Mohon tunggu...
Danang Hamid
Danang Hamid Mohon Tunggu... Freelance, father of three and coffee

Voice Over Indonesia Talent, Radio, Father of three and Black coffee

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Petani: Karena 90% Potensi Air Itu dari Langit, Tunggu Hujan Turun

18 September 2019   22:40 Diperbarui: 18 September 2019   22:47 0 0 0 Mohon Tunggu...
Petani: Karena 90% Potensi Air Itu dari Langit, Tunggu Hujan Turun
Dokpri

Jalanan Cisinga yang biasa disebut JB  singkatan dari jalan baru yang menghubungkan Ciawi dan Singaparna tiba-tiba ramai dengan mobil dan sepeda motor yang terparkir di pinggiran jalan, pada Rabu siang (18/9).

Di tengah pesawahan yang biasanya lenggang, siang itu matahari sedang terik-teriknya, panas memanggang kulit, sementara sama sekali tak ada tanda-tanda hujan akan segera turun.

Dokpri
Dokpri
Namun hal ini tak menjadikan para petani yang tergabung dalam beberapa kelompok tani di Kecamatan Sukaratu mengurungkan niat menghadiri dan turut menyukseskan kegiatan yang digelar Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya dalam Gerakan Percepatan Olah Tanah dan Tanam Padi.Prioritas di bidang pertanian dan wisata menjadi perhatian utama Pemerintah Daerah Kabupaten Tasikmalaya, hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya, Heri Sogiri di Kampung Rancabogo, Desa Sukaratu, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya (18/9).

Dokpri
Dokpri
Percepatan olah tanam padi ini merupakan program yang dicanangkan pemerintah pusat melalui kerjasama Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kementerian Pertanian RI melalui Badan Karantina Pertanian dan Tim Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai. Hal serupa pun dilakukan di berbagai daerah pertanian lainnya seperti Ciamis, Sukabumi, Pangandaran dan lain-lain dalam mengantisipasi kekeringan dan kemarau panjang.

"Petani mah, musim apa pun tetap harus nanam," ungkap salah seorang anggota kelompok tani, dimana dirinya memiliki anggapan yang sama dengan penuturan kepala dinas pertanian bahwa percepatan olah tanah dan tanam padi di musim kemarau pada awalnya dianggap mustahil dilakukan oleh petani yang mengandalkan tadah hujan.

"Beruntung sebagian lahan di sini (sekitar Galunggung) masih ada yang basah, jadi kadang-kadang mah kabagian keneh air meski air dari hulu kalau lagi ada pun kadang tak sampai ke hilir," ungkap dia.

Dokpri
Dokpri
Dalam kesempatan ini Heri Sogiri mengatakan bahwa petani masa kini punya inisiatif sendiri dalam memanfaatkan lahannya agar tetap produktif tanpa menunggu komando dari dinas terkait.

"Sudah pasti karena dorongan kebutuhan hidup, akhirnya menjadikan petani di Kabupaten Tasikmalaya punya inisiatif sendiri, contohnya petani di Cikalong, mereka menanam semangka di musim kemarau ini dengan berbagai analisa agar menguntungkan" jelasnya

Gerakan percepatan olah tanah dan percepatan tanam memanfaatkan aliran sungai, memanfaatkan mesin pompa dan pembangunan sarana air bersih melaui pipanisasi untuk mengairi pesawahan di wilayah administrasi Kecamatan Sukaratu.

"Tugas kita semua mengentaskan kemiskinan. Intina mah asal aya kadaek ulah riweuh, insya Allah nanti kita akan banyak berkomunikasi dengan petani," Terang Heri

Dokpri
Dokpri
Meski acara ini bersifat seremonial dan hasil pertanian  di Kabupaten Tasikmalaya masih mengalami surplus diharapkan para petani bisa segera melakukan hal serupa agar produktivitas pertanian tidak tersendat,

"Muhun, betul! Saya kira ini seremonial saja, simbolis! Pada prakteknya nanti di masing-masing kecamatan biasanya para petugas pertanian lapangan yang kerja nguprak-nguprak patani sina buru-buru nyarawah," ungkap Asep Abdurrahman, petani (58)

Dokpri
Dokpri
Pada persiapan gerakan olah tanah dan percepatan tanam yang dikoordinir oleh koordinator BPP Sukaratu, Dadan Rohiman terjadi dialog mengenai tidak meratanya distribusi air  yang dikeluhkan oleh warga petani dimana ada potensi kekeringan yang mengancam pada musim kemarau panjang, para petani berharap program irigasi dan pengairan serta pemerataan distribusi air untuk lahan pertanian segera menyentuh wilayah ini.

"Di kita pan banyak balong, salah satunya sebagai komoditas utama, tiga bulan sekali bisa panen, banyak sawah yang juga butuh air, penting airnya dulu yang harus diurus, dibenerin, air yang paling urgent" terang Ujang Dadang Faqih (40), Peternak ikan.

Namun, "Pada akhirna mah ngantosan hujan we, da potensi air sembilan puluh persen kiriman dari langit," kata Asep Abdurahman

KONTEN MENARIK LAINNYA
x