Mohon tunggu...
Daeng
Daeng Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Indahnya Papua: Berbagi, Sama Rasa, Tanpa Perbedaan

22 Maret 2019   14:51 Diperbarui: 22 Maret 2019   15:02 0 2 0 Mohon Tunggu...

Papua suatu daerah yang sangat indah, baik dari keindahan budaya maupun alamnya, terlepas dari informasi yang beredar terkait Papua seperti adanya kelompok bersenjata ataupun dengan karakter Orang Asli Papua (OAP) yang cenderung keras. Namun tidak mengurangi rasa kagum dan bangga terhadap Papua, apalagi jika melihat teman-teman kuliahku yang berasal dari Papua tampil dengan tarian khasnya seperti tarian Yospan dan Sajojo, selain itu saya juga suka mendengar cerita-cerita lucu semacam stand up comedy yang dikenal dengan "MOP".

Hampir setiap saat bila saya bertemu selalu ingin mendengar MOP tersebut, karena dengan candaan tersebut saya selalu terhibur, dari sanalah hilang image bahwa OAP keras. Ditambah dengan gaya atau fashion mereka apa adanya dengan ciri khas reggae nya, yang terkesan santai terlepas dari beban hidup yang keras dan berat, sangat nyaman ketika bersama mereka. Rasa ini belum hilang ketika berkunjung ke Papua, saya sudah pernah ke Sorong, Jayapura, Mimika dan Merauke.

Keindahan alamnya seakan menghipnotis diri sendiri selain pemandangannya masih hijau dan udaranya sangat sejuk jauh dari polusi, dimana kenikmatan tersebut sangat jarang ditemui di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta atau Surabaya. Keindahan alamnya memang berbanding terbalik dalam pengelolaan SDA nya, dimana masih sangat jauh sekali pengelolaannya ditambah dengan minimnya infrastruktur yang ada, hal tersebut menyebabkan munculnya image peradaban yang tertinggal, dibandingkan dengan kemajuan di era melinial saat ini.

Hati seakan terpukul melihat beberapa kawan-kawan Papua tersebut muncul dengan unjuk rasa menuntut Papua menjadi suatu negara yang merdeka, sehingga terbesit keingintahuan dasar dari keinginan kawan-kawan tersebut. Apakah karena perbedaan pembangunan yang ada di wilayah paling timur dari negara Indonesia ini, dimana selaras dengan rendahnya tingkat kesejahteraan penduduknya serta SDM nya atau ada hal lain yang lebih mendasar.

Dari beberapa informasi yang didapatkan hal ini dikarenakan adanya perbedaan informasi sejarah yang terjadi di Papua, terlepas dari perbedaan sejarah Papua tersebut, kawan-kawanku kalian masih memiliki seluruh hak sebagai warga negara Indonesia. Saya sendiri juga tidak melihat kalian semua berbeda dengan kami sebagai warga negara Indonesia, bahkan beberapa telah seperti saudara saya sendiri.

Terkadang kalian sendirilah yang seolah-olah membentuk dinding pemisah. Saya pernah berkelakar dengan beberapa kawan-kawan dari Papua, seandainya Papua benar-benar merdeka bagaimana kalian isi kemerdekaan sementara banyak diantara kalian tidak benar-benar menyelesaikan studi disini.

Bahkan beberapa dari kalian Drop Out tanpa ada kejelasan kegiatan, sementara yang mendapatkan beasiswa baik dari Pemda atau Pemerintah Pusat, ada yang menyia-nyiakan. Padahal hampir diseluruh kota studi yang berada diluar Papua juga mendapatkan perhatian berupa asrama ataupun kontrakan sesuai daerah asalnya di Papua. Muncul rasa cemburu dengan fasilitas tersebut, karena saya pernah mengikuti salah satu kawan dan begitu enaknya kawan tersebut pergi kemanapun selalu ada tempat untuk singgah. Rasa persatuan yang kuat tersebut sangat bagus, alangkah lebih indahnya lagi bila bisa bersatu dengan warga negara Indonesia lainnya.

Bila memang hal tersebut dirasa berat saya hanya ingin berpesan, "Papua tanah yang sangat subur dengan kekayaan sumber daya alamnya, manfaatkan segala sumberdaya yang ada untuk membangun Papua. Papua itu bukan hanya Freeport, Freeport hanyalah sebagian kecil dari Papua, masih banyak tanah dan lautan yang berpotensi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua".  Menurut saya kemerdekaan yang sejati adalah memiliki kebebasan tidak hanya menyampaikan pendapat akan tetapi juga menggunakan segala SDA yang ada untuk kemajuan Papua itu sendiri.

Jadilah bagian dari perubahan dan kemajuan Papua dibandingkan dengan membiarkan potensi tersebut terbengkalai dan digunakan oleh orang diluar Papua. Menjadi agent of change memang tidak mudah, namun dengan rasa persatuan dan kesatuan yang ada bersama-sama sebagai warga negara Indonesia saya rasa hal itu tidak sulit dan bukan hanya menjadi anggota atau bagian saja, akan tetapi menjadi pemimpin dari pergerakan Papua bangkit dan maju dalam segala aspek kehidupan.