Kamaruddin Azis
Kamaruddin Azis profesional

Lahir di pesisir Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Blogger. Menyukai perjalanan ke wilayah pesisir dan pulau-pulau. Pernah kerja di Selayar, Luwu, Aceh, Nias. Mengisi blog pribadinya http://www.denun89.wordpress.com Dapat dihubungi di email, daeng.nuntung@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Rebutan Ruang di Pasir Perawan

23 Juli 2018   08:52 Diperbarui: 23 Juli 2018   17:32 1788 2 0
Rebutan Ruang di Pasir Perawan
Seruan dari Pulau Pari (dok: istimewa)

Jelang siang di Kepulauan Seribu. Dua pria berkulit putih berjalan ke pantai Pulau Pari. Seorang perempuan berambut pendek, berbikini, ada di antara mereka. Di dekatnya nampak pula kerumunan 'bule' dengan pakaian minimalis.

Pria yang lengan kanannya dirambati tattoo membetulkan letak baju serupa piyama tembus pandang yang membalut perempuan itu. Si perempuan berdiri mematung, pria lainnya berdiri di depannya sembari ikut membetulkan pakaian si perempuan.

Puluhan pasang mata memandangi tingkah pola ketiganya. Tidak lama, salah seorang pria melenggang, mengangkat tangan dan meloncat di atas pasir dengan gemulai. Dia menggamit tali ayunan dan melepas tawa.

Ketiganya adalah pengunjung Pulau Pari, tepatnya kawasan pesisir utara yang berjuluk Pasir Perawan.

Di sisi barat, di atas hammock, pria tua yang mengaku bernama Nihin duduk sembari selonjorkan kaki.

"Balik kapan? Naik perahu saya yuk," ajaknya saat saya menghampirinya. Senyumnya sekadarnya.

"Noh yang di dekat bebek-bebek," tambahnya sembari mengayunkan hammock seperti hendak meyakinkan.

Di dekat Nihin terdapat beberapa perahu alat tangkap ikan dari jaring sebagai tanda bahwa di pulau itu aktivitas nelayan tetap digeluti.

Menurut cerita, warga sebagai besar warga Pari adalah generasi dari Pulau Tidung, juga Tangerang. Mereka ada di situ sekira tahun 60-an. Sebagaimana dibenarkan Nihin.

Dia tersenyum saat saya menjawab baru sampai dan hanya hendak melihat-lihat sisi pulau.

"Kita mah gini aja, nunggu pengunjung yang mau naik perahu, keliling," kata pria berumur 60 tahun ini sembari menunjuk perahu yang lewat dan membawa 3 penumpang. Dia mengaku kelahiran Tangerang dan tinggal bersama anaknya di Pulau Pari.

Sekira 20 meter dari Tihin terlihat petak-petak yang nampaknya sebagai penanda area rekreasi milik warga setempat. Di dekatnya berdiri warung dan tempat penyewaan sepeda.

Di seberang, terlihat hamparan mangrove yang menghijau, lebat dan berwarna cerah. Sebagian lainnya nampaknya baru saja ditanam.

Menteri Susi bersama Direktur Walhi (dok: KKP)
Menteri Susi bersama Direktur Walhi (dok: KKP)
Disambangi Menteri Susi

Tidak jauh dari tempat itu, sekira dua jam sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pusjiastuti baru saja bersitatap dengan warga Pulau Pari (Minggu, 22/7).

Susi memotivasi warga untuk peduli lingkungan, tak mencemari lautan dengan sampah plastik, tak merusak terumbu karang dan menjaga mangrove dari eksploitasi tangan-tangan serakah.

Tak hanya menghimbau, Susi, ditemani Direktur Eksekutif Walhi, Nur Hidayati dan perwakilan masyarakat setempat, Syahrul Hidayat ikut menanam pohon mangrove tidak jauh dari destinasi ketiga pengunjung tadi di sisi utara Pulau Pari.

Pulau seluas tidak kurang 40 hektar menyimpan bara konflik. Rentan karena deru perlawanan warga atas hasrat kuasa beberapa pihak atas lahan pesisir dan laut di pulau yang relatif jauh dari pusat Kota Jakarta ini,

Saat bertemu warga, Menteri Susi menyatakan bahwa Indonesia pulaunya banyak, ada 17504 pulau. Pulau Pari hanyalah salah satu dari tujuh belas ribu lima ratus pulau itu.

"Kita welcome untuk semua yang akan mengelola, tapi kalau negara yang pulaunya tujuh ribu limaratus ini, pulau satu saja diributin, bagaimana?"  katanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3