CRMS Indonesia
CRMS Indonesia

CRMS Indonesia (Center for Risk Management Studies) adalah institusi pelatihan manajemen risiko yang telah diakui dunia.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Ketidakpastian dan Manajemen Risiko

21 Maret 2017   11:25 Diperbarui: 29 Maret 2017   08:58 256 0 0

Ketidakpastian dan Manajemen Risiko

Yodi Izharivan – Associate Researcher, CRMS Indonesia

Segala sesuatu yang berhubungan dengan pencapaian tidak pernah terlepas dari ketidakpastian (uncertainty). Terkait dengan hal tersebut, terdapat sebuah group discussion yang berisi para profesional di bidang manajemen risiko membahas mengenai ketidakpastian tersebut. Secara spesifik diskusi tersebut mengangkat topik mengenai seberapa besar tingkat kepastian yang dapat diperoleh dari mengelola ketidakpastian. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dibahas keterkaitan antara risiko dan ketidakpastian itu sendiri yang akan menjadi fokus pada tulisan ini.

Ketidakpastian dan Risiko

Di dalam setiap organisasi, tentu terdapat tujuan dan sasaran yang harus dicapai. Aktivitas-aktivitas yang dijalankan oleh organisasi juga tidak terlepas dari berbagai tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Dengan adanya berbagai faktor atau fenomena dalam menjalankan berbagai aktivitasnya, organisasi menghadapi berbagai ketidakpastian, baik kecil maupun besar, serta dapat menjadi ancaman atau bahkan peluang. Untuk me-refresh kembali pengetahuan para pembaca, penulis mencoba sedikit menjelaskan kembali sebenarnya apa itu ketidakpastian dan apa keterkaitannya dengan risiko.

Leo J. Susilo, dalam bukunya yang berjudul Manajemen Risiko Berbasis ISO 31000 mengatakan bahwa “ketidakpastian adalah keadaan, walaupun hanya sebagian, dari ketidakcukupan informasi tentang pemahaman atau pengetahuan terkait dengan suatu peristiwa, dampaknya, dan kemungkinan terjadinya”. Berdasarkan definisi tersebut, keterkaitan antara ketidakpastian dan risiko dijelaskan dengan definisi risiko seperti yang tertuang di dalam Standar Internasional Manajemen Risiko ISO 31000. Di dalam dokumen tersebut, risiko diartikan sebagai efek dari ketidakpastian yang terdapat pada tujuan organisasi. Lebih lanjut, Leo J. Susilo menerangkan bahwa risiko sering disebut sebagai kombinasi dari dampak suatu peristiwa (termasuk dalam hal ini perubahan suatu keadaan) dan digabungkan dengan kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut.

Dapatkah Diperoleh Tingkat Kepastian dari Pengelolaan Risiko?

Mencari tahu seberapa besar tingkat kepastian yang diperoleh dari pengelolaan risiko dapat juga dikaitkan dengan probabilitas dan dampak dari suatu risiko. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Stefiany Norimarna, Program Director CRMS Indonesia, dimana lebih khusus dikatakan bahwa pertanyaan tersebut sama saja dengan menanyakan probabilitas dari suatu risiko akan terjadi. Tentu saja jika probabilitas terjadinya suatu risiko dapat diketahui maka para pengambil keputusan menjadi semakin yakin akan keputusan yang akan diambilnya. Keyakinan inilah yang dapat dikatakan sebagai tingkat kepastian. Kepastian kapan suatu risiko akan terjadi akan meningkatkan kepercayaan diri (confidence) dalam mengambil keputusan di setiap proses bisnisnya.

Terdapat dua pandangan dengan fokus berbeda yang mengemuka pada diskusi tersebut. Sebagian berpandangan bahwa tingkat kepastian dapat diketahui dengan menggunakan suatu alat ukur risiko. Pengukuran yang baik atas suatu ketidakpastian akan menjadi sangat penting untuk memperoleh tingkat kepastian. Lain dari itu, sebagian lagi berpendapat bahwa sulit untuk megetahui berapa tingkat kepastian yang dapat diperoleh dari pengelolaan risiko seperti yang diutarakan oleh Claire Darlington dan Ian Bayne.

Antonius Alijoyo, Principal CRMS Indonesia, memiliki pandangan bahwa pertanyaan tersebut tidak secara langsung dapat dijawab dan bahkan tidak juga perlu untuk dipertanyakan. Beliau menjelaskan bahwa untuk memperoleh tingkat kepastian bergantung pada seberapa besar pemahaman kita terhadap suatu fenomena, sejauh apa kita mencari tahu informasi-informasi mengenai fenomena tersebut. Sejalan dengan pendapat tersebut, Leo J. Susilo menerangkan secara umum pengelolaan ketidakpastian dapat dilakukan dengan mengurangi sebanyak mungkin “known uncertainty”, sedangkan kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap “unknown uncertainty”. Claire Darlington pun berpendapat bahwa tingkat kepastian dapat diketahui dengan mengetahui informasi-informasi akan suatu fenomena. Dengan begitu, seseorang akan tahu seberapa besar usaha yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak yang ada. Fenomena yang dapat diketahui informasinya inilah yang disebut sebagai known uncertainty.

Informasi mengenai seberapa besar dampak dari suatu fenomena juga diperlukan untuk menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan. Apakah suatu keputusan diambil berdasarkan risk informed atau berdasarkan risk based. Ian Dalling menjelaskan bahwa risk informed decision making merupakan pengambilan keputusan berdasarkan informasi tentang risiko yang sudah diketahui, dapat berupa pengalaman dan keahlian dari seseorang, sedangkan risk based decision making merupakan pengambilan keputusan berdasarkan informasi-informasi tentang risiko yang terstruktur dan didapat dari suatu sistem.  Menggambarkan kedua hal ini, akan sangat mudah jika melihat kondisi yang terdapat di dunia pengobatan.

Di dalam dunia pengobatan, seorang dokter biasanya mengambil keputusan berdasarkan risk informed. Menyederhanakan apa yang dikatakan oleh Jacquetta Goy, dapat diambil contoh dari seseorang yang mengidap penyakit kritis dan harus segera ditangani dengan prosedur operasi. Keputusan operasi yang dilakukan oleh dokter tersebut terkadang diambil secara cepat sebelum kondisi yang terkena penyakit tidak semakin memburuk. Seorang dokter hanya melihat dari gejala-gejala yang ditunjukkan oleh pasien tersebut, dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, dokter tersebut sudah langsung dapat menyimpulkan tindakan apa yang harus cepat dilaksanakan. Berbeda dengan pengambilan keputusan berdasarkan risk based, dimana cara ini biasa ditemukan di dalam suatu organisasi yang menerapkan manajemen risiko.

Terdapat berbagai cara untuk memahami suatu fenomena. Di antara berbagai cara yang ada, dalam hal ini penulis hanya dapat menyimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan cara terbaik saat ini untuk memperoleh kepastian dari suatu fenomena yang ada. Dengan diterapkannya manajemen risiko yang terstruktur, individu atau organisasi dapat melakukan identifikasi, analisis, dan evaluasi terhadap setiap risiko yang ada, sehingga diperoleh informasi-informasi untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih pasti. Sejalan dengan hal ini, Vladimir Trbojevic menjelaskan bahwa mengurangi ketidakpastian tidak serta merta langsung dapat mengurangi risiko tersebut, tetapi merupakan suatu pendekatan yang lebih baik dalam hal pencegahan.

Daftar Pustaka

www.crmsindonesia.org