Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Begini Serunya Menyebrang dari Batam ke Bintan dengan Kapal Ro-Ro

3 Agustus 2018   17:12 Diperbarui: 3 Agustus 2018   17:26 343 5 3
Begini Serunya Menyebrang dari Batam ke Bintan dengan Kapal Ro-Ro
Salah satu pemandangan yang kami lihat dari atas dek kapal. | Dokumentasi Pribadi

Saat akhir pekan atau "tanggal merah" warga Batam, Kepulauan Riau, umumnya memilih menghabiskan waktu di tiga tempat, yakni berwisata di dalam kota, berkunjung ke negara tetangga --Singapura/Malaysia, atau menjelajah pulau di "seberang  mata", yakni Pulau Bintan.

Salah satu pantai di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu pantai di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Saya dan keluarga lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Batam. Biasanya "cuci mata" dengan melihat birunya laut, atau hanya sekadar berkeliling di taman-taman kota. Saat libur lumayan panjang, sesekali berkunjung ke Pulau Bintan, menikmati beragam pantai berpasir putih di sekitar Lagoi yang tak kalah indah dengan pantai-pantai yang  ada di Bali, sekaligus menjelajah Ibukota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang, sambil menjenguk saudara dan kerabat.

Salah satu tempat wisata di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu tempat wisata di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Meski jalan-jalan ke negara tetangga juga terhitung hemat --selama tidak tergoda untuk berbelanja beragam barang konsumtif, tetapi jalan-jalan ke Pulau Bintan tetap saja jauh lebih irit. Terlebih bila kita membawa kendaraan sendiri dan menginap di rumah saudara, bukan di penginapan, apalagi di hotel.

Melihat danau biru. | Dokumentasi Pribadi
Melihat danau biru. | Dokumentasi Pribadi
Itu makanya kami sempat beberapa kali pergi ke Bintan dengan membawa kendaraan roda empat. Untuk satu kali pergi kami hanya perlu mengeluarkan biaya Rp227.000 untuk kendaraan roda empat berukuran sedang, Rp19.700 untuk satu orang dewasa, dan Rp14.400 untuk anak-anak. Bila ditotal, biaya yang dikeluarkan untuk satu kali pergi kurang dari Rp500.000, untuk dua orang dewasa dan satu anak-anak.

Salah satu tempat wisata di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu tempat wisata di Bintan. | Dokumentasi Pribadi
Apalagi tempat-tempat wisata di Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinnag juga umumnya mematok tiket masuk dengan harga yang sangat terjangkau. Beberapa malah hanya diminta untuk membayar biaya parkir kendaraan yang nominalnya tergantung dari jenis kendaraan yang kita bawa ke tempat wisata tersebut.

Pintu masuk kapal Ro-Ro. | Dokumentasi Pribadi
Pintu masuk kapal Ro-Ro. | Dokumentasi Pribadi
Menariknya lagi, tempat wisata di Pulau Bintan juga lumayan beragam, selain pantai, juga ada danau biru dan "gurun pasir", aneka vihara unik, kebun binatang, hingga museum. Bila memiliki banyak waktu bahkan bisa menyebrang ke Pulau Penyengat, pulau yang menjadi asal muasal Bahasa Indonesia. Sementara bila kelebihan dana, bisa menginap di aneka resort keren di sekitaran Lagoi.

Menggunakan Kapal Ferry

Dari Pulau Batam ke Pulau Bintan hanya ada dua jenis transportasi, yakni kapal ferry dan pesawat terbang. Maklum Batam dan Bintan dikelilingi laut. Kapal ferry untuk menuju ke sana juga ada dua jenis, yakni kapal ferry berukuran kecil yang jalannya lebih gesit, dan kapal ferry besar, Rol on-Rol off (Ro-Ro),  namun memerlukan waktu tempuh yang lebih lama.

