Mohon tunggu...
Damanhuri Ahmad
Damanhuri Ahmad Mohon Tunggu... Penulis - Bekerja dan beramal

Ada sebuah kutipan yang terkenal dari Yus Arianto dalam bukunya yang berjudul Jurnalis Berkisah. “Jurnalis, bila melakukan pekerjaan dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati dunia,”. Kutipan tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana seharusnya idealisme seorang jurnalis dalam mengamati dan mencatat. Lantas masih adakah seorang jurnalis dengan idealisme demikian?

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Catatan Muktamar XXXIV NU Lampung, Perbedaan Pendapat Sudah Menjadi Tradisi Ulama

9 Desember 2021   13:30 Diperbarui: 9 Desember 2021   13:46 797 5 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Baliho selamat datang muktamirin di Lampung sudah mulai terpasang. (foto dok maskut candranegara)

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 akhirnya ditetapkan 2 pada 23-25 Desember di Lampung. Keputusan ini sesuai dan kembali mengambil keputusan Konber NU sebelumnya, yang menetapkan tanggal itu dilaksanakan hajatan tertinggi lima tahun sekali tersebut. Keputusan akhgir ini tentyu tidak serta merta ditetapkan begitu saja. Ada banyak dinamika dan tarik ulur dari alim ulama yang tergabung dalam organisasi yang lahir 1926 itu.

Sempat mencuat, kalau muktamar harus dipercepat. Dan ada banyak juga wacana yang ingin menunda sampai batas waktu yang belum ditentukan, terkait akan adanya kebijakan pemerintah soal covid yang masih melanda negeri ini. Heboh soal ini, tentu sebuah hal yang biasa terjadi di kalangan ulama ini.

Belum lagi heboh soal calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk lima tahun mendatang, yang akan menggantikan KH Said Aqiel Siradj yang sudah dua periode menduduki jabatan Ketua Umum PBNU. Soal ini, hebohnya antara yang akan menggantikan dan yang akan menetapkan kembali Kiai Said untuk periode ketiga.

Yang menginkan kembali Kiai Said, berusaha dalam muktamar nanti diberlakukan sistim ahlul halli wal aqdi. Tidak pemilihan langsung, yang masing-masing PWNU dan PCNU se Indonesia memilih calon ketua umum. Lalu, kandidat lain yang juga tak kalah kuatnya sumber dukungan, adalah Yahya Cholil Staquf, yang kini menjabat Khatib 'Aam PBNU.

Hanya dua kandidat itu yang paling santer di kalangan NU, yang akan bersaing tentunya memperebutkan suara dalam muktamar. Masing-masing kandidat telah melakukan berbagai aksi dan komunikasi dengan pengurus NU di daerah. Soal beda pilihan dan dukungan, tentu menjadi sumber kekuatan NU itu sendiri.

Malah semakin banyak kandidat yang akan maju, biasanya muktamar lebih semarak dan meriah tentunya. Pengalaman saya mengikuti Muktamar NU ke-31 di Solo tahun 2004, cukup luar biasa. Ada banyak yang kandidat yang akan menggantikan KH Hasyim Muzadi kala itu, tapi semua kalah dan ada yang mundur sebelum waktu maju.

Begitu juga tundingan demi tundingan ke KH Hasyim Muzadi yang baru saja ikut Pilpres mendampingi Capres Megawati Soekarnoputri, kalah dalam kontestasi tersebut, sehingga suara ribu warga NU lumayan terasa. Itulah NU. Sudah terbiasa dan lazim mengelola perbedaan pendapat. Belum lagi di Komisi Bahsul Masail dalam muktamar itu, ada banyak perbedaan yang harus dipecahkan soal kajian berbagai hal yang menyangkut soal kekinian.

Secara ekspilisit, AD/ART NU tak ada yang melarang jabatan Ketua Umum lebih dari dua periode. Dan itu diputuskan dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang lima tahun yang lalu. Nah, tentu ini jadi alasan terkuat Kiai Said untuk ingin maju kembali untuk periode ketiga. Kemudian, kekuatan Kiai Said lumayan melembaga, dan mewarnai kalangan internal dan ekternal NU itu sendiri.

Sejarah NU mencatat, tokoh yang pernah menjabat Ketua Umum PBNU tiga periode adalah KH Idham Chalid, KH Abdurrahman Wahid. Plus bagi mendiang Idham Chalik, tokoh ulama luar Jawa yang mampu kuat dan berakar di organisasi yang lahir di Jawa Timur tersebut. Tentu ketokohan Idham Chalid dari Kalimantan itu tak pula sembarangan di zaman orde lama itu. Belakangan, Idham Chalid dainugerahi pahlawan nasional oleh negara.

Begitu juga Abdurrahman Wahid. Tokoh pluralis yang akrap dengan sapaan Gus Dur ini adalah tokoh multi talenta. Ya, ulama yang mumpuni karena pergumulannya dengan dunia pesantren. Dia tokoh pertama yang memperkenalkan pesantren sebagai lembaga yang melahirkan ulama dan NU ke tengah publik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan