Mohon tunggu...
Daffa Ardhan
Daffa Ardhan Mohon Tunggu... Cerita, ide dan referensi

Menulis dalam berbagai medium, bercerita dalam setiap kata-kata. Blog: http://daffaardhan.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berubah karena Kesalahan

11 Mei 2020   12:05 Diperbarui: 11 Mei 2020   12:06 28 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berubah karena Kesalahan
Foto: pexels.com

Sering sekali saya mendengar kalimat, "Kalau kamu diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu lakukan?" Kebanyakan orang akan menjawab dengan kalimat, "Aku akan menghindari kesalahan dan mengubah jalan hidupku jadi lebih baik." Kira-kira begitu.

Saya rasa, jawaban tersebut merupakan pilihan yang akan orang-orang katakan karena  kebanyakan dari kita cenderung punya penyesalan. Terutama dengan hal buruk yang pernah dilakukan di masa lalu.

Tapi kalau saya di tanya, "Apa yang akan saya lakukan kalau diberi kesempatan kembali ke masa lalu?" Mungkin saya akan menjawab dengan jawaban yang paling logis.

Misalnya, saya tidak akan mau pergi ke masa lalu. Karena pertama, itu mustahil. Sampai saat ini saya tidak pernah percaya dengan konsep time travel.

Kedua, saya akan tanya balik, "Buat apa pergi ke masa lalu? Lebih baik diam di masa sekarang." Kalau pun saya berbuat kesalahan lalu menyesal, lebih baik saya memperbaikinya di masa yang akan datang.

Memang, setiap kali membayangkan masa lalu, saya cenderung merasa sedih. Saya merasa semua telah terlambat. Penyesalan itu pasti ada. Tapi ada alasan-alasan logis yang membuat saya berhenti memikirkan penyesalan lagi.

Semua kesalahan yang ada dalam hidup saya sudah terlanjur terjadi. Dan terus-menerus menyesal tidak akan pernah mengubah hidup saya jauh lebih baik. Justru, kalau saya hanya meratapi penyesalan, saya hanya akan sulit bangkit dan terus merasa terpuruk.

Saya tahu, sudah terlambat bagi saya untuk mengubah keadaan. Tapi pada prinsipnya, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Prinsip itu yang sekarang sedang saya jalankan.

Penyesalan saya seperti, andaikan dulu saya belajar lebih giat, mungkin saya bisa lulus di kampus yang paling saya inginkan. Sekarang perasaan itu tidak muncul lagi karena saya memilih menerima kenyataan dan menerima konsekuensinya karena waktu itu saya masih malas-malasan belajar.

Saya pun pernah menyesal karena sempat berhenti menulis selama setahun. Padahal setahun itu bisa saya gunakan untuk mengasah kemampuan menulis.

Saya merasa telat belajar menulis dibandingkan dengan beberapa orang yang sudah menekuni menulis sejak SMA. Tapi tidak ada yang salah dengan kata terlambat. Yg penting saya mau belajar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x