Salah satu kapal Ro-Ro ASDP. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu kapal Ro-Ro ASDP. | Dokumentasi Pribadi
Biasanya bila tidak membawa kendaraan, saya dan suami menggunakan kapal ferry kecil. Namun bila membawa kendaraan, mau tidak mau harus menggunakan kapal roro yang dikelola ASDP Indonesia (Persero). Kapal ini hanya beroperasi dari Telagapunggur, Batam ke Tanjunguban, Bintan, dan sebaliknya. Kita tidak bisa langsung menuju ke Tanjungpinang. Sementara bila menggunakan kapal ferry kecil kita bisa memilih, mau yang langsung menuju ke Tanjungpinang atau ke Tanjunguban. Jarak tempuh Tanjunguban ke Tanjungpinang melalui jalur darat lumayan juga, sekitar 45 menit hingga 60 menit dengan kecepatan sedang. FYI, kendaraan umum massal di Bintan masih sangat terbatas, sehingga bila memungkinkan memang lebih enak membawa kendaraan sendiri.

Leluasa Menikmati Pemandangan

Bagi yang pertama kali mencoba kapal ferry ASDP tujuan Batam-Bintan, dan sebaliknya, mungkin terasa sedikit membosankan. Laju kapal terasa sedikit lambat. Bila kita menghabiskan waktu di dalam kapal, malah kapal terasa tidak melaju sama sekali, seolah jalan di tempat.

Suasana di dalam kapal. | Dokumentasi Pribadi
Suasana di dalam kapal. | Dokumentasi Pribadi
Namun coba deh jalan-jalan ke atas dek kapal. Waktu tempuh selama 60 menit rasanya tidak terasa. Ada banyak sajian pemandangan indah sepanjang perjalanan, mulai dari deretan pulau kecil, rumah-rumah khas pesisir yang berjajar rapi, hingga aneka kapal berwarna-warni yang sayang bila tidak diabadikan dengan kamera.

Melihat deretan pulau. | Dokumentasi Pribadi
Melihat deretan pulau. | Dokumentasi Pribadi
Terlebih kita juga cukup leluasa berjalan-jalan berkeliling kapal ferry yang dikelola ASDP Indonesia itu karena kapal berlayar cukup stabil. Tidak ada gelombang besar yang membuat kapal oleng. Kami seolah berjalan di lantai rumah. Bedanya kiri dan kanan adalah laut lepas yang berwarna hijau kebiruan.

Melihat deratn rumah penduduk pesisir. | Dokumentasi Pribadi
Melihat deratn rumah penduduk pesisir. | Dokumentasi Pribadi
Setelah lelah berfoto dan melihat-lihat pemandangan, kita bisa duduk-duduk di atas dek kapal berbaur dengan penumpang lain. Dek kapal sepertinya menjadi bagian favorit para penumpang, terutama para penumpang yang hobi menikmati aneka pemandangan pantai lepas, sambil menikmati sepoinya angin.

Harus Mengurus Surat Izin Terlebih Dahulu

Namun sedikit berbeda dengan proses penyebrangan di kota-kota lain di Indonesia, bila kita menyebrang dengan membawa kendaraan bernopol Batam dari Batam ke Bintan, kita harus mengurus surat izin terlebih dahulu. Maklum kendaraan bermotor di Batam sebenarnya tidak bisa dibawa keluar kota. Menyandang status free trade zone, membuat kendaraan di Batam sedikit istimewa.

Melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi
Melihat deretan kapal. | Dokumentasi Pribadi
Ada salah satu pajak yang tidak dipungut kepada pembeli, sehingga bila kendaraan tersebut dibawa keluar kota, harus mengurus surat izin terlebih dahulu. Beberapa bahkan ada yang harus membayar pajak tersebut. Namun bila kendaraan hanya dibawa ke Pulau Bintan, cukup hanya dengan mengurus surat izin, tanpa membayar sisa pajak.

Bisa duduk-duduk di atas dek. | Dokumentasi Pribadi
Bisa duduk-duduk di atas dek. | Dokumentasi Pribadi
Surat izin tersebut diajukan ke BP Batam dan pihak kepolisian beberapa hari sebelumnya. Nah, setelah semua surat lengkap, kita bisa langsung menuju kapal yang sudah menunggu di pelabuhan. Biasanya kapal berangkat setiap 15 menit. Sehingga, tidak perlu melakukan reservasi terlebih dahulu --kecuali bila berangkat berombongan dengan membawa kendaraan yang cukup banyak.

Deretan kendaraan di kapal. | Dokumentasi Pribadi
Deretan kendaraan di kapal. | Dokumentasi Pribadi
Ah, jadi ingin berlibur lagi ke Bintan dengan membawa kendaraan. Salam Kompasiana! (*)