Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Lautku Bebas Sampah? Bisa! Asal...

4 Desember 2017   01:04 Diperbarui: 6 Desember 2017   15:43 3962 4 4
Lautku Bebas Sampah? Bisa! Asal...
Laut di antara Pulau Belakangpadang dan Pulau Sambu. | Dokumentasi Pribadi

Saat pengunjung berlabuh di Pelabuhan Belakangpadang, Batam, Kepulauan Riau, mata langsung dimanjakan dengan beningnya laut yang menghampar. Belum lagi sepoinya angin yang bertiup. Namun sayang, "pemandangan surga" tersebut sedikit terganggu dengan "sampah setumpuk".

Pulau Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Pulau Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Saat sampai di tengah pelantar, kita akan mulai melihat hamparan sampah yang tidak sedap dipandang. Plastik-plastik yang sudah tidak terpakai tersebut bertumpuk diantara pelantar dan bangunan-bangunan yang dijadikan warga sekitar sebagai toko untuk menjual aneka kuliner, obat, mainan, hingga barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Bila dilihat dari titik ini masih terlihat bersih lautnya, beberapa meter dari sini baru terlihat tumpukan sampah. | Dokumentasi Pribadi
Bila dilihat dari titik ini masih terlihat bersih lautnya, beberapa meter dari sini baru terlihat tumpukan sampah. | Dokumentasi Pribadi
Seperti daerah pesisir pada umumnya, pusat keramaian Pulau Belakangpadang memang berada di areal sekitar pelabuhan. Saat memasuki pulau yang sempat menjadi induk Kota Batam itu, kita langsung disambut toko-toko kelontong, kedai kopi, serta penjual sayur dan ikan segar.

Tumpukan sampah yang mengganggu di areal Pelabuhan Belakangpadang. | Dokumentasi kitabisa.com
Tumpukan sampah yang mengganggu di areal Pelabuhan Belakangpadang. | Dokumentasi kitabisa.com
Kondisi tersebut sepertinya cukup menjawab dengan gamblang mengapa banyak tumpukan sampah di gerbang utama Pulau Belakangpadang. Daerah pemukiman nelayan biasa saja cukup banyak sampah yang berserak --karena masyarakat pesisir umumnya menganggap laut sebagai tempat sampah raksasa yang bisa untuk membuang barang apapun yang tidak lagi digunakan, apalagi ini memang jelas-jelas dijadikan sebagai pasar dan pusat perdagangan. Tahu sendiri kan volume sampah pasar seperti apa.

Saat surut kita dapat melihat aneka sampah, terutama di titik-titik yang berdekatan dengan rumah tinggal. | Dokumentasi Pribadi
Saat surut kita dapat melihat aneka sampah, terutama di titik-titik yang berdekatan dengan rumah tinggal. | Dokumentasi Pribadi
Masih Banyak yang Membuang Sampah ke Laut

Belakangpadang merupakan pulau kecil yang padat penduduk. Itu makanya karena keterbatasan lahan, rumah-rumah di sana tidak hanya dibangun di atas tanah, namun juga di atas laut. Mereka umumnya menggunakan tiang beton, atau kayu khusus yang cukup kuat untuk menahan gerusan air laut.

Meski tidak semua, rumah-rumah yang dibangun di atas laut tersebut juga umumnya langsung membuang beberapa limbah rumah tangga ke laut. Mereka biasanya membangun bak cuci piring saja, atau wastafel saja, tanpa jaringan pipa untuk membuang bekas air cucian ke tempat pembuangan "limbah rumah tangga". Air cucian tersebut otomatis langsung mengalir ke laut.

Kondisi Pantai Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Masih saja ada pengunjung yang membuang tempat air mineral bekas sembarangan. | Dokumentasi Pribadi
Kondisi Pantai Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Masih saja ada pengunjung yang membuang tempat air mineral bekas sembarangan. | Dokumentasi Pribadi
Itu tidak seberapa. Mirisnya tak sedikit yang membuang barang-barang yang tidak lagi digunakan ke laut. Saat laut pasang, "plung" sampah-sampah di lempar ke laut. Sehingga, rumah si pembuang sampah terlihat selalu bersih, karena usai dibuang, sampah tersebut langsung terbawa arus.

Pembuang sampah tersebut mungkin tidak pernah berpikir, sampah-sampah itu hanya berpindah tempat. Sampah-sampah itu tidak pernah hilang, namun bertumpuk di suatu tempat. Hingga akhirnya bukan tidak mungkin kalau suatu hari nanti, kembali hanyut ke lokasi tempat ia tinggal.

Terutama bila sampah-sampah yang dibuang merupakan jenis barang yang mengapung dan mudah berpindah tempat, seperti bekas kemasan makanan, kantung plastik, styrofoam, hingga (maaf) pembalut bekas pakai.

Selain sampah plastik, juga banyak sampah-sampah kayu. Ini di Pulau Dedap, Batam, Kepulauan Riau.| Dokumentasi Pribadi
Selain sampah plastik, juga banyak sampah-sampah kayu. Ini di Pulau Dedap, Batam, Kepulauan Riau.| Dokumentasi Pribadi
Sampah-sampah plastik yang bertumpuk di bibir pantai, tak hanya terjadi di Belakangpadang, namun juga di daerah-daerah lain. Berdasarkan studi yang dilakukan Ocean Conservancy dan McKinsey Center for Business and Environment, setiap tahun rata-rata ada 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut. 

Sedihnya, Indonesia termasuk dari lima negara yang menyumbang 60 persen dari sampah-sampah plastik tersebut, selain Filipina, Tiongkok, Thailand, dan Vietnam. Bila hal tersebut terus dibiarkan, pada tahun 2025 mendatang diperkirakan akan ada 155 juta ton sampah plastik yang akan beredar di lautan.

Pantai Pasir Putih, Belakangpadang. Ini bukan hitam karena saya edit, namun memang warna air lautnya hitam karena terpapar minyak yang bocor dari kapal. Sehingga, bila kita berenang, kulit dan baju yang dipakai akan hitam-hitam. | Dokumentasi Pribadi
Pantai Pasir Putih, Belakangpadang. Ini bukan hitam karena saya edit, namun memang warna air lautnya hitam karena terpapar minyak yang bocor dari kapal. Sehingga, bila kita berenang, kulit dan baju yang dipakai akan hitam-hitam. | Dokumentasi Pribadi
Mirisnya, sampah plastik tidak bisa terurai. Bila tidak diambil, diolah, atau dibuang ke tempat lain, sampah-sampah itu tetap akan bertahan di lautan hingga bertahun-tahun. Sampah-sampah  tersebut hanya akan berubah menjadi butiran yang lebih kecil. Itu pun dalam waktu yang sangat lama.

Salah satu sudut Belakangpadang. Ini termasuk bersih dari sampah. | Dokumentasi Pribadi
Salah satu sudut Belakangpadang. Ini termasuk bersih dari sampah. | Dokumentasi Pribadi
Mengganggu Pariwisata hingga Dapat Menyebabkan Kanker

Saat sampah-sampah plastik tersebut berubah jadi butiran-butiran kecil, jangan dulu bersenang hati. Itu justru bisa menjadi pemicu petaka yang lebih besar. Menurut Nasirin, staf pengajar Sekolah Tinggi Perikanan, yang dikutip Mongabay.co.id, sampah-sampah plastik dengan ukuran mikro justru sangat berbahaya. 

Bila sampah mikroplastik tersebut dikonsumsi oleh ikan yang nantinya dikonsumsi oleh manusia, akan rentan menyebabkan salah satu penyakit yang paling ditakuti, yakni kanker. Apalagi tidak sedikit ikan kecil dan sedang yang memakan butiran-butiran kecil sampah plastik itu karena dianggap fitoplankton, yang menjadi makanan mereka sehari-hari.

Styrofoam yang terbawa arus di Pantai Pasir Pitih, Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Styrofoam yang terbawa arus di Pantai Pasir Pitih, Belakangpadang. | Dokumentasi Pribadi
Selain tampilan fitoplankton dan sampah mikroplastik yang terlihat mirip, untuk beberapa wilayah, jumlah sampah mikroplastik justru lebih banyak dibanding fitoplankton. Masih menurut Mongabay.co.id, ada beberapa wilayah yang perbandingan sampah mikroplastik dengan fitoplankton mencapai enam berbanding satu. Itu makanya tidak heran bila banyak ikan yang mengkonsumsi sampah berbahaya tersebut.

Jangan sampai, kita yang rajin mengkonsumsi ikan dan hewan laut karena ingin sehat dan pintar, justru malah rentan terkena racun karsinogen yang dapat memicu beragam penyakit berbahaya karena sampah-sampah plastik yang dibuang ke laut. Boro-boro mau pintar dan sehat, bila seperti itu malah terancam terkena penyakit mematikan.

Kawasan mangrove di Belakangpadang. Bila terlihat bebas sampah seperti ini, lebih bagus kan? | Dokumentasi Pribadi
Kawasan mangrove di Belakangpadang. Bila terlihat bebas sampah seperti ini, lebih bagus kan? | Dokumentasi Pribadi
Selain dapat menjadi pemicu kanker, sampah plastik juga dapat menyebabkan hewan-hewan laut yang dilindungi lebih cepat punah. Ada banyak penyu yang mati karena memakan banyak plastik. Penyu-penyu tersebut memakan plastik yang mengapung di laut. Plastik tersebut dikira ubur-ubur yang menjadi salah satu makanan favorit mereka.

Walaupun hanya pulau kecil, sampah plastik di Pulau Belakangpadang bisa menggunung seperti ini. | Dokumentasi Pribadi
Walaupun hanya pulau kecil, sampah plastik di Pulau Belakangpadang bisa menggunung seperti ini. | Dokumentasi Pribadi
Belum lagi, beberapa hewan laut juga kesulitan berenang karena terlilit sampah plastik yang menggunung. Akibat lilitan sampah plastik itu, sebagian hewan bahkan tidak dapat bergerak sama sekali. Alhasil lambat laun dapat menyebabkan kematian dari hewan-hewan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2