Mohon tunggu...
Kamaruddin Azis
Kamaruddin Azis Mohon Tunggu... Konsultan - Profil

Lahir di pesisir Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Blogger. Menyukai perjalanan ke wilayah pesisir dan pulau-pulau. Pernah kerja di Selayar, Luwu, Aceh, Nias. Mengisi blog pribadinya http://www.denun89.wordpress.com Dapat dihubungi di email, daeng.nuntung@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ojek dan Sisi Kemanusiaan Kita

2 September 2017   07:16 Diperbarui: 2 September 2017   20:07 1970
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ojek di jalanan kita (foto: Kompas)

Sebagaimana layaknya pencari laba, mereka harus berinvestasi waktu, tenaga, material (beli atau cicil motor), mereka juga datang dari sebuah komunitas yang penuh embel-embel sosiologis-antropologis-historis, yang mengalami dan memberi corak derap kehidupannya yang agraris-maritim.

Dengan ojek mereka menghitung laba-rugi, berapa waktu terbuang, berapa bensin habis, berapa rokok terbuang hingga berapa yang harus dibawa pulang ke dapur-dapur rumah tangga mereka.

Namun sebagaimana manifestasi perubahan berbasis teknologi, ojek juga terancam oleh moda yang lain.

Saya kira, ojek tak bertahan lama di Galesong. setidaknya sejak menjamurnya rumah-rumah bentor yang didatangkan dari Gorontalo pertama kali itu. Jujur saja, saya tidak melihat belakangan ini di Galesong, setidaknya satu semester terakhir.

"Ojek adalah manifestasi perkembangan zaman yang ternyata lambat laun, juga mengalami turbulensi sosiologis dengan pabentor," kurang lebih begitu Daeng Antanija, pengojek yang kalah dan berpindah ke bentor yang lebih diminati wanita-wanita pencinta pasar.

Yang menarik dari transformasi ke bentor ini adalah dia juga disukai para pemuda pesolek yang tidak mau mau rambutnya diobrak-abrik helm ojek. Alasan lainnya, yang disumpah-serapahi pengojek adalah pabentor royal menghibur penumpang dengan musik Bang Rhoma sepanjang jalan.

Di Galesong, tahun ini, saya bisa simpulkan bahwa masa depan ojek telah dirontokkan oleh bentor. Setidaknya, sebagaimana yang terjadi di Galesong.

Dari sini kita bisa simpulkan bahwa ojek atau bentor, keduanya meramu tabiat dasar manusia, kehendak dan keterpenuhan harapan ekonomi mereka, keluarga mereka, masa depan mereka.

Khusus untuk praktik ojek yang masih ada di luar Galesong, bagaimana dengan tabiat atau jiwa sosial mereka?  Sudikah dibayar murah? Atau, seperti apakah tingkah pola mereka pada yang masih membutuhkan meski telah mengadopsi aplikasi fitur online?

Refleksi pengalaman

Tentang itu, saya ada cerita. Di antaranya ketika harus menggigit jari pada tahun lalu di bilangan Cempaka Putih, Jakarta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun