Mohon tunggu...
Gaya Hidup

Peluang Tato dalam Industri

18 Mei 2016   00:28 Diperbarui: 18 Mei 2016   00:34 46
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

“Dalam khasanah tradisional, tato bisa jadi sebuah status sosial, tapi dalam dunia modern-meski sempat mendapat stigma negatif, tato adalah fashion. Itukah sebabnya para eksekutif pun ikut ikutan merajah tubuhnya dengan tato ?” –Burhanuddin Abe

Latar Belakang

Petrus/ Penembak Misterius yang hadir pada tahun 1980an membuat orang orang bertato ketar ketir karena jika terlihat, maka ia akan ditembak di tempat. Hal ini menimbulkan stigma negatif pada era itu, “kamu bertato, maka kamu kriminal dan harus dibasmi”. Dan muncul-lah opini opini yang tidak begitu enak ditelinga, serta media selalu memblow up jika ada individu kriminal yang tertangkap, dan memiliki tato. Headline berita di media massa selalu menyelipkan kata “tato” dalam berita berita nya, seolah orang orang bertato ini hanya mampu berbuat kejahatan saja, tak mampu membuat prestasi, padahal banyak sekali para individu yang memiliki prestasi. Hal ini lah yang sulit dirubah. Namun kini tato sudah mulai bisa diterima di masyarakat, walaupun belum sepenuhnya. Hal ini ditandai dengan dipilihnya menteri kelautan yang memiliki tato, serta berkembangnya studio tato yang  bermunculan dikota kota tujuan wisata khusus nya.

Banyaknya Tato artis baru bermunculan sebanding dengan banyaknya orang  yang ingin ditattoo, satu persatu individu mulai berani merajah dirinya untuk memperlihatkan bahwa ia berbeda dengan individu lainnya. Stigma negatif tentang tato perlahan mulai memudar. Itu semua berdampak pada tingginya kebutuhan akan alat dan bahan untuk merajah/men-tato.

Pembahasan

Tato, atau tattoo (dalam bahasa inggris) berasal dari bahasa Tahiti, yaitu tatu, berarti tanda. Tato sudah ada sejak 12000 tahun sebelum masehi, namun asal muasal tato ini masih abu abu, para ahli pun belum bisa memastikan sejak kapan dan dimana tato itu muncul. Fungsi tato sebagai penanda berbeda beda, contohnya pada bangsa Yunani kuno menggunakan tato sebagai penanda pengenal mata mata atau badan intelijen pada masa itu, sebaliknya dengan bangsa Romawi, tato sebagai penanda bahwa mereka berasal dari golongan budak. Di Indonesia, Mentawai menjadi salah satu daerah timbulnya budaya tato ini, konon mentawai menjadi salah satu tempat tato tertua. Namun kini pemerintah setempat melarang warganya untuk menato atau merajah tubuhnya, utuk memberhentikan ajaran animisme. Ratusan motif tato yang pernah menghiasi penduduk asli Mentawai pun tidak sempat terdokumentasi. Produk budaya ini pun mulai menghilang. Sipapatiti atau tukang tato sudah tidak ada lagi. 

Disisi lain, tato kini mulai banyak diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari kelas menengah kebawah hingga menengah keatas. Permintaan akan tato semakin meningkat, beragam motif tato baru bermunculan. Tato kini bisa disebut sebagai produk, dimana produk tersebut bisa dikonsumsi oleh siapa saja dan dimana saja, dimana saja dalam hal ini berarti di studio tato. Stigma kolot negatif tentang tato sudah terbantahkan, Presiden Indonesia, Jokowi memilih seorang menteri kelautan yang memiliki tato pada tubuhnya. Agen perjalanan umroh bisa memberangkatkan seorang Bob Sick, yang tubuhnya dipenuhi tato. Tato menjadi komoditas bagi para penikmat seni dan menjadi bagian kultur anak muda. Kebutuhan akan tato dan alat penunjang untuk membuat tato semakin tinggi. Hal ini menimbulkan peluang bagi para orang orang kreatif. Banyak yang ingin menjadi tato artis, maka dibuka lah kursus menato. Semakin banyak tato artis bermunculan maka semakin banyak pula kebutuhan akan mesin tato, tinta dan lainnya. Maka mulailah muncul pembuat mesin tato, industri pembuat tinta, importir tinta tato. Event event tato banyak bermunculan dan banyak sekali pengunjung yang tidak bertato namun tertarik dengan dunia tato. 

Kesimpulan

Stigma negatif tentang tato sudah mulai memudar, sehingga tidak lagi menjadi problema ketika seseorang bertato. Banyak hal positif yang sudah diperbuat oleh masyarakat bertato atau masberto. Event event tato yang berhasil dan berdampak positif pada masyarakat luas, seperti tattoo for charity. Tato artis yang memperkerjakan asisten, pembuat mesin tato yang memperkerjakan orang sekitar. Hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Daftar Pustaka

Maryanto, M. Dwi dan Syamsul Barry. 2000. Tato. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia, 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun