Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Pengalaman Saat Harus Melahirkan dengan Cara Sesar

5 Oktober 2018   19:26 Diperbarui: 6 Oktober 2018   12:01 3058 5 4
Pengalaman Saat Harus Melahirkan dengan Cara Sesar
Gambar diambil dari dream.co.id

Saya termasuk salah satu ibu yang lebih memilih melahirkan dengan cara spontan atau normal. Bukan, bukan takut kena cap "ibu bla.. bla.. bla.." seperti yang sering didengungkan oleh sebagian emak-emak nyinyir. Namun, lebih kepada ngeri disuntik, takut disayat, dan khawatir dengan masa pemulihan bedah cesar yang konon kata orang-orang lumayan lebih lama.

Itu makanya saat hamil anak pertama, saya selalu mensugesti diri untuk melahirkan secara normal. Alhamdulillah, sesuai harapan, anak pertama dilahirkan dengan cara normal, meskipun sang bidan atau perawat/ners yang membantu persalinan harus membantu saya mengedan dengan mendorong perut bagian atas. Selain itu, tempat bersalin disekitar jadi heboh karena saya tak henti berteriak. Beruntung dokter kandungan dan seluruh staf rumah sakit yang membantu sangat sabar.

Sesuai harapan, saya juga pulih lumayan cepat. Tengah malam melahirkan, paginya saya sudah bisa langsung berjalan, menggendong bayi, bahkan mandi dan membersihkan diri, meski tetap masih ada sisa-sisa rasa "ngilu". Namun, secara keseluruhan saya merasa lumayan baik.

Satu minggu usai melahirkan, saya malah sudah beraktivitas (hampir) seperti biasa, saya bahkan sudah berani bawa motor sendiri, walaupun hanya ke depan komplek yang berjarak beberapa meter dari rumah. Itu makanya saat dipercaya kembali hamil anak kedua, saya kembali berdoa agar bisa melahirkan normal.

Namun setiap persalinan membawa cerita sendiri-sendiri. Meski sejak awal hingga kontrol terakhir dokter mengatakan si calon bayi dalam kondisi sehat, baik, dan posisinya bagus untuk dilahirkan secara normal, tetapi pada detik akhir saya terpaksa harus menjalani persalinan secara cesar.

Setelah menjalani induksi selama hampir delapan jam, tiba-tiba air ketuban pecah dan sudah berubah warna, sementara bukaan lahir tak juga bertambah. Calon bayi yang saya kandung tiba-tiba dinyatakan dalam kondisi gawat janin sehingga harus segera dilakukan operasi sesar. Meski deg-degan, akhirnya saya dan suami mengiyakan untuk menempuh jalan tersebut.

Jangan "Ngeyel" dengan Pendapat Sendiri

Saat saya akhirnya memilih operasi sesar ada saja suara sumbang yang mengatakan, "Ah, bisa-bisanya dokternya aja kali biar cesar, tak mau repot." Saya hanya diam saja, tak menanggapi, toh yang tahu cerita secara keseluruhan hanya saya dan suami, termasuk bagimana karakter dokter kandungan yang menangani saya.

Dokter kandungan yang membantu persalinan saya sejak anak pertama itu sangat pro melahirkan secara spontan/normal. Saat persalinan saya bermasalah, ia pun tidak memaksa untuk sesar, hanya menyarankan, dan memberitahu konsekuensi terburuk yang akan dialami bila saya tetap bertahan untuk melahirkan normal. Bila saya dan suami menolak pun mungkin tidak apa-apa, tetapi risiko tanggung sendiri.

Namun saya dan suami tidak mau mengambil risiko. Itu makanya saya dan suami sangat manut dengan anjuran dokter. Toh yang berpengalaman menangani persalinan adalah dokter tersebut, bukan saya, apalagi suami. Alhamdulillah akhirnya saya dan si (calon) bayi bisa melewati proses persalinan dengan baik.

Setelah berlalu beberapa waktu, ada beberapa teman dan kerabat yang justru mengatakan beruntung saya nurut dengan si dokter kandungan. Menurut salah satu teman, ada kerabatnya yang "ngeyel" dengan pendapatnya sendiri. 

Saat dokter kandungan menyarankan operasi sesar karena bayi yang dilahirkan diprediksi memiliki berat 3,6 kg --dan akan sulit untuk dilahirkan normal, ia kukuh akan melahirkan secara normal.

Alasannya, anak pertama yang saat lahir memiliki bobot 3,8 kg saja bisa ia lahirkan secara normal, masa yang bobotnya lebih kecil tidak bisa. Saat hari-H ia akhirnya melahirkan normal, bukaan lancar, namun saat si bayi akan dilahirkan, lebar bahu si jabang bayi ternyata tak cukup untuk melewati "jalan lahir". Alhasil si bayi seperti terperangkap. Tidak bisa keluar, namun juga tidak bisa kembali lagi.

Akhirnya karena tidak ada pilihan lain tetap dilakukan persalinan secara sesar, tetapi ada satu yang dikorbankan, salah satu bahu si bayi terpaksa dipatahkan agar bayi tersebut bisa"diangkat" untuk dilahirkan. Alhasil hingga ia dewasa, bayi tersebut hidup dengan bahu yang patah dan tak lagi tegap.

Salah satu teman memiliki cerita yang berbeda. Saat melahirkan anak pertama ia kukuh juga ingin melahirkan secara normal. Awalnya seluruh proses lancar. Sebagian kecil kepala si bayi bahkan sudah terlihat, tetapi setelah dipaksakan untuk terus mengedan ia tidak lagi bisa. Tenaganya habis. Terpaksa akhirnya ia pun menjalani proses persalinan secara sesar.

Teman yang lain memiliki cerita yang lebih miris. Ia terpaksa harus kehilangan bayi lucu yang ditunggu selama sembilan bulan karena terlalu banyak pertimbangan mengikuti saran dokter untuk melahirkan secara sesar. 

Bayi yang dilahirkan meninggal dalam kandungan karena terlambat dilahirkan. Meski itu sudah takdir dari yang maha kuasa, si teman bilang tetap ada rasa sesal yang menggelayut di hati.

Tak Seseram yang Dibayangkan

Jangankan dioperasi, disuntik saja saya sangat takut. Itu makanya saya sedikit was-was saat memasuki ruang operasi. Namun ternyata suntik epidural tak sesakit yang dibayangkan, begitu pula dengan proses pembedahan untuk mengeluarkan si jabang bayi. Bahkan tak terasa apapun. Kita seperti berbaring biasa saja.

Sekitar 30 menit setelah berbaring dan disuntik epidural, dokter anak dan dokter kandungan yang membantu proses melahirkan serempak mengatakan, bayinya sudah lahir. Nah setelah itu baru terasa sedikit rasa mual dan rasa kantuk yang luar biasa. Setiap berapa menit saya sepertinya tertidur, kemudian bangun kembali karena diajak mengobrol si dokter.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2