Masykur A. Baddal
Masykur A. Baddal wiraswasta

.:: Berbagi untuk kemajuan bersama, demi kemajuan bangsa ::.\r\n\r\n....Pernah bermukim di negeri kinanah/Mesir +/- 30 tahun....\r\n\r\nJalan-Jalan Lihat Keindahan Negeri Yuuk : http://www.pegipegi.biz

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Asrama Indonesia di Komplek Univ. Al Azhar Mesir Jadi Sarang Jin?

11 Maret 2017   20:13 Diperbarui: 11 Maret 2017   21:25 3527 8 5
Asrama Indonesia di Komplek Univ. Al Azhar Mesir Jadi Sarang Jin?
asrama-58c3f70e569773f27a2df84b.jpg

Fakta, negara mana yang tidak bangga jika negerinya mempunyai beberapa gedung asrama di komplek eksklusif universitas tertua di dunia, yaitu Universitas Al Azhar Mesir? Fakta, hingga saat ini baru Indonesia saja yang mempunyai gedung asrama di komplek tersebut. Di sana, sudah ada empat gedung bertingkat lima yang siap huni, dari 18 gedung yang direncanakan akan dibangun secara bertahap.

Proyek prestisius ini sedianya sudah dimulai sejak kepemimpinan Duta Besar AM Fachir sebagai Kepala Perwakilan RI untuk Republik Arab Mesir tahun 2007, serta dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pada tahun 2012 oleh Duta Besar RI untuk Mesir Nurfaizi. Kemudian, diresmikan penggunaannya secara aklamasi oleh Presiden RI di Mesjid Baiturrahim Istana Presiden di Jakarta pada tanggal 3 Oktober 2014.

Namun, sangat disayangkan, sejak tanggal peresmian penggunaannya oleh Presiden RI hingga saat ini, gedung-gedung asrama kebangaan Indonesia tersebut tetap kosong melompong, tiada satu mahasiswa pun yang tinggal di sana. Malah ada yang menyentil fungsinya telah berubah menjadi Asrama Jin, betulkah?

Dari beberapa info insider yang berhasil penulis himpun, ternyata duduk masalah intinya adalah pada biaya operasional harian asrama. Khususnya menyangkut penyediaan makan dan minum bagi ribuan mahasiswa yang nanti akan tinggal di sana, tentu saja membutuhkan dana yang sangat besar. Dalam hal ini, secara tegas Al Azhar mengatakan belum ada alokasi dana untuk maksud tersebut. Sebab dari awal Al Azhar sudah menegaskan, pihak mereka bersedia memberikan lahan serta mengelola asrama itu, namun pendanaan tetap dari pemerintah Indonesia. Pertanyaannya, apakah panitia kurang piawai dalam menerjemahkan gaya diplomasi tingkat tinggi Al Azhar saat melobi dulu, sehingga baru timbul masalahnya saat ini?

Di sisi lain, sejak digagasnya Proyek Asrama Indonesia di komplek Universitas Al Azhar, yaitu sekitar tahun 2007/2008, KBRI Cairo mulai menghentikan semua pencatatan kepemilikan properti pemerintah daerah Indonesia di negara setempat, yang sebelumnya semua atas nama KBRI Cairo. Penghentian tersebut akhir-akhir ini semakin sangat menggelisahkan, apalagi melihat sikon mutakhir Mesir saat ini, di mana aktivitas kriminal terhadap mahasiswa asing meningkat tajam.

Umumnya, beberapa pemerintah daerah Indonesia, karena tidak adanya asrama khusus bagi mahasiswa Indonesia di Mesir, mereka lalu membeli beberapa flat dengan dana daerah, untuk dijadikan asrama putra daerahnya di Mesir. Namun, saat pencatatan kepemilikan properti pada instansi terkait setempat, mengatasnamakan KBRI Cairo. Ini semata-mata demi faktor keamanan aset dan penghuninya. Sedangkan operasional, tetap menjadi beban pemerintah daerah masing-masing. Hal semacam ini sudah berjalan sejak kepemimpinan duta besar RI sebelumnya, yaitu Dr. Bachtiar Aly. Lagi pula, jika aset tersebut tercatat atas nama mahasiswa yang bertanggung jawab di sana, tetap akan rancu, sebab mereka tidak akan tinggal selamanya di Mesir, malah suatu saat bisa menjadi permasalahan serius.

Dengan mandegnya pengoperasian Asrama Indonesia di komplek Universitas Al Azhar, otomatis rumah daerah atau asrama daerah tetap menjadi andalan utama mahasiswa Indonesia di Mesir, yaitu untuk mendapatkan hunian yang layak, aman dan murah. Sebab, jika harus menyewa sendiri flat terpisah, tentu saja biayanya sangat mahal, belum lagi faktor keamanan yang sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman serius.

Nah, Apalagi jika flat yang dihuni tercatat atas nama perorangan bukan KBRI, kemudian digunakan sebagai tempat kumpul-kumpul atau diskusi mahasiswa sebagaimana lazimnya, pasti akan menjadi masalah besar di mata pihak keamanan setempat.

Pada intinya, kedua masalah di atas sama-sama membutuhkan peran aktif Perwakilan RI Cairo dan Pemerintah Pusat secara bersamaan untuk mencari solusinya. Sebab ini telah menyangkut dengan urusan bilateral kedua negara, yaitu Indonesia dan Mesir.

Kemudian, terkhusus untuk masalah Asrama Indonesia di komplek Universitas Al Azhar, 145 Miliar sudah dianggarkan oleh pemerintah RI untuk proyek tersebut. Apakah harus terbengkalai hingga waktu yang tidak diketahui, hanya karena permasalahan makan dan minum bagi penghuni asrama?

Salam Asrama.

By. Masykur A. Baddal