Cuk Riomandha
Cuk Riomandha

Selalu; aku gamang ketika akan menuju ke tempat suci, lantaran aku tahu pasti ketidaksucianku. (Gus Mus)

Selanjutnya

Tutup

Humor

I Do Love Basiyo

13 Januari 2011   12:23 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:38 1900 1 4
Nama Basiyo, pertama kali saya dengar ketika saya masih kecil. Justru ketika mendengar kabar bahwa beliau meninggal dunia. Yang menarik perhatian saya waktu itupun justru pada isu bahwa yang meninggal adalah pelawak BAGYO (Kwartet Jaya) ... yang kemudian di ralat bahwa yang meninggal adalah pelawak dari "jawa" yang bernama Basiyo.

Saya mulai berdiam di Jogjakarta mulai 1992, namun saya tidak serta merta mengenal kultur kesenian jogja. Sebagai orang yang besar di Surabaya, Jula-juli Guyonan Kartolo Cs jelas lebih mengena di telinga saya, bahkan Ludruk RRI-nya Kancil Soetikno cs juga masih lebih dekat dengan frekuensi saya. Tokoh "mataraman" juga sempat muncul menjadi bahan "garap-garapan" di Kartolo melalui "Ki Sontolowo". Perbedaan gaya bicara yang "ke-jogja-jogja-an"nya menjadi bahan lelucon buat gaya jawa timuran. (courtesy of Fajar Record)

Menjelang 1998, saya mulai menyukai dan berburu hal-hal yang berbau "tradisional" terutama dalam bentuk digital. Saya mulai menikmati acaranya mas sapto (alm) di radio geronimo, acara dangdutnya radio persatuan hingga lawakan-lawakan yang hadir setelah tengah malam di beberapa radio, salah satunya adalah Basiyo. Di sini saya mulai belajar menikmati guyonan ala mataraman.

Perkenalan saya tersebut, kemudian diperkuat ketika pada tahun 2001 saya mendapatkan 2 buah cakram berisi file digital yang isinya semuanya adalah Dagelan Mataram Basiyo. Akhirnya, saya menjadi ketagihan seperti ketagihan saya terhadap Jula-juli dari Kartolo Cs. Ada dua judul yang menjadi favorit saya, dan tidak bosan-bosannya saya putar: "Maling Kontrang-Kantring" dan "Basiyo mBecak".

Saya kira dimulai sejak tahun 2000-an, demam Basiyo sudah dimulai lagi. Banyak radio yang mulai memutar ulang album-album lawas Basiyo, banyak orang mendiskusikan dan menggunakan kembali kalimat-kalimat Basiyo, banyak pula orang-orang berburu mp3 dari Basiyo (termasuk saya). Beberapa enterpreneur tawa yang lebih muda juga menggunakan "pakem" Basiyo sebagai rujukan seperti Plat AB, Rabies, Anang Batas dan sebagainya.

Perkembangan dunia maya juga mempercepat tumbuhnya komunitas pecinta Basiyo, ia menjadi dirindukan kembali kehadirannya. Acara PANGKUR JENGGLENG dengan siluet Basiyo sebagai Background-nya yang dipandegani oleh Ngabdul dan Milko seolah-olah adalah puncak kehadirannya (kembali). Kaset-kaset lamanya bahkan mulai diburu banyak orang. Seorang teman yang tinggal di Batam bahkan terinspirasi untuk membuat museum kaset lawak dengan menitip ke saya untuk membeli semua judul kaset Basiyo yang ada. Saya sendiri sebenarnya masih penasaran dengan profil non seniman dari Basiyo, apakah mantan militer aktif? adakah yang sudah menulis biografi-nya? Yang jelas Basiyo, Sang Legenda Dagelan Mataram itu kini sudah tenang beristirahat di pemakaman umum Terban Yogyakarta. Sumonggo Kito Nguri-Uri Kabudayan Gemujeng ! --cuk-mei2009--