Mohon tunggu...
Danang Hamid
Danang Hamid Mohon Tunggu... Freelance, father of three and coffee

Voice Over Indonesia Talent, Radio, Father of three and Black coffee

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Novian Abdurahman: Jujur, Ini Bentuk Perlawanan terhadap Angkara Murka

22 September 2019   00:22 Diperbarui: 22 September 2019   00:26 0 0 0 Mohon Tunggu...
Novian Abdurahman: Jujur, Ini Bentuk Perlawanan terhadap Angkara Murka
Novian dalam sebuah kajian ilmu (kedua dari kiri)

Dalam mengelola sebuah daerah tentu membutuhkan strategi yang cerdas, dimana seorang pemimpin seharusnya memiliki skala prioritas dalam menjalankan tugasnya dengan mengedepankan penyelasaian masalah yang paling krusial dan mendesak yang terjadi di masyarakat, ia tentu memiliki sejumlah program pembangunan yang ditawarkan kepada konstituennya.

Dan tawaran tersebut wajib direalisasikan di masa-masa kepemimpinannya, sehingga di akhir masa jabatan ada sesuatu yang menjadi kenang-kenangan bagi masyarakat dan meninggalkan manfaat jariyah melalui program nyata.

Hal tersebut diungkap Novian Abdurahman, pengusaha muda Kabupaten Sukabumi yang disebut-sebut akan kembali terjun ke dunia politik dan ikut pertarungan Pilkada Kabupaten Sukabumi pada 2020 nanti. Novian menilai bahwa pembangunan di Sukabumi mengalami stagnasi,

"Sekarang lihat Sukabumi itu seolah stuck, seakan-akan mati suri. Butuh perubahan besar. Masyarakat mendambakan itu sejak lama. Dan dari bisik-bisik di medsos ternyata rakyat sangat amat mendukung perubahan itu, dan kita harus jadi agen perubahan itu," ujar dia (21/9)

Dalam berbagai kesempatan, misalnya ketika Novian melakukan kegiatan itikaf dari masjid ke masjid, ia menyempatkan diri berdiskusi dengan warga, mencoba menampung keluhan dan beragam aspirasi dari masyarakat sehingga ia bisa menyimpulkan bahwa perubahan besar itu sedang dinantikan kepastiannya, bukan hanya sekedar ditunggu-tunggu.

Terungkap, bahwa sebenarnya keinginan masyarakat Sukabumi untuk merasakan perubahan yang lebih baik di semua lini sudah sejak lima tahun lalu terakhir sebelum kepemimpinan bupati di masa sekarang yang hampir berakhir.

"Hanya saja ada kecelakaan politik yang menyebabkan perubahan besar itu tertunda, kalau proses awal politik ini bisa berjalan mulus, saya yakin! kandidat yang mengusung perubahan drastis akan memimpin Kabupaten Sukabumi," terang putra pajampangan ini optimis dan kini ia gemar memilih oufit gamis disaat tertentu.

Novian dengan outfit gamis
Novian dengan outfit gamis

Banyak persoalan di Kabupaten Sukabumi yang belum terselesaikan, membuat ia memutuskan kembali terjun ke dunia politik,

"Tapi jujur, ini bentuk perlawanan melawan angkara murka, saya hanya ingin berjalan di jalan Allah," ungkapnya.
 
Segunung persoalan di Kabupaten Sukabumi perlu solusi praktis, diantaranya persoalan macet yang kian parah, maraknya LGBT, persoalan sumber daya alam yang menguntungkan koorporasi dan mengesampingkan dampak lingkungan, kesejahteraan, korupsi dan lain-lain, sementara pemda setempat nampaknya belum menemukan solusi yang mujarab untuk mengurai permasalahan-permasalahan tersebut.
Macet di Sukabumi tak pernah terurai (Dokpri)
Macet di Sukabumi tak pernah terurai (Dokpri)
Lalu bagaimana tanggapan dan harapan warga Sukabumi menjelang Pilkada Kabupaten Sukabumi 2020 nanti? Ini salah satunya:

"Ya, maunya saya mah punya pemimpin teh yang bisa menyelesaikan akar masalah di akar rumput sampai pucuknya lah, persoalan tenaga kerja laki-laki bisa diserap pabrik, pabrik banyak di sini tapi yang kerja dari mana? eta Pe-er! Sukabumi mah macetna lah, teu kuat" ujar Dedi Nurdiansyah (30), Warga Parungkuda ketika ditanya harapannya tentang pemimpin Sukabumi selanjutnya.

"Terus boga pemimpin teh nu ngora ajib sigana, enerjik dan sigap, kalau yang muda kan melek teknologi, bisa nyambung sama milenials," sambung Dedi berharap.

Harapan Dedi, mungkin bisa mewakili harapan gen y lainnya, bahwa di era millenials, seorang pemimpin selayaknya hafal dan tahu persis kebutuhan generasi Y  ini, salah satunya melalui pantauan di sosial media, peka terhadap perubahan dan dinamika masyarakat. 

Potret kemiskinan di salah satu sudut kota, lupakan dikotomi kota dan kabupaten.
Potret kemiskinan di salah satu sudut kota, lupakan dikotomi kota dan kabupaten.
Milenials yang banyak berbicara di sosial media harus dipandang sebagai sebuah masukan yang membangun, sebab generasi milenial aktif menyampaikan aspirasi politiknya, pun lewat sosial media.

"Dan emak-emak juga, pastinya anak millennials paling gak suka kalau stuck dan tidak ada progress! apalagi emak-emak butuh kepastian bahwa harga pangan itu harus murah dan terjangkau kalau pakai macet mana bisa murah?" pungkas Novian.

Sementara itu, jika membaca peta perpolitikan di Kabupaten Sukabumi melalui timeline di berbagai platform sosmed nampak mulai riuh dan memanas dengan berbagai opini, masukan, adu argumentasi, data dan fakta serta prediksi-prediksi pengkawinan calon F1&2.

Satu hal yang menarik dari  seorang pengamat politik di Sukabumi yang juga berprofesi sebagai konsultan, Heri Hermawan. Ia menulis di akun facebooknya:

"Menurut info #dukunpolitik akan muncul calon ketiga yg merupakan miniatur sandiaga uno disini...disukai emak - emak sekaligus millenial & religius #NgeriGaess"

Siapakah calon ketiga yang dia maksud? Apakah ciri-cirinya ada pada Novian?