Mohon tunggu...
Muhammad Zulfadli Tahir
Muhammad Zulfadli Tahir Mohon Tunggu... -

Dosen Fak. Ilmu Sosial UNM Makassar.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Dua Fase Ronaldo, Il Fenomeno

30 Juni 2020   16:34 Diperbarui: 30 Juni 2020   16:31 91 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dua Fase Ronaldo, Il Fenomeno
(https://www.theguardian.com/uk/sport)


Yokohama, 30 Juni 2002, hari ini tepat 18 tahun yang lalu, Timnas Brasil menang relatif mudah 2-0 atas Jerman di final Piala Dunia 2002.
Kemenangan yang memastikan Brasil sebagai juara Piala Dunia kelima kali atau yang disebut penta. Protagonista La Selecao di Korea-Jepang tak lain adalah Striker Ronaldo Luis Nazario de Lima.

****

Catatan ini tentang sosok Ronaldo, El Fenomeno dalam sepak bola dunia. Pada saat tiga bulan tanpa hiburan sepak bola karena dihantam pandemi korona, kita semua penggemar bola merasakan kerinduan akan pertandingan-pertandingan hebat sepak bola. Beberapa media juga sibuk mengupas laga-laga seru dalam format kilas balik, on this day, atau sejenisnya.

Alih-alih Lionel Messi atau Christiano Ronaldo, entah kenapa pesepak bola yang paling saya ingat adalah Ronaldo. Saya merindukan ia sebagai salah satu pesepakbola terbesar dalam sejarah, pemain dengan skill terbaik yang pernah saya saksikan. Ronaldo adalah idola penggemar bola era pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2000-an.

Saya tumbuh menjadi penggemar bola pada pertengahan dekade 1990-an. Barangkali tepat Piala Dunia AS 1994, saat Brasil berhasil menjuarai dengan mengalahkan Italia di final dalam drama adu penalti di Rose Bowl Pasadena.

Saat itu saya pertama kali melihat Ronaldo di layar kaca, anggota skuad Brasil yang belum berusia 18. Ia tak mendapatkan satu menit pun tampil di Amerika Serikat. Pelatih Carlos Alberto Pareira memang memanggilnya hanya untuk menjadi pelapis duet Romario dan Bebeto.

Selepas turnamen, rasanya tak ada pemain yang mendapat sorotan media seintens Ronaldo. Kariernya melesat di PSV Eindhoven selama dua musim, dan pada musim panas 1996 ia diboyong ke Barcelona dengan nilai transfer mahal $ 20 juta. Manager Bobbi Robson yang juga baru datang ke Camp Nou terkesan dengannya.

Robson dalam film dokumenter, More Than a Manager, menjelaskan Ronaldo adalah penyerang berkelas dunia, pemain yang bisa mengubah permainan. "Fisiknya seperti petinju kelas menengah, bahu, bisep, dan tubuh yang bagus, dan kaki yang luar biasa. Dia salah satu pemain tercepat yang pernah kulihat saat membawa bola." Puji Robson.

Ditukangi Robson dan bermain di stadion terbesar, bakat Ronaldo sangat matang dari usianya, yang membuatnya menjadi Pemain Dunia FIFA termuda pada usia 20, dan penerima termuda Ballon d'Or berusia 21. 

Hanya semusim ia di Catalan, kemudian ia hijrah ke Inter Milan dengan rekor kontrak termahal dunia dan pemain terbaik dunia. Serie-A musim 1997/1998 inilah satu musim penuh yang paling bisa saya kenang dari aksi-aksi Ronaldo. Ia bertanding di Liga Italia yang bisa saya tonton tiap pekannya karena RCTI membeli hak siar, sedangkan kompetisi La Liga dan Eredivise Belanda belum tayang di Indonesia.

Ronaldo bergabung dengan predator ganas di Seri-A seperti Gabriel Batistuta, Filipo Inzaghi, dan Alesandro del Piero. Saya ingat membaca tabloid Bola, beberapa pengamat meragukan ketajaman Ronaldo di La Liga bisa terjadi di Serie-A.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN