Mohon tunggu...
Fiksiana Artikel Utama

Letusan Gunung Kelud

13 Mei 2015   21:47 Diperbarui: 31 Agustus 2015   05:49 37
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Letusan Gunung Kelud

 

   Suatu masa, di saat Kerajaan Majapahit tengah berkuasa di tanah Jawa, terkisahlah seorang wanita cantik yang menjadi dambaan para pria disekitarnya. Wanita itu adalah Dyah Ayu Pusparani yang tak lain adalah anak Raja Majapahit, Prabu Brawijaya. Kecantikan Dyah Ayu telah dibuktikan dengan banyaknya bangsawan yang datang dari berbagai kerjaan di sekitar Majapahit untuk mempersunting sang putri. Banyak yang pulang pergi dari dan ke Majapahit hanya untuk meminta jawaban kepada sang prabu, pihak yang dengan penuh menetukan orang yang pantas untuk bersanding di sisi putri tercintanya. Tidak ingin terjadi kecemburuan di antara para bangsawan, Prabu Brawijaya memutuskan untuk belum menerima satu pun lamaran yang diajukan kepada putrinya. Di sisi lain, sang raja tidak menginginkan kerajaannya hancur karena serangan para bangsawan yang tidak sabar menanti jawaban darinya.

   Setelah berpikir keras dan menimbang berbagai kemungkinan, Prabu Brawijaya memutuskan untuk mengadakan sayembara. Sayembara untuk memperebutkan sang putri. Raja menginginkan menantu yang kuat dan tangguh. Ia mendengar bahwa busur Kiai Garudayeksa merupakan busur panah yang sangat kokoh sehingga sangat sulit untuk direntangkan. Ia menggunakan busur tersebut sebagai alat yang akan diujikan saat sayembara. Selain itu, raja juga hendak memastikan bahwa menantunya kelak merupakan orang yang pantas bersanding di sisi Dyah Ayu. Raja menambah tantangan untuk sayembara menggunakan gong Kiai Sekadelima. Gong yang terkenal memiliki kekuatan sakti, yang membuatnya menjadi sangat payah diangkat hanya dengan kekuatan satu orang dewasa.

   Berita mengenai sayembara telah tersebar luas di seantero Majapahit dan kerajaan sekitarnya. Pada hari yang sudah ditentukan, para bangsawan dan kesatria berkumpul di alun-alun kerajaan. Prabu Brawijaya serta Putri Dyah Ayu bersiap menanti menantu serta suami yang kelak akan mendiami keraton bersama mereka. Busur Kiai Garudayeksa dan Gong Kiai Sekadelima juga telah tertata rapi di tengah alun-alun. Dipukulnya sebuah gong kecil oleh sang prabu, tanda sayembara dimulai. Dengan tawa yang lantang dan dada terbusung, satu per satu bangsawan maupun kesatria mulai berbaris untuk unjuk aksi.

   Semua peserta beraksi, mulai dari mereka yang hanya sekedar berotot hingga yang berbadan besar dan mengerikan. Dari sekian banyak yang mencoba, tak satupun berhasil menyelesaikan tantangannya. Bahkan, beberapa dari mereka justru merasa kesakitan setelah gagal merentangkan busur dan mengangkat gong sakti.

   Sang prabu pasrah, hendak menutup sayembara tanpa hasil. Gong kecil tanda ditutupnya sayembara hendak dipukulnya. Seketika pula, datang seorang pemuda menghadapnya. Pemuda itu bertubuh selayaknya manusia biasa. Ia datang menunduk dan memberi hormat.

   “Paduka Prabu Brawajiya, izinkan hamba menghadap.”

   “Dengan senang hati, berdirilah! Siapakah dikau, tak pernah terlihat sedikitpun olehku dirimu di kerajaan ini.”

   “Lembu Sura menghadap Prabu.”

   “Apa yang terjadi denganmu?”

   “Saya terlahir seperti ini, untuk itulah Saya dinamakan Lembu Sura”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun