Mohon tunggu...
Girindra Sandino
Girindra Sandino Mohon Tunggu... Pengacara - Semua baik-baik saja

Indonesian Democratic (IDE) Center

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mempertegas Dimensi Partisipasi Publik Pemilu 2024

24 November 2021   13:19 Diperbarui: 24 November 2021   16:56 184 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar: jelajahnews.id

Dinamika politik demokrasi Indonesia selalu lebih bergejolak ketika isu-isu pemilu mulai kembali mencuat mewarnai ruang-ruang publik.

Walau diketahui penyelenggaraan pemilu masih jauh, tetap saja isu-isu pemilu memilki  daya tariknya tersendiri dan menjadi sorotan hangat yang melibatkan banyak pihak, karena secara sederhana isu pemilu adalah soal proses politik meraih dan merebut kekuasaan secara demokratis dan konstitusional.

Reaksi publik yang demikian juga merupakan penanda aktifnya partisipasi politik warga negara dalam penyelenggaraan pemilu di suatu negara yang demokratis.

Melihat jejak angka partisipasi politik pada pemilu-pemilu yang diselenggarakan sebelumnya, dari sisi kuantitatif masyarakat pemilih yang datang ke TPS-TPS setempat, cenderung mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Pada pemilu 2014 partisipasi politik sekitar 75 persen, sementara pemilu 2019 meningkat menjadi 81 persen. Namun demikian, bisa dibilang tingginya angka partisipasi politik tersebut tidak selalu berkorelasi positif dari sisi kualitas. Dalam artian, proses penyelenggaraan pemilu belum memiliki dampak sosial-politik yang progresif secara langsung dan menyeluruh sebagai wahana pendidikan politik rakyat.

Hal tersebut dapat dilihat dari kualitas isu-isu politik yang menjadi konsumsi publik selama tahapan pemilu berlangsung yang terkesan membabi buta tak jelas arah, jauh dari kesan “memerdekakan” dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta konsepsi yang konstruktif untuk pembangunan peradaban politik yang lebih maju.

Sebut saja isu-isu politik yang mendominasi ruang-ruang publlik tersebut antara lain, isu sara, isu politik identitas, menyerang pribadi seseorang berdasarkan sentimen tertentu, isu-isu hoax, dan lain-lain.

Sementara di sisi lain, isu-isu kritis seperti Hak Asasi Manusia,  keadilan ekologis, atau lingkungan hidup, pendidikan dan kesehatan, teknologi, dan lainnya menjadi isu pinggiran yang jarang mendapat tempat di dalam ruang-ruang publik pada setiap proses penyelenggaraan pemilu.

Kerap kali isu-isu politik ofensif yang mengarah pada “black campaign”, selama tahapan pemilu berlangsung, khususnya pada masa kampanye, dimobilisasi sedemikian rupa untuk membentuk narasi destruktif terhadap lawan-lawan politik, baik secara individual maupun kelompok.

Mobilisasi isu-isu politik tersebut dapat menggerakan partisipasi politik masyarakat pemilih yang massif. Walau partisipasi politik semacam itu sah-sah saja dalam pertarungan elektoral yang demokratis, namun mundur secara kualitas, mendidik rakyat menanam benih-benih kebencian sosial yang berkepanjangan sehingga dapat merusak karakter keberagaman bangsa.

Berbicara soal partisipasi politik dan motivasi yang melatarbelakanginya, secara teoritis, Huntington dan Nelson (1977), membagi partisipasi politik menjadi dua, yakni  partisipasi otonom, yaitu partisipasi politik yang didorong oleh keinginan pelakunya sendiri untuk melakukan tindakan tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan