Mohon tunggu...
Cucum Suminar
Cucum Suminar Mohon Tunggu... Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Saat Pembayaran Ditolak karena Uang (Dinilai) Rusak

26 November 2020   11:15 Diperbarui: 26 November 2020   11:20 175 23 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Pembayaran Ditolak karena Uang (Dinilai) Rusak
Foto: Shutterstock

Tadi malam (25/11), saya membeli martabak di salah satu ruko di kawasan Bengkong, Batam, Kepulauan Riau. Seperti biasa, saat martabak yang saya pesan hampir jadi, saya buru-buru membayar ke kasir. 

Tujuannya, saat martabak jadi saya bisa langsung pulang. Apalagi letak kasir di dalam ruko, sementara tempat pembuatan martabak berada di halaman depan ruko.

Saat membayar, tidak ada keanehan apapun. Saya memberikan uang Rp100.000 yang beberapa hari lalu saya ambil di salah satu mesin ATM bank BUMN ke kasir. 

Tak lama kasir memberi kembalian Rp51.000. Setelah membayar, saya duduk di deretan kursi depan ruko yang disediakan sambil menunggu martabak yang saya pesan jadi.

Beberapa menit setelah saya duduk, tiba-tiba saya dihampiri salah satu pembuat martabak di ruko tersebut. Ia menanyakan apakah saya punya uang lain? Terus saya tanyakan memang kenapa dengan uang yang saya bayarkan tadi. Si pembuat martabak tersebut mengatakan, kasir minta ditukar.

Saya menghampiri kasir tersebut. Lalu saya menanyakan mengapa uangnya minta ditukar. Kasir mengatakan uang yang saya bayarkan robek. Saat saya lihat memang ada robekan sedikit. Tidak sampai satu senti meter. Itu pun sudah direkatkan dengan perekat transparan. Sehingga, bila dilihat selintas, tidak terlihat robekan.

Saya mengatakan, uang tersebut masih layak digunakan untuk transaksi. Apalagi tidak ada bagian yang hilang. Namun, kasir tersebut kukuh tidak mau menerima. Saat itu, saya sebenarnya ingin langsung saja membatalkan pembelian. Ambil uangnya. Pulang. Malas berurusan dengan orang seperti itu.

Apalagi saya juga tidak membawa uang lain. Saya hanya membawa selembar uang itu. Tidak membawa dompet, tidak membawa kartu ATM, bahkan tidak membawa ponsel. Niat saya memang hanya membeli martabak. Kebetulan jaraknya hanya sekitar 500 meter dari rumah. Jadi tidak membawa apapun lagi.

Namun masalahnya, itu termasuk martabak favorit saya dan keluarga. Kalau saya tiba-tiba pergi dan membatalkan pembelian, khawatir besok-besok kalau beli lagi jadi tidak enak sendiri. Walaupun setelah kejadian itu, saya kok rasanya malas beli martabak di sana lagi hehe.

Saat saya sedang bingung, tiba-tiba si pembuat martabak yang tadi meminta saya menemui kasir bilang, daripada bolak-balik ke rumah ngambil uang yang lain, mending berbelanja saja di Indomaret yang terletak di sebelah ruko martabak tersebut. Ia bilang, pasti laku kalau dibelanjakan di sana.

Tuh kan, pembuat martabak itu sendiri mengakui kalau uangnya masih layak untuk transaksi.  Dan benar saja, saat uang tersebut dibelanjakan di Indomaret tersebut, tidak ada insiden apa-apa. Uang diterima seperti biasa.     

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN