Mohon tunggu...
Damae Wardani
Damae Wardani Mohon Tunggu... broadcaster, MC -

"Write to look for the meaning of life." Tinggal di http://jalandamai.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Agupena, Jalan Literasi para Guru untuk Mencerdaskan Bangsa

3 November 2016   08:23 Diperbarui: 3 November 2016   12:07 117 2 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Terseret ke lingkaran penulis saja sudah sebuah kenikmatan yang tak boleh didustakan. Apalagi para penulis ini notabenenya adalah pendidik, pengajar, guru, dosen; pahlawan tanpa tanda jasa, pemilik profesi paling mulia. Sungguh, ini lebih nikmat dari kecemplung ke sumur es krim.

Lingkaran itu bernama Agupena. Asosiasi Guru Penulis Indonesia.

Selama saya sekolah, imej guru itu tak lebih dari 'orang yang paling membosankan dengan kehidupan super monoton'. Bayangkan, sejak dia lepas balita hingga manula, waktunya habis untuk berhadapan dengan mata pelajaran yang itu-itu saja. Tiada hari tanpa melangkahkan kaki ke sekolah yang sama, kecuali libur. Berinteraksi dengan manusia yang sama setiap saat, hingga pergantian tahun ajaran baru. Pokoknya kisah hidup guru hanya sepanjang jarak rumah dengan sekolah.

Diakui, keparnoan itu bahkan mendorong hasrat saya untuk melawan orang tua yang menginginkan saya menjadi guru, 5 tahun lalu. Dengan keukeuh-nya saya pilih jurusan terkece kala itu, Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Kece bagi saya karena memang sejak kecil saya suka dunia kepenulisan dan kepenyiaran. Usia TK saya sudah mengasilkan satu buku puisi (yang sampai saat ini belum pernah diterbitkan). Di usia itu pula saya punya cita-cita untuk jadi Pembawa Acara Berita di televisi.

Ternyata, pertemuan saya dengan Agupena kali pertama, 28 Oktober lalu, mematahkan semua kejumudan itu.

Bersama Pak Sawali Tuhusetya
Bersama Pak Sawali Tuhusetya
Saya berkenalan dengan puluhan guru dari seluruh Indonesia yang sangat inspiratif dan karya-karyanya luar biasa. Tanpa mengabaikan kewajiban mereka sebagai pendidik, di tengah himpitan jam kerja yang sudah menguras tenaga di sekolah, mereka justru tak henti berkreasi. Lewat pena, lewat kata.

Bahkan Agupena sudah dipercaya banyak pihak untuk menjalin kerjasama. Mulai penerbit buku, majalah/tabloid, web jurnal ilmiah, dan tak jarang juga berkolaborasi dengan instansi pemerintah untuk membuat project bersama. Oktober kemarin Agupena baru saja menelurkan antologi artikel dengan judul "Membangun Kapasitas Guru Penulis", dan cooming soon akan terbit karya kolaborasi Agupena dengan KPPPA. Mari kita nantikan. :)

Munas 1 Agupena
Munas 1 Agupena
Jangan dibayangkan tulisan-tulisan mereka hanya seputar bahan ajar. Malah tetap mengutamakan passion. Yang hatinya jatuh pada sastra dan budaya ya menggeluti kepenulisan sastra. Yang suka dengan pembahasan berat ya pilih jurnal atau karya tulis ilmiah. Ada juga yang lebih sreg dengan dunia jurnalistik dan punya profesi sampingan sebagai wartawan. Menulis buku panduan mata pelajaran? Jelaslah, ini tak perlu ditanya lagi, makanan sehari-hari.

Agupena juga menjembatani para guru ini untuk berjejaring. Mereka bisa menambah teman (bahkan keluarga) dari sesama anggota yang tersebar di 21 Provinsi dan 75 Kabupaten/Kota. Wuaw! Tak perlu khawatir kalau ada yang ingin keliling Indonesia, pasti disambut dengan tangan terbuka di semua wilayah.

Interaksi mereka juga tampak sangat intens melalui grup chat WhatsApp. Saling sharing info terbaru seputar dunia kepenulisan, diskusi ringan tentang apapun, sampai belajar bersama di grup itu. Tak ada yang merasa lebih pintar atau malu bertanya. Juga tak segan mengakui kelebihan orang lain tanpa menyombongkan apa yang mereka punya. Semua bahu membahu untuk mencapai tujuan bersama dan saling melengkapi.

Munas 1 Agupena
Munas 1 Agupena
Keberhasilan anggota Agupena dalam berkarya, secara otomatis tak hanya membawa berkah untuk pribadi masing-masing maupun Agupena. Tapi juga mengangkat harkat dan martabat bangsa. Tak satu dua yang sudah sering diundang menjadi keynote speaker di berbagai forum, nasional maupun internasional. Banyak yang jadi pembicara seminar/workshop di pelatihan kepenulisan. Bahkan ada yang menerima berbagai penghargaan dari instansi pemerintah atas sumbangsih mereka di bidang bahasa, sastra & budaya, juga kepenulisan. Luar biasa!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan