya untuk memahami lembar demi lembar buku pelajaran yang ia pelajari.

***

Di sekolah ini masih terdapat beberapa guru dengan dedikasi mengajar yang baik untuk kemajuan pendidikan siswa. Siswa selalu diarahkan belajar berkelompok di kelas, setiap kelompok diwajibkan bisa membuat resume-resume materi pelajaran dan selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. Ratih selalu menjadi ketua kelompok, teman-temannya selalu menunggu-nunggu giliran Ratih mempresentasikan materi pelajaran.

Istirahat tiba, Ratih bergegas menuju WC sekolah yang berada di belakang deretan kelas. Tangannya memutih terkena kapur tulis, karena setengah berlaritak sengaja ia bersinggungan dengan siswa yang ditugaskan membawa setumpuk buku pelajaran.

“Bruuuuuuuggggg !”

“Aaauuuuuuuuwwwwhhhhhh !”

Tak ayal buku-buku itu berserakan di lantai, Ratih sangat merasa bersalah dan berusaha membantu mengumpulkan buku-buku itu kembali tanpa melihat siapa yang sudah ia senggol barusan.

“Kau kurang hati-hati Ratih !”

Ratih mengenal suara itu, suara khas yang akrab tiga bulan terakhir.

“Kau....! Rupanya !” Sergah Ratih.

Tatapan dibalas dengan tatapan, ada perpaduan gelombang energi kasat mata terjadi. Serentak hati telah saling memaafkan semua yang terjadi meski tanpa kata maaf terlontarkan. Hati telah saling berbisik dan memahami naluri.

“Ini sudah !” Ratih memberikan setumpuk buku itu pada Rendra.

“Pulang sekolah kita sama-sama ya, aku mendapatkan kiriman buku-buku baru dari Bapakku !”

Rendra menyampaikan ajakannya pada Ratih sambil berjalan menuju ruang perpustakaan.

***

Ini hari terakhir Ujian Nasional, Ratih merasa begitu lega dan bersyukur kepada Tuhan, ia merasa soal-soal Ujian Nasional bisa ia kerjakan dengan baik. Ia setengah berlari pulang ke rumah, tak tahan rasanya ingin berlutut di depan ibu. Bersimpuh mengucapkan terima kasih atas restu dan doa ibu, Ratih yakin Tuhan mengabulkan Doa ibu yang sering ibu panjatkan selesai Sholat Tahajud di sepertiga malam terakhir.

Pegal pinggang ibu mencabuti rumput gulma yang tumbuh subur di tanaman Kacang Tanah yang ditanam bapak di pekarangan. Ketika bangkit ibu melihat ratih berlari-lari, sedikit cemas hati ibu,

“Ada apa ya, ko dia berlari-lari pulang ?”

Ibu bergegas menuju pintu pagar menyambut Ratih, terlihat Ratih sudah dekat dengan air mata berlinang. Sesampai di hadapan ibu Ratih segera berlutut dan memeluk kaki ibu. Bukan kepalang kagetnya ibu melihat itu.

“Ada apa kamu Ratih ?” Dengan mata berkaca-kaca ibu cemas bertanya.

Sambil menangis dengan parau ratih berkata perlahan.

“Terima kasih atas semua doa ibu untukku, Ujianku bisa lancar aku kerjakan bu !”

Mendengar itu ibu tersenyum namun bulir air matanya sudah tak terbendung lagi. Haru dan syukur kepada Sang Maha Kuasa membedah dada ibu. Ia peluk Ratih dengan keibuan dan ketulusan abadi kasih sayang seorang ibu.

“Semoga ini awal kehidupan yang baik untukmu, Ratih ! Tuhan sudah mengabulkan doa kita, sudah memudahkan kesulitan dan keterbatasan kita.”

***

Pengumuman hasil Ujian Nasional tiba, ada yang tak biasa di sekolah Ratih. Sepertinya ada berita yang membuat Gempar para guru. Bukan berita kesedihan atau duka, namun berita yang membanggakan semua. Dinas pendidikan terkait telah memberikan daftar skore nilai Ujian Nasional yang masuk nilai terbaik secara nasional. Nama Ratih Tunggadewi peringkat paling atas. Kepala sekolah mengucapkan selamat kepada Ratih dengan haru, senyum puas para guru juga mengiringi kegembiraan sketsa hati Ratih terdalam. Seakan tanpa henti ucapan selamat itu mengalir dari teman-teman Ratih.

Justru Rendra orang terakhir di sekolah yang mengucapkan selamat pada Ratih. Ketika Ratih pulang Rendra mengejutkannya, muncul tiba-tiba dari pepohonan perdu depan sekolah.

“Aaaaaaaaaaaagggghhhhh !”

Ratih terkejut, terkejut rindu dan bahagia ketika tahu siapa yang mengejutkannya.

“Kaaaauuuuuuu !” Ratih setengah melotot pada Rendra.

“Aku kalah olehmu ! Nilai Ujianmu terlalu sempurna untuk aku kalahkan !” Rendra pura-pura cemberut.

Ratih tersenyum,

“Ini juga ada andil bantuanmu, Rendra ! Kau sering memberiku pinjaman buku-buku. Buku-buku itu sangat membantu menambah wawasan belajarku. Kau tahu kan, di perpustakaan tak ada buku-buku secanggih dan selengkap di rumahmu.”

