Mohon tunggu...
Damanhuri Ahmad
Damanhuri Ahmad Mohon Tunggu... Penulis - Bekerja dan beramal

Ada sebuah kutipan yang terkenal dari Yus Arianto dalam bukunya yang berjudul Jurnalis Berkisah. “Jurnalis, bila melakukan pekerjaan dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati dunia,”. Kutipan tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana seharusnya idealisme seorang jurnalis dalam mengamati dan mencatat. Lantas masih adakah seorang jurnalis dengan idealisme demikian?

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tak Ada Kusut yang Tidak Selesai, Tidak Ada Keruh yang Tak Akan Jernih

13 Juni 2022   08:17 Diperbarui: 13 Juni 2022   08:36 103 7 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Aneka makanan dan minuman halal yang dikemas dengan rancak dalam sebuah acara adat dan agama di Minangkabau. (foto dok damanhuri)

Etnis Minang sedang diuji. Bersilewaran opini dan pendapat berbagai kalangan, menghiasi dunia maya. Mulai dari keras menghantam etnis itu sendiri, hingga yang membela habis-habisan.

Pokoknya ribut. Ribut soal rumah makan Padang di Jakarta yang menyediakan rendang babi. Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawansa pun turun ke kedai nasi bermerek nasi Padang di Surabaya.

Dia memastikan, kalau di daerah yang dia pimpin tidak tersedia hendaknya rendang babi.

Belum lagi hantaman, ya sudah. "Buka sendiri warung Padang, yang belanja juga orang Padang, pun adanya tak boleh di tempat lain, selain di Padang atau di tanah Minang itu sendiri".

Serta banyak lagi ciutan yang membuat nyali orang Minang tersentak. Ada apa, kok bisa-bisanya orang buka warung nasi Padang menyediakan rendang babi?.

Tentu sebuah perdebatan yang panjang. Tak akan pernah selesai untuk dibicarakan soal itu. Bicara Minangkabau yang oleh orang luar disebut orang Padang, ya identik dan kental dengan nuansa adat dan budaya, serta agama.

Begitu benarlah di sejak dulunya suku bangsa bernama Minangkabau ini. Seberapa pun premannya orang Minang di kampung orang, dulunya dia pasti diterpa di surau.

Surau dan rumah gadang adalah lembaga tak resmi untuk pengemblengan anak kemenakan. Laki-laki di Minangkabau dulu tak pernah tidur di rumah. Dia tidur dan mengaji di surau.

Sebelum matahari disungkup oleh kelamnya malam, anak-anak sudah berjalan ke surau. Dia akan mengaji di surau. Bagi yang sudah dewasa, juga ada pelajaran adat dengan belajar berunding, serta belajar silek atau silat.

Silek, sebuah bela diri. Perpaduan syarak dan adat, lahir dari ulama dan orang cadiak pandai dulunya. Sehingga orang Minang itu pintar bersilat lidah dan silat bela diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan