Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus Kefamenanu TTU Jurusan Pendidikan Agama Katholik

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Tilang Elektronik, Jauh Lebih Baik daripada Tilang di Jalan

22 Januari 2021   17:33 Diperbarui: 22 Januari 2021   17:35 173 12 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tilang Elektronik, Jauh Lebih Baik daripada Tilang di Jalan
foto.surabayatribunnews.com

"Tilang elektronik ini menjadi sejarah baru dan akan menjadi batu pijakan untuk menuju penerapan teknologi yang lebih baik di Indonesia. Dari segi biaya, hal ini lebih murah dan menghemat anggaran. Sebab tidak membutuhkan banyak personil polisi."

Kisah nyata

Beberapa hari yang lalu keluarga dikejutkan dengan kecelakaan yang menimpah salah satu anggota keluarga saya. Berawal dari tilang gabungan antara Lantas dan Dinas Perhubungan.

Singkat cerita, kecelakaan itu terjadi karena korban berusaha kabur, menghindari polisi yang sementara menjalankan tugas. Hanya karena menghindar, korban akhirnya menabrak pembatas jalan dan terpental keluar jalur, kepalanya menghantam pembatas jalan, dan disayangkan nyawanya tak tertolong. Ia meninggal di tempat kejadian.

Persoalan yang terjadi

Pengalaman di atas hanyalah secuil dari rangkaian kejadian serupa yang pernah terjadi. Mungkin mereka yang berdomisili di kota tidak mengalami kejadian seperti ini, tetapi untuk kami di daerah perbatasan RI-Timor Leste, hal ini sudah sering terjadi, kecelakaan terjadi karena mereka takut ditilang, akhirnya berusaha kabur. Ya, seperti itu.

Berangkat dari pengalaman yang ada di sekitar kita, saya akhirnya berkesimpulan bahwa langkah yang diambil Kapolri Baru Listyo Sogit, yakni menerapkan program tilang elektronik akan jauh lebih baik. Saya mendukung program tilang elektronik, mengapa?

1. Tilang ditempat bisa berdampak buruk, mencelakakan orang lain dan diri sendiri. Pengendara yang tidak lengkap, tidak mengantongi Surat Izin Mengemudi, (SIM), tidak pakai helm, dan lain-lain, karena takut ditilang, ia bisa bertindak nekat, sehingga berakibat fatal. Biasanya bila orang lari karena takut, ia akan sulit mengontrol diri dan tidak berpikir tentang keselamatan diri dan orang lain. Sejauh pengamatan saya di daerah perbatasan. Banyak sudah menjadi korban karena tindakan nekat.

Bila diterapkan tilang elektronik maka, yang melanggar hukum akan terpantau dan terekam melalui cctv, entah disadari atau tidak oleh pelaku, lagi pula semuanya sangsi akan dibayarkan saat pembayaran pajak, hal ini jelas dan transparan, meutup kemungkinan untuk bertindak curang.

2. Tilang di tempat bisa berpotensi terjadinya praktek korupsi dan nepotisme. Pengendara yang tidak lengkap bisa bayar di tempat tanpa harus menerima surat tilang dan ikut sidang di pengadilan.

Selain itu, tilang elektronik bisa meminimalisir praktek nepotisme, dalam arti kalau tilang di jalan, keluarga bisa saja lolos, tapi tilang elektronik cctv tidak mengenal istilah keluarga

3. Tilang elektronik mudah dikontrol dan bisa membuat citra polisi jauh lebih baik. Kita tahu bahwa selama ini citra polantas buruk dimata masyarakat karena praktek tidak terpuji seperti pungutan liar, (pungli). Kita tahu dari medsos,  ada bebera oknum polisi yang viral di medsos karena praktek pemerasan di jalan.

Bila diberlakukan tilang elektronik maka, semuanya akan menjadi transparan, kalau toh harus bayar denda, akan dibayar pada saat pembayaran pajak, melalui jalur yang benar dan transparan.

4. Pemberlakuan tilang elektronik bisa menghemat biaya dan tenaga, dalam artian tidak membutuhkan banyak tenaga untuk pengawasan camera pengintai, tidak harus turun ke jalan, serta tidak mengganggu pengguna jalan lainnya, persis seperti kata pak kapolri terpilih, tugas lantas adalah mengatur lalulintas.

Foto.linggaupos.co.id
Foto.linggaupos.co.id
Langkah Maju Kapolri Baru

Tilang elektronik sebuah langkah maju yang diambil oleh Kapolri baru Listy Sigit. Kita harus mengikuti perkembangan jaman. Bila tilang elektronik memudahkan kita, jauh lebih baik, lantas mengapa kita bertahan dengan cara lama yang sudah usang.

Pakar digital forensic Ruby Alamsyah melihat berbagai kelemahan dalam sistem ini. Namun ia mengajak semua pihak membantu pihak kepolisian untuk meningkatkan kualitas tilang elektronik.

"Saya sangat apresiasi, ini harus kita dukung. Selain memangkas biaya operasional, ini juga menciptakan budaya yang baik dalam berlalu lintas," kata Ruby kepada Republika, Selasa (9/10).

Ruby menjelaskan, sistem tilang elektronik ini menjadi sejarah baru dan akan menjadi batu pijakan untuk menuju penerapan teknologi yang lebih baik di Indonesia. Dari segi biaya, Ruby menyebut hal ini lebih murah dan menghemat anggaran. Sebab tidak membutuhkan banyak personil polisi.

Kita perlu belajar dari negara maju yang sudah menerapkan tilang elektronik, misalnya Inggris, ada begitu banyak kemudahan yang diperoleh diantaranya mengurangi biaya, cukup efektif, selain itu juga bisa meminimalisir praktek pungutan liar yang sering terjadi.

Kita juga tentu tidak seratus persen mengatakan bahwa tilang elektronik aman dan tidak mengalami kendala, mungkin akan ada kendalanya apa lagi baru awal penerapannya, tetapi baiklah kita percayakan hal ini kepada Kapolri baru bersama jajarannya untuk mengatur, toh semunya akan diterus diawasi dan dievalusi kembali agar semakin hari semakin lebih baik.

Jadi bila pertanyaannya apakah tilang elektronik lebih baik? saya pasti menjawab; tilang elektronik jauh lebih baik daripada tilang di jalan.

Atambua, 22.01.2021

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x