Rendra sangat senang Ratih sangat menghargai bantuan dan perhatiannya. Mereka berjalan beriringan ke arah senja yang mulai memerah. Ada setangkup rasa tercipta pada keduanya, menghayalkan balada cinta menunggangi semilir angin redup.

***

Bahagia boleh tercipta namun tak berarti tantangan besar sedang menguji segalanya. Bapak merenung di bale-bale depan bertemankan secangkir kopi tubruk nikmat buatan ibu. Bapak hanya buruh tani yang menunggu pangilan kerja pada setiap awal masa cocoktanam dan bila panen tiba. Rasanya ia tak punya segudang harta untuk membiayai Ratih masuk perguruan tinggi, ia dengar masuk perguruan tinggi butuh dana puluhan juta rupiah. Khabar kehebatan anaknya kini sudah menjadi konsumsi media masa. Seperti mimpi kini keluarganya menjadi sorotan orang banyak, sebuah kejadian tak terpikirkan seorang masyarakat pedesaan berbaju kesederhanaan.

Besok Ratih akan dijemput sebuah kru televisi swasta nasional. Katanya ia akan diwawancarai. Entah apa saja yang akan ditanyakan kepada Ratih.

“Besok ratih pakai baju apa ya Pak ?” Tanya ibu kepada Bapak.

Bapak hanya tersenyum nelangsa dan bingung menjawabnya. Disatu sisi ingin anaknya tampil rapih dan membanggakan tetapi di lain sisi dari mana semua itu bisa ia wujudkan.

“Pakai seragam saja, hahaaahahahaaa.......! Aku kan mantan anak SMU dan baru lulus.”

Ratih berusaha memecahkan suasana, ia tak mau orang tuanya terbebani dengan kepentingannya. Ratih merasa sudah seharusnya kini ia yang menjaga dan menafkahi mereka, meskipun entah dari mana ia memulai niat mulianya itu.

Mendengar itu Bapak menatap nanar anaknya, berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya dengan memaksa tersenyum.

Ratih sangat berharap bisa mendapatkan bantuan beasiswa dari berbagai pihak. Pernah ia dengar beberapa kisah tahun-tahun lalu menyerupai yang dia alami. Ini bukan parodi belas kasihan atau drama kemiskinan sebuah fragmen sisi elegi kehidupan. Ia tak peduli cibiran orang bahwa dirinya mengumumkan kemiskinan atas sebuah prestasi akademik. Ini semua ia anggap sebuah jalan yang Tuhan berikan yang harus ia lewati setapak-demisetapak.

“Aku gadis desa, keluguan melekat pada sikapku, aku senang pada kejujuran, karena kejujuran membuat hati damai dan pasrah pada kehendak Tuhan !”

***

Wawancara beberapa menit lagi. Ratih baru kali ini memasuki ruang yang begitu megah dan lengkap prasarananya. Ruangannya harum dan ditata dengan baik. Banyak orang sibuk hilir-mudik mengerjakan sesuatu dengan konsentrasi penuh.

“Badanku bau tidak ya.....hehehehe ?” Sejenak Ratih bertanya-tanya dalam hati.

Maklum setiap orang yang melewatinya tercium wewangian yang beraneka ragam. Ada yang menyegarkan, menenangkan ada juga yang berbau farfum kematian.

“Camera.......rolling action !”

Sedikit berdebar Ratih mulai menjawab pertanyaan pertama dari presenter yang bertanya santai kepadanya. Belum lagi ratusan pasang mata yang tertuju padanya, belum lagi jutaan pemirsa televisi seluruh Indonesia yang mungkin tengah menyaksikannya.

Beberapa menit kemudian rasa percaya diri itu menguat, ratih lebih santai dan realistis menjawab beberapa pertanyaan. Dalam diri Ratih mungkin tersirat, adakah yang mau menolongnya keluar dari keterbatasannya.

Sementara di luar studio, hanya beberapa ratus meter atau beberapa kilometer pesta keangkuhan sedang digelar tanpa batas kekayaan bahkan batas agama dan norma. Di sebuah club diskotik termahal atau restaurant terkenal, mungkin juga transaksi sek puluh juta rupiah. Disana uang tak lagi dihitung dan diperhitungkan untuk apa. Dunia harus indah dan nikmat dirasakan, tak boleh ada kepusingan dan air mata.

Rendra tersenyum-senyum melihat Ratih diwawancarai, di sebelahnya pamannya sibuk menasehatinya.

“Nah, seharusnya kamu seperti temanmu itu ! Bukankah kau sudah paman biayai dan disediakan semua keperluanmu untuk kelancaran sekolahmu. !”

Rendra hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.

Tepuk tangan riuh terdengar, ketika seseorang menjanjikan kepada Ratih untuk dapat memberikan beasiswa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Entah siapa yang berbicara lewat sambungan telpon itu, mungkin malaikat yang diutus Tuhan membantu Ratih.

Entah sampai kapan drama serupa ini terjadi mewarnai hasil akhir pesta Ujian Nasional. Negara memang tersirat dalam Undang-Undang Dasar menjamin rakyatnya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pada kenyataannya pendidikan adalah sebuah barang amat sangat mahal dan langka didapatkan bagi kaum miskin. Sebagian orang baru mau peduli jika sudah diberitakan drama kemiskinan itu di Televisi dan Mediamasa.

Ada harapan merekah mengiringi langkah kaki Ratih meninggalkan Studio tempat ia diwawancari hari ini.

Gambar dari : http://www.harianjogja.com

Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan