Mohon tunggu...
D Asikin
D Asikin Mohon Tunggu... Wiraswasta - hobi menulis

menulis sejak usia muda

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Koalisi Kumpul Kebo

8 Juli 2022   13:13 Diperbarui: 8 Juli 2022   13:15 108 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Sudah tiba waktunya, partai partai politik sebesar apapun mau tidak mau harus  berkoalisi. Dua atau tiga partai bersekutu. Ini sebuah keniscayaan untuk dapat menampilkan calon Presiden dan Wakil Presiden. Sebabnya adalah ketentuan Presidential Threshold 20 % sesuai UU Pemilu No 7 tahun 2017. Syarat itu tak dapat dijangkau oleh sebuah partai apapun. Hanya PDI-P satu satunya yang dapat melenggang sendirian. Dalam pemilu 2019, PDIP meraih angka kemenangan 22, 26 %. Jadi sudah bisa tampil "sorangan wae".  Itupun kalau berani.

Keniscayaan ini akan mengharuskan mereka mengenyampingkan prinsip kesamaan visi ataupun ideologi. Tak penting itu. Biar saja.  Tak ada koalisi abadi. Tak ada pernikahan sakral dengan janji sehidup semati. Kapan kapan harus bercerai, gpp. Tinggal bilang goodbye. Habis urusan.

Menarik sekali apa yang ditulis teman seprofesi saya wartawan Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah artikel berjudul "Kuda Troya dalam politik". Ia menyebut koalisi semacam itu sebagai koalisi "kumpul kebo ". Hehehe pragmatis tapi lucu yah. Jadi ingat kasus kumpul kebo di Yogyakarta yang jadi top news tahun 80an. Waktu itu terungkap banyak mahasiswa dan mahasiswi  yang hidup bareng bareng  layaknya pasutri tanpa pernikahan.

Kembali ke koalisi partai partai menjelang pilpres 2024, sampai hari hari ini masih terlihat kemungkinan akan muncul 4 poros/koalisi.

 Pertama, yang sudah mendekati final adalah poros Indonesia Raya antara Gerindra (13,75 %) dan PKB (10,09), akulmulasi 23,84. Siapa Capres siapa Cawa masih belum disepakati. Tapi dilihat dari azas kepatutan tentu saja Prabowo-Imin.

Kedua, koalisi yang sudah lahir sebelumnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), disebut juga koalisi semut merah, antara Golkar 14,7, PAN 7,65 dan PPP 3,3, akumulasi 25,73. Siapa yang akan tampil sebagai capres cawapres, dilihat dari rangking kursus di parlemen tentu saja Ketua umum Golkar Airlangga Hartarto, cawapresnya Zulkifly Hasan. Dan mau tidak mau si bungsu PPP harus mau tunggu jongko saja.

Yang ketiga, adalah poros Nasdem 10,26, PKS 8,7 dan Demokrat 9,39, akumulasi 28,35. Poros ini masih sedang pedekate.

Tapi ada ancaman tidak terwujud. Pasalnya Nasdem yang sudah hampir pasti mengajukan Anis Baswedan menolak AHY sebagai Cawapres. Alasannya Surya Paloh hanya males kalah saja.

Adapun Nasdem mengusung Anis,  ada dua pertimbangan, pertama rating Anis di bursa survei tinggi, dan kedua, Anis itu termasuk deklarator ormas Nasional Demokrat cakal bakal partai Nasdem.

Jika Demokrat tidak masuk, maka Nasdem dan PKS tidak sampai pada Presidensial Threshold, akumulasinya hanya 18,96%.

Tapi beberapa pengamat memprediksi Nasdem akhirnya akan setuju Anis-AHY. Mungkin nanti ada yang menamai koalisi "terpaksa saja". Apa boleh buat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan