Mohon tunggu...
Dean J
Dean J Mohon Tunggu...

Not A Bad Singer

Selanjutnya

Tutup

Politik

Baliho Kampanye Dirusak? Salah Sendiri!

19 Desember 2018   02:23 Diperbarui: 19 Desember 2018   02:58 314 1 1 Mohon Tunggu...

Tahun 2018 dan kita masih meributkan soal baliho kampanye yang dirusak oleh seorang oknum. Entah benar atau tidak, menurut kabar yang tersiar di media sosial oknum tersebut kesal pada SBY dan Demokrat yang setengah hati mendukung Prabowo. 

Kemudian, si oknum juga sudah merencanakan akan mengaku "disuruh PDI -- Perjuangan" untuk merontokkan elektabilitas sang banteng juga Jokowi. Ibarat kata, sekali tepuk Demokrat, PDI -- Perjuangan bahkan Jokowi kena imbasnya. Benar atau tidak pengakuan yang ada di media sosial tersebut, entahlah.

Tapi yang jelas, perusakan baliho ini seharusnya menjadi pelajaran bagi seluruh peserta pemilu kedepannya. 2018 gitu loh... masih pake baliho? Helooowww

Seharusnya di jaman serba digital seperti saat ini, KPU mulai menerapkan larangan pemasangan baliho atau poster -- poster ditempat umum. Bagaimanapun, alat praga kampanye seperti itu sudah kuno dan lagi merusak pemandangan. Tidak cukupkah pemandangan kita sudah cukup rusak oleh kabel dan tiang listrik yang masih gagah di tahun 2018?

Lagi pula, jaman sekarang ini siapa yang tidak punya akun media sosial. Bahkan saudara saya yang hanya tamatan SMP sekaligus manusia zaman old pun punya akun instagram dan facebook. Setiap ada kuota, saudara itu sibuk surfing ria di google. 

Pun kalau internet dirasa tidak cukup powerfull bukankah ada media televisi atau setidaknya radio. Jadi, buat apa baliho -- baliho juga spanduk tersebar dijalan raya bahkan ada poster ditempel di tiang listrik sampai pohon hanya untuk kampanye?

Lalu akan ada pertanyaan, bagaimana dengan calon legislatif DPR -- RI misalnya. Mereka pasti butuh baliho untuk memperkenalkan diri di dapil masing -- masing. Sederhana saja, bahwa calon anggota DPR (daerah dan pusat) sebenarnya tidak benar -- benar butuh baliho atau spanduk. 

Sebab mereka seharusnya sudah dikenal di dapil masing -- masing. Kecuali kalau memang benar mereka tidak pernah bersinggungan dengan masyrakat di dapilnya, mau bikin baliho sampe surgapun tampaknya tidak akan terpilih (selain karena curang).

Media digital kita, sudah sangat cukup untuk meninggalkan alat praga yang menghabiskan banyak tenaga dan biaya tersebut. Contoh saja, begitu banyak alat praga kampanye yang bersebaran bahkan sampai ketika pemilu selesai, bahkan sampai si calon terpilih sudah dilantik, bahkan sampai dua tiga tahun mereka menjabat, alat praga itu masih ada ditempatnya. 

Para peserta pemilu hanya rajin mengotori pemandangan kita, tapi malas yang teramat dalam membersihkannya. Jangan katakan bahwa pada masa tenang kampanye mereka semua sudah membersihkan alat praga masing -- masing. Buktinya, pohon yang tak berdosa tetap saja tertempel poster partai atau caleg. 

Kenapa tidak dicopot? Yaiyalah gimana mau dicopot orang pake lem kok! Jelas nempel itu sampe karatan. Satu -- satunya cara adalah merobek sebagian poster itu setidaknya untuk mengaburkan si calon pada masa tenang nanti. Tetap saja, pemandangannya rusak!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN