Mohon tunggu...
C.Purnomo
C.Purnomo Mohon Tunggu... Memikirkan kejadian, menjadikan pikiran

Mencari, mengamati, meneliti, menulisi

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen: Saat Kemenangan Kaum Pecundang

23 Mei 2020   06:58 Diperbarui: 23 Mei 2020   07:16 21 0 0 Mohon Tunggu...

Bagi kami, momen ini selalu dirayakan dengan serentetan acara perkumpulan yang tak masuk akal. Dimulai dengan acara kumpul dengan smua anggota keluarga besar yang tampaknya semua bergembira, ya paling tidak yang terlihat didepan mata. Tiap keluarga inti biasanya memakai baju yang senada ayah, bunda dan anak-anaknya. 

Kalau keluarga kami boro-boro baju yang sama, bisa mengawali hari tanpa pertengkaran pun sudah luar biasa. Kemudian akan dipertontonkan pasangan-pasangan saudara dengan baju barunya. Nampak serasi sejoli dengan segudang cerita luar biasa dari keluarganya yang harus antri masuk ke telinga. Semua tertawa bahagia dan kami pun mencoba mengimbanginya sembari mencoba mencari-cari kira-kira cerita apa yang pantas untuk dibagi.

Kemudian acara yang serupa dilanjutan di tempat kerja. Dikumpulkan semua saja mulai dari sang Raja serta ajudannya, para pemuka Agama, para Purnakarya sampai pegawai biasa. Acara dimulai dengan sambutan sana sini, menceritakan prestasi dan capaian yang dianggap berarti bagi institusi. 

Ya tampak penuh tepuk tangan dan kegembiraan. Setelah sambutan yang sebenarnya menjemukan kemudian dilanjutkan pidato keagamaan. Isinya sudah bisa ditebak dan selalu diulang-ulang. Pikir kami kenapa tidak dinyalakan saja rekaman tahun lalu, lebih ringkas dan ndak perlu menghonori. Setelah itu berdoa dan maaf-memaafkan dengan ikrar bersama. Harusnya setelah itu seremoni sudah bisa dibubarkan dan tinggal acara utama makan prasmanan. 

Namun siksaan mulai dijalankan, dijajarkanlah para pembesar dengan permaisurinya dengan balutan seragam kebesaran, para sesepuh kemudian para pemuka agama, dan barulah pegawai sisanya berurutan menjabat tangan mereka satu persatu dan setelah itu berdiri disebelahnya membentuk benteng manusia berliku dan tak kelihatan ujungnya.

Mulailah giliran menjabat deretan para penguasa, sorot mata mereka nampak bicara "Hai kamu apa saja kerjamu, kenapa jarang terlihat batang hidungmu". Kami pun berusaha menjabat semua segera dengan basa-basi seperlunya. Sampailah dideretan para Purnakarya dengan sederet bintang penghargaan didadanya, seakan mata mereka berkata sambil tertawa "Hahaha ini junior saya ndak bisa apa-apa, lihat kami penuh dedikasi untuk negeri". 

Kami menjabat mereka dengan segera ala kadarnya. Sampailah dideretan pemuka agama yang tampak bersinar dengan gamis dan jenggot putihnya. Seakan wajah-wajah mereka berkata "Ibadah sebulan ini sudah menghapus semua dosa kami, bagaimana dengan antum, kok sepertinya malah semakin bertambah dosanya". Kami salami mereka dengan segan sambil sesekali menundukkan pandangan. Setelah tiga deretan utama berakhir beban ini sedikit mereda tinggal melangkah secepat mungkin menuju barisan terakhir yang tak tampak ujungnya.

Setelah keluarga, tempat kerja dan akhirnya berakhir di Desa. Sama saja seremoninya para pemuka menyampaikan sepatah kata kemudian pak kyai memberi siraman rohani. Kemudian dilanjutkan juga deretan panjang salaman antar manusia seakan De Javu dengan peristiwa hari-hari sebelumnya. 

Sambil bersalaman, perangkat desa biasanya berkata kamu kemana saja tidak ikut kumpul warga, dan pak kyai bertanya kok jarang kelihatan di musholla. Dan akhirnya terpaksa harus menyalami juga tetangga yang gak tau tata krama. Mobil parkir menghalangi jalanan, musik keras, anjing peliharaan dan petasan yang selalu menghancurkan kedamaian.

Tapi tahun ini beda, semua itu tidak akan ada. Wow luar biasa, tidak perlu kemana-mana. Cukup rebahan dirumah saja dan tenggelam dengan buku tebal atau tulisan yang tak pernah terselesaikan, karena sering ketiduran. Tapi yang pasti, tahun ini akan jadi kemenangan sejati.

VIDEO PILIHAN