Mohon tunggu...
Media Artikel Utama

Pentingnya Aspek Visual dalam Jurnalisme Multimedia

19 Oktober 2017   10:43 Diperbarui: 19 Oktober 2017   18:04 0 3 1 Mohon Tunggu...
Pentingnya Aspek Visual dalam Jurnalisme Multimedia
Olah digital. Dok wikimedia

Jurnalisme yang kita kenal pada awalnya masih menggunakan media konvensional seperti media cetak, radio, dan televisi. Masing-masing media pun pada saat itu masih bergerak sendiri- sendiri dan belum ada kesinambungan disini. Seiring berjalannya waktu terjadi banyak perubahan, salah satunya adalah perubahan dalam produksi dan konsumsi berita. 

Kalau dilihat dari konsumsi berita, masyarakat kini tak lagi menjadi viewer namun menjadi seorang user dimana mereka menjadi semakin aktif serta mereka pun kini juga menjadi seorang produser berita juga (Lister, Dovey, Giddings, Grant, & Kelly, 2009). Dari aspek produksi pun para produser perlu memutar otak lagi karena userdapat memproduksi konten sendiri serta mereka perlu belajar bagaimana menyampaikan berita diberbagai media (Lister, dkk, 2009).

Tantangan para produser kini semakin meningkat sejak internet hadir karena mereka perlu melakukan penyesuaian lain sebab kita tidak bisa begitu saja memindahkan konten dari media konvensional ke media berbasis internet (Bradshaw, 2017). Kalau media cetak diambil tulisannya, radio diambil aspek audionya, dan televisi diambil aspek visualnya maka ketika semua aspek tersebut diintegrasikan dengan internet maka lahirlah apa yang kita sebut sebagai jurnalisme multimedia (Quinn, Filak, 2005). Jurnalisme multimedia adalah tentang mengambil kekuatan masing-masing media dan dikombinasikan sehingga para produser dapat memproduksi sebuah berita yang lebih menarik.

Prinsip BASIC dalam Jurnalisme Multimedia

Dalam prakteknya jurnalisme multimedia perlu memperhatikan beberapa aspek yaitu brevity, adaptability, scanability, interactivity, dan community & conversation. Aspek-aspek ini biasa disebut sebagai BASIC yang dicetuskan oleh Paul Bradshaw. Prinsip BASIC ini perlu diperhatikan supaya usermerasa nyaman saat membaca berita kita. Berikut penjelasannya (Bradshaw, 2017).

Brevity (Keringkasan)

Dalam menyajikan berita dalam sebuah web kita perlu memperhatikan aspek keringkasannya karena ketika membaca teks di web kita lebih lambat membacanya serta lebih suka teks yang singkat (Nielsen, 1996). Sehingga trik yang bisa dilakukan adalah memecah tulisan kita menjadi beberapa bagian atau biasa disebut sebagai chunking (Bradshaw, 2017).

Adaptability (Kemampuan Adaptasi)

Aspek ini diterapkan lebih kejurnalisnya daripada kontennya bahwa mereka harus bisa bekerja dengan semua media baik itu tulisan, gambar, dan video. Meskipun mereka tak perlu jago di semua media tersebut namun mereka perlu setidaknya memahami dasar dari setiap media sehingga berita yang mereka hasilkan nantinya dapat diterima dengan baik (Bradshaw, 2017).

Scanability

Ketika membaca sebuah berita seringkali kita bukan dengan sengaja kita bisa membacanya karena ketika kita mencari sebuah topik dengan kata kunci tertentu di mesin pencari maka akan muncul berita tersebut. Maka ketika membuat sebuah berita kita perlu memperhatikan judul dan kata-katanya sehingga dapat ditemukan dalam mesin pencari serta bukan tidak mungkin kalau pembaca sampai disebuah berita karena mengklik sebuah link dari berita lain (Bradshaw, 2017).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x