Mohon tunggu...
Agustinus Danang Setyawan
Agustinus Danang Setyawan Mohon Tunggu... Guru

Vortiter In Re, Sauviter In Modo || Teguh dalam Prinsip, Lentur dalam Cara

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belajar Itu Menyenangkan

15 April 2021   12:55 Diperbarui: 15 April 2021   13:07 38 2 0 Mohon Tunggu...

Pembaca yang budiman, salam hormat semoga selalu sehat dan bahagia.

Saya masih konsisten untuk menyuarakan uneg-uneg soal bagaimana mendidik atau lebih tepatnya bagaimana menjadi seorang guru (pendidik) di tengah masa pandemi Covid-19 ini. Alkisah dimulai dari istri saya yang curhat soal bagaimana mencari terobosan untuk mengajar yang tak pernah bertatap muka langsung seperti saat ini. Kebetulan istri adalah PNS di salah satu SMA di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Istri tercinta adalah guru seni musik di sekolah tersebut.

Nah, cerita punya cerita, istri saya mengungkapkan cita-cita besarnya supaya murid-muridnya bisa kreatif dan inovatif saat mengikuti pelajaran Seni Budaya (Seni Musik). Lantas istri sharing dan mencari cara bagaimana peserta didik itu dapat mencintai proses pembelajaran sekalipun meraka tidak bertatap muka langsung di sekolah. 

Saya salut sekali dengan istri saya ini. Yang ada di benaknya bukan sekedar nilai atau angka, tetapi lebih ke soal mutu atau output yang dapat dicapai oleh peserta didiknya. Sekarang pun, kalau saya ditanya berapa nilai seni musik saya waktu di SMP pun saya sudah lupa. Ini memang membuktikan bahwa nilai itu "tidak ada gunanya" untuk melihat kualitas pribadi seseorang. Dan tanpa pikir panjang, saya pun setuju dengan konsep pemikiran istri saya itu. 

Berikutnya, mencari terobosan baru memang tidak semudah yang kita pikirkan. Tetapi kami tetap yakin, bahwa yang namanya terobosan itu pasti ada. Hanya yang menjadi keniscayaan bahwa terobosan itu pasti hasil dari evaluasi dan refleksi atas proses pembelajaran yang sudah dimulai sebelumnya.

Dan istri pun menemukan ide untuk membuat nada dari botol yang berisi air. Botol ini harus ditiup supaya menghasilkan nada. Botol itu harus diisi air dengan volume yang berbeda-beda, supaya dapat memunculkan tinggi rendah nada yang berbeda interval nadanya. Tantangan pertama adalah 'menyetem' volume botol itu supaya resonansinya mencapai frekuensi nada yang diinginkan. Ini menjadi proses belajar yang baik tentunya. Bahwa seorang guru pun masih harus 'try and error' dalam membuat karya cipta. Ini jadi satu nilai plus dari proses autodidak ini.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana memunculkan nada itu. Botol harus ditiup dengan kekuatan hentakan nafas tertentu supaya nada yang ditimbulkan bisa stabil. Ini pun tidak gampang rupanya. Apakah seorang pendidik lantas patah arang? Ternyata saya tak menemukan kata patah arang saat istri susah payah menipunya. Ini luar biasa. Demi peserta didiknya, istri saya rela 'ngos-ngosan' (hehehe). Salut.

Berikutnya, istri harus berpikir untuk memunculkan paduan lainnya dari sekedar botol tak berharga itu. Munculah ide untuk membuat hentakan ritmis dari botol yang dipukul. Sederhana tetapi cukup variatif untuk barang sekelas botol itu. Sampai akhirnya, botol itu pun berfungsi dengan baik layaknya alat musik modern.

Apa yang dapat kita refleksikan?

Siapapun tentunya masih harus terus belajar dan mencari terobosan baru. Apalagi seorang guru atau pendidik di tengah kondisi yang tidak ideal ini. Peserta didik ternyata mampu menjadi motivasi tersendiri untuk memompa kemampuan diri. Bukan untuk unjuk gigi, tetapi untuk memberikan layanan pendidikan yang istimewa untuk peserta didiknya. 

Saya pun akhirnya yakin, roh atau semangat seperti ini pasti tak akan pernah sia-sia di mata peserta didik. Dedikasi dan komitmen akan selalu tampak di hadapan peserta didik, sekalipun tidak terucap dengan kata-kata. Mereka akan melihat karakter yang baik dari para pendidik. Dan pastinya, karaktaer ini akan tertransfer bahkan menjadi motivasi bagi peserta didiknya.

Pembaca yang budiman, 

Mari Belajar.

VIDEO PILIHAN