PRIADARSINI (DESSY)
PRIADARSINI (DESSY) karyawan swasta

penikmat jengQ, pemerhati jamban, penggila serial Supernatural, pengagum Jensen Ackles, penyuka novel John Grisham, pecinta lagu Iwan Fals, pendukung garis keras Manchester United ....................................................................................................................... member of @KoplakYoBand

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

[Wisata Kenyang] Kangen Kuliner Semarang

12 Februari 2019   15:40 Diperbarui: 14 Februari 2019   13:53 186 4 5
[Wisata Kenyang] Kangen Kuliner Semarang
Lawang Sewu | dok pribadi

Semarang mungkin bukan tujuan wisata yang diincar banyak orang. Walau sebenarnya banyak juga obyek wisata yang menarik di Semarang, hanya masih kurang dijadikan daya tarik. Sehingga kalau ada yang ngajak buat liburan ke Semarang, pasti jawabnya, "ngapain ke sana, ketauan ke Jogjakarta atau ke Solo."  Tapi buat orang yang pernah tinggal di Semarang, Semarang itu ngangenin, terutama kulinernya. 

Karena kuliner Semarang jarang ditemui di kota lain. Tahu petis aja, yang berceceran hampir di setiap persimpangan di Semarang, susah dicari di kota lain. Jadi dari berapa bulan lalu ceritanya pengen banget makan koyor, tapi di Bekasi maupun Jakarta, nggak nemu orang yang jualan koyor. Akhirnya kepikiran buat ke Semarang.

Nyari tiket Kereta Api, dapat jam yang cocok, berangkat hari Jumat pagi jam 06.55 WIB naik Tawang Jaya, biar sampai Semarang pas jam makan siang. Pulangnya hari Minggu sore jam 16.00 WIB naik Argo Muria, tujuannya sama, biar sempat makan siang sebelum balik ke Bekasi.

Jarak kaki di Kereta Api Tawang Jaya Premium | dok pribadi
Jarak kaki di Kereta Api Tawang Jaya Premium | dok pribadi
Sedikit cerita tentang Kereta Api Tawang Jaya Premium, pas ngeshare di Instagram dengan caption "ternyata ada kereta ekonomi rasa eksekutif". Eh banyak yang bilang tapi lutut sempit banget, nggak bisa gerak. Hmm buat aku yang kemana-mana sering bermasalah dengan lutut, secara kaki aku lumayan panjang, tapi di kereta Tawang Jaya Premium kemarin, lutut nggak sampai mentok, lumayan lapanglah. Atau mungkin pengaruh posisi tempat duduk dan gerbongnya, nggak tau juga sih. 

Jarak kaki di Kereta Argo Muria | dok pribadi
Jarak kaki di Kereta Argo Muria | dok pribadi
Emang sih kalau dibandingin dengan Kereta Api Argo Muria, jauh banget bedanya. Tapi buat aku, Kereta Api Tawang Jaya Premium sudah cukup nyaman sih. Ini kok penting banget dibahas yaa.. Siapa tau ada yang pengen tau ya kan.

Untuk hotel di Semarang, rekomendasi aku sih, cari hotel di seputaran Simpang Lima, biar kemana-mana gampang. Aku kemarin nginep di hotel yang di Jalan Pandanaran, bukan di Aston sih, tapi di sebelahnya. Hihihi. Milih Hotel Pandanaran sih karena kalau mau beli oleh-oleh, dekat, bisa jalan aja dari hotel. Selain itu makanan sarapan pagi di hotelnya, juga lumayan enak-enak.

Begitu sampai di Stasiun Poncol, langsung menuju hotel, pakai Taksi Bluebird pesan lewat MyBluebird, jangan khawatir di Semarang, naik Bluebird murah, nggak kayak di Jabodetabek. Dari Stasiun Poncol ke Hotel Pandanaran, nggak sampai Rp. 20.000.

Setelah naro barang dan sholat di hotel, tujuan pertama makan Koyor Makmi. Walau dulu 6 tahun tinggal di Semarang, nggak pernah makan di Makmi. Dulu sering makan Koyor, di Jalan Kusumawardani, yang rasanya top banget, tapi pas sudah lulus, ke Seamrang lagi, terus mampir ke sana, warungnya sudah nggak ada. Hiks.

Pas cek di PETA Google, ternyata jarak dari hotel hanya 1.3 KM, ya udah secara dah biasa jogging, kami memilih jalan santai ke Warung Nasi Koyor Makmi, lumayan juga sih jalan ke sana, tapi jadi asik aja. Sampai di sana, rada ragu, warungnya nggak meyakinkan gitu, tapi kok bisa terkenal. Ya udah masuk aja, udah terlanjur jalan jauh juga.

Nasi Koyor Makmi | dok pribadi
Nasi Koyor Makmi | dok pribadi
Ternyata pas dicoba, uenaaakkkk puoooolll, mirip dengan Nasi Koyor yang dulu di Kusumawardani. Nggak nyesel lah jalan jauh-jauh ke sini. Kata Mbaknya, Nasi Koyor Makmi ini sudah ada sejak tahun 1950-an, dan aku selama tinggal di Semarang, nggak tau dong. Katrok amat yak.

Dari Warung Makmi ini, balik ke hotel, jalan lagi, karena bakalan ngelewati Lawang Sewu, jadi bisa mampir dulu. Obyek wisata ini pun belum pernah aku kunjungi, karena dulu jama kuliah di Semarang, Lawang Sewu tidak pernah dibuka untuk wisata.

Narsis di Lawang Sewu | dok pribadi
Narsis di Lawang Sewu | dok pribadi
Asli di Lawang Sewu ini banyak ruang yang asik buat foto-foto, sampe pegel ngiterinnya. Setelah puas foto-foto narsis, dengan pose ala kadarnya, kami kembali lagi ke hotel, buat mandi, dan leyeh-leyeh.

Selepas maghrib, tujuan selanjutnya ke Simpang Lima, ada Bakso andalan dulu jaman pacaran (eaaaaaa), namanya Bakso Kumis, tempatnya di Plaza Simpang Lima. Berhubung dari hotel ke Simpang Lima deket, kami jalan kaki lagi dong deh sih. 

Bakso Kumis | dok pribadi
Bakso Kumis | dok pribadi
Pas masuk ke Plaza Simpang Lima, kok dah berubah banget, jadi kayak rada semrawut gitu, dan AC-nya nggak berasa. Pengap banget. Sambil kebingungan, nyari-nyari, jadi nggak yakin kalau itu bakso masih ada. Akhirnya nemu juga eskalator yang biasa kami pakai dulu menuju ke lokasi. Dan Alhamdulillah masih ada, tapi tempatnya sudah menyedihkan, jadi tampak kumuh dan tak terawat. 

Habis tak bersisa | dok pribadi
Habis tak bersisa | dok pribadi
Untungnya rasa baksonya  masih seperti dulu, masih maknyuuuuzzzzz. Tapi sayang Es Kelapa Muda dan Es Campurnya sudah tak seperti yang dulu. Rasanya kurang enak dan kelapa mudanya, udah nggak muda lagi. Harganya yang pasti dah naik dari yang dulu, tapi jelas masih murah daripada di Jabodetabek.

Habis dari ngebakso, nongkrong dulu bentar di Simpang Lima, mengenang masa-masa pacaran dulu (eaaaa lagiii). Terus baru balik, jalan lagi ke hotel. Sampai hotel kaki rasanya udah nggak jelas, pegel juga ternyata setelah seharian jalan ke sana ke mari.

Dan aku pun udah pegel ngetiknya ini, edisi hari kedua, lanjut besok aja ya. Dijamin kulinernya lebih bikin ngiler. :)

___

Bersambung...

___

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2