Muhammad Zulfadli Tahir
Muhammad Zulfadli Tahir pegawai negeri

Dosen Fak. Ilmu Sosial UNM Makassar. Penggemar berat dunia olahraga.

Selanjutnya

Tutup

Bola

Piala Dunia 2006, Jalan Pedang Gli Azzuri (Kilas Balik-4)

12 Juni 2018   13:07 Diperbarui: 12 Juni 2018   13:26 364 0 0
Piala Dunia 2006, Jalan Pedang Gli Azzuri (Kilas Balik-4)
Italia 2006 (sumber Foto:gettyimages.co.uk)

Piala Dunia jilid-18 kembali berlangsung di benua biru, tepatnya negara Jerman. Piala dunia bagi Jerman, seperti wahana untuk memamerkan tingginya standar mereka dalam mengurus sebuah ajang yang menjadi pusat perhatian. Kultur sepak bola, stadion representatif, sistem transportasi rapih, akomodasi memadai, dan fasilitas lain, membuat semua orang yang datang ke Jerman berdecak kagum. Bos FIFA, Sepp Blatter, mengapresiasi tinggi kerja komite panitia yang dipimpin Franz Beckenbauer.

Kualitas pertandingan pun mengalami peningkatan, makin kompetitif, meski banyak pengamat menilai banyak tim bermain pragmatis, fenomena striker tunggal menjadi pilihan sejumlah pelatih.

Momen yang paling saya ingat adalah perjalanan Italia menjadi juara dunia yang penuh liku, drama, kontroversi, serta ketangguhan mental pemain anak latih Marcello Lippi, ditengah hantaman badai skandal calciopoli di dalam negeri.

Italia tergabung dalam grup maut, mengawali turnamen dengan susah payah menekuk Ghana. Sempat ditahan imbang AS 1-1, lewat permainan keras cenderung brutal. Baru di pertandingan ketiga, Italia memastikan lolos ke fase knock-out, setelah unggul 2-0 atas Ceko, yang dimotori Pavel Nedved. Itu laga perpisahan emosional bagi Nedved di persaingan sepak bola yang karirnya begitu panjang di Serie-A.

Seperti yang sudah-sudah, jika lolos ke sistem gugur, Italia sangat sulit dihentikan. Di perdelapan final, Italia menang kontroversial lewat gol penalti di injury time, akibat aksi pura-pura jatuh bek Fabio Grosso yang merangsek ke kotak penalti Australia. Totti tak menyiakan kesempatan emas. Australia dan pendukungnya marah besar dan mengecam wasit Luis Medina Cantalejo asal Spanyol, mengutuk drama Grosso, dan memprotes FIFA. Hal semacam ini bukan pertama kali terjadi, dan Australia mungkin belum siap menerima, bahwa apa saja bisa terjadi dalam event Piala Dunia.

Di perempat final, Gli Azzuri sedikit mulus dengan unggul telak 3-0 atas tim kejutan Ukraina. Selanjutnya mereka sudah ditunggu Jerman, tuan rumah. Kali ini Jerman sangat difavoritkan menghentikan laju Italia. Kemenangan atas Argentina di perempat final, membuat skuad Jurgen Klinsmann berada pada puncak kepercayaan tinggi. Die Mannschaft diyakini segera terbang ke Berlin, menuntaskan misi di final akbar.

Pirlo dan Grosso

Namun mereka sedikit lupa data sejarah tak memihak Jerman. Panser tak pernah bisa menggilas Azzuri di ajang Piala Dunia. Laga yang berlangsung di kota Dortmund inilah pertadingan terbaik di Piala Dunia kali ini. Berlangsung dengan tempo tinggi, ketat, dan sangat mendebarkan. Meski menguasai lapangan dengan serangkaian kans, Jerman tak bisa membobol gawang Gianluigi Buffon di waktu normal. Italia pun belum berhasil meski juga sesekali mengancam lini belakang Jerman. Pertandingan dilanjutkan ke babak tambahan, dan sepertinya harus diitentukan melalui adu penalti.

Nyatanya tidak. Italia mendapat sepak pojok setelah sepakan jarak jauh Andrea Pirlo dihalau kiper Jens Lehmann. Alesandro del Piero mengambil dan menendangkan bola ke tengah kotak penalti yang dikeremuni banyak pemain kedua tim. Arne Friedrich menghalau bola penjuru dengan sundulan. Bola jatuh di kaki Andrea Pirlo, yang dengan tenang mengontrolnya. Dugaan saya Pirlo akan menendang langsung dari luar kotak. Disaat itulah intuisi deep playmaker ini berperan krusial yang mengubah hasil laga.

Dalam sekejap dan tak terduga, Pirlo ternyata mengumpan pelan kepada Fabio Grosso, yang entah dari mana sudah berada di sisi kiri tak terkawal pertahanan Jerman. Assist Pirlo itu dilepas dengan sangat gaya, tanpa melihat Grosso, seperti gerak khas pebasket Magic Johnson. Ketika bola tersodor kepadanya, posisi Grosso setengah memunggungi gawang, tanpa kontrol, sepakan kiri Grosso melaju dengan melengkung dan menghujam telak di pojok kanan atas gawang. Kiper Jens Lehmann, sudah membuang badan mencoba membolok, namun tak kuasa menggapai bola. Gol 1-0, di menit 118 !!!

Jerman masih berusaha di waktu yang sangat sempit. Sempat ada satu peluang melalui umpan tarik ke area gawang Buffon, namun berhasil dicegah keluar kapten Fabio Cannavaro, yang bermain tanpa kesalahan sepanjang turnamen. Haluan Canna itu merupakan peluang terakhir Jerman, sekaligus awal serangan balik Italia yang berbuah gol kedua oleh Del Piero, tepat di menit 120. Skor hasil 0-2.

Dramatis, impian bangsa Jeman yang disaksikan langsung Kanselir Angela Merkel terhenti dengan cara menyesakkan. Italia lah yang ke Berlin memburu trofi emas, sedangkan Jerman dengan sisa air mata, terbang ke Stuttgart hanya untuk pertandingan hiburan melawan Portugal.

Zidane vs Materazzi

Di laga final, juga selalu dikenang. Apalagi kalau bukan tandukan kepala Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi. Insiden itu terjadi saat emosi tak bisa dikendalikan Zidane ketika dilecehkan Materazzi yang konon mengolok-olok ibu dan saudara perempuannya. Zizou diusir, lalu Perancis takluk melalui adu penalti.

Sangat disayangkan, sang Maestro menutup karirnya yang bergelimang trofi dengan cara tak sportif, apapa pun alasan yang melatarbelakangi.  Sama halnya mengapa muncul spekulasi-spekulasi yang lebih heboh daripada faka yang terjadi di lapangan hijau menilai tragedi terebut. Buat saya klimaks Piala Dunia 2006 adalah Italia membungkam Jerman dan dunia yang meremehkannya.

Di Rusia nanti kita tak bisa meyaksikan kiprah Italia, sayang memang. Biar bagaimana Italia selalu memberikan warna tersendiri dalam setiap ajang Piala Dunia.

Salam sepak bola, dan "jangan nonton bola tanpa Kacang Garuda"