Mohon tunggu...
Ignasia Kijm
Ignasia Kijm Mohon Tunggu... Senang mempelajari banyak hal. Hobi membaca. Saat ini sedang mengasah kemampuan menulis dan berbisnis.

Senang mempelajari banyak hal. Hobi membaca. Saat ini sedang mengasah kemampuan menulis dan berbisnis.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Diabetes, Cegah Sebelum Terlambat

16 Juli 2019   15:44 Diperbarui: 16 Juli 2019   15:47 0 0 0 Mohon Tunggu...
Diabetes, Cegah Sebelum Terlambat
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat harus terus digalakkan sehingga masyarakat terhindar dari berbagai penyakit. (sumber foto: kutaitimur.merdeka.com)

Dua per tiga orang dengan diabates di Indonesia tidak mengetahui dirinya memiliki diabetes. Mereka berpotensi mengakses layanan kesehatan dalam kondisi terlambat, yaitu mengalami komplikasi.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM menjelaskan  diabetes atau yang dikenal sebagai penyakit kencing manis disebabkan kadar gula yang tinggi di dalam darah. Kadar  gula tersebut  tidak bisa diubah menjadi glikogen  sehingga dikeluarkan lewat urine. Maka sering kita jumpai penyandang  diabetes terlihat lemas. "Diabetes termasuk jenis penyakit  tidak menular, salah satu penyakit yang mendapat perhatian dunia. Di Indonesia  diabetes merupakan penyebab kematian tertinggi ketiga setelah stroke dan jantung koroner," ujar dr. Lily.

Trendnya dari  waktu ke waktu diabetes terus mengalami kenaikan. Secara global data International Diabetes Federation pada 2015 menunjukkan terdapat 415 juta orang dewasa dengan diabetes. Jumlah tersebut mengalami kenaikan empat kali lipat dari 108 juta pada 1980. Diperkirakan pada 2040 penyandang diabetes berjumlah 642 juta. Kita tidak bisa berpangku tangan. Diabetes  disebabkan gaya hidup dan pola makan yang  keliru, yakni kurang memperhatikan sayur dan buah. Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi diabetes di Indonesia meningkat dari 5,7% pada 2007 menjadi 6,9% pada 2013.

Oleh karena itu Kementerian Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Dr. Lily sangat mengapresiasi upaya pihak lain dalam membantu pemerintah untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan penyakit tidak menular khususnya diabetes. Tanggal 14 November diperingati sebagai hari diabetes sedunia. "Hal yang paling baik adalah mencegah. Kita sepakat sedia payung sebelum hujan," tutur dr. Lily.

Terdapat dua tipe  diabetes, yakni tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 diderita sejak anak-anak. Bukan diturunkan, tapi  hormon insulinnya tidak mampu mengubah glukosa menjadi glikogen di dalam darah. Akibatnya penyandang diabetes tipe 1 sangat bergantung pada terapi insulin seumur hidup untuk kelangsungan hidupnya.  Sementara itu 90% penderita diabetes di seluruh dunia tergolong tipe 2. Dr. Lily menekankan, 80% diabetes sebenarnya bisa dicegah. Langkah ini tidak main-main. Tahun 2012 gula darah tinggi bertanggung jawab atas 3,7 juta  kematian di dunia. Dari angka itu 1,5 juta kematian disebabkan langsung oleh diabetes.

Dari sisi ekonomi, begitu  didiagnosa memiliki penyakit tidak menular misalnya diabetes, uang kita akan terus-menerus keluar untuk membeli obat. Sebanyak apapun pendapatan negara, jika penyakit ini tidak dikendalikan, berbahaya sekali. Diabetes sudah menjadi isu global. Target mengurangi kematian dini akibat penyakit tidak menular termasuk  diabetes sebanyak sepertiganya. Rencana aksi yang dikeluarkan WHO untuk pencegahan penyakit tidak menular ini utamanya adalah menghentikan pertumbuhan jumlah diabetes dan obesitas. Diabetes termasuk penyakit katastropik, membutuhkan obat-obatan hingga alat kesehatan. Dana untuk rawat jalan mencapai 30% dan rawat inap mencapai 33,5%. "Kalau kita tidak melakukan intervensi, akan sangat mengkhawatirkan," kata dr. Lily.

Selain diabetes, penyakit katastropik antara lain  jantung, stroke, sampai  kanker. Dr. Lily mencontohkan, pada era 1990-an penyakit ISPA terkenal. Bertambahnya tahun semakin  bisa teratasi walaupun belum tuntas, seperti AIDS dan malaria.  Indonesia termasuk dalam 17 negara di dunia dengan tiga masalah gizi. Kita melihat balita pendek sebanyak 8,92 juta. Kondisi tersebut menghambat kemampuan kognitif dan motorik. Padahal mereka adalah generasi penerus. Apakah nantinya dengan keberadaan balita pendek ini kita akan mendapatkan bonus demografi? "Dulu waktu saya praktik, ibu-ibu yang anaknya gemuk, anaknya tidak makan dua hari saja sudah panik. Saya sering menjelaskan kepada ibu-ibu bahwa anak yang gemuk ketika dewasa memiliki predisposisi penyakit tidak menular," ujar dr. Lily.

Berikut faktor risiko penyakit diabetes, pertama, kurang aktivitas fisik karena alasan pekerjaan (26,1%); kedua, merokok (36,3%); ketiga, kurang konsumsi sayur dan buah (93,5%); keempat, konsumsi minuman beralkohol (4,6%). Dr. Lily berpandangan, ada dua kategori makanan, yakni  enak dan sehat.  Kalau kita mau konsumsi makanan sehat, minsdset kita harus diciptakan bahwa air  putih itu sedap sekali misalnya. Apalagi diabetes adalah silent killer. Tiba-tiba kita sudah terdiagnosa diabetes.

Bagaimana melawannya? Konsumsi buah dan sayur minimal lima porsi per hari. Buah dan sayur sebaiknya tidak menghiasi  piring. Setengah bagian piring harus terisi  buah dan sayur, sementara setengahnya diisi karbohidrat dan protein. Namun kenyataan berkata lain, 50% piring  diisi karbohidrat dan protein. Sayur yang mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk metabolisme tubuh hanya menjadi penghias. Kita telah mengalami adiksi, yaitu gula yang memanjakan lidah. "Kalau sejak kecil orangtua melatih anak di rumah dengan konsumsi makanan manis,  otomatis anak akan mengikuti pola tersebut. Kita harus memutus mata rantai itu," ujar dr. Lily.

Penyebab badan kita berat adalah  jumlah garam, gula, dan lemak yang terlampau banyak. Tubuh kita sebenarnya dalam sehari hanya membutuhkan lima sendok makan lemak, empat sendok makan  gula, dan satu sendok teh garam. Dr. Lily menyarankan saat lapar cukup ganjal perut dengan   buah. Selain itu maksimal dua macam gorengan dalam sehari. Kemudian harus diikuti dengan olahraga.  Setiap hari idealnya 30 menit. Namun menurut dr. Lily olahraga bisa dilakukan di kantor cukup 15-20 menit. "Yang penting berkeringat dan nadi meningkat, itu sudah membuat  karbohidrat terbakar," tutur dr. Lily.

Di Indonesia  cek kesehatan secara berkala belum menjadi kebiasaan. Diabetes atau hipertensi adalah penyakit yang tidak diketahui jika tidak dilakukan pemeriksaan. Enyahkan asap rokok, rajin olahraga, diet seimbang,  istirahat cukup, dan kelola stress. Dr. Lily mengajak para  blogger dengan komunitasnya yang luas serta mampu menjangkau  dengan tulisannya. Blogger diharapkan menyebarkan upaya promotif preventif tentang upaya pencegahan diabetes, mengajak komunitas untuk membiasakan hidup sehat dengan pola cerdik, hingga rajin cek kesehatan. "Penyandang diabetes sebenarnya jika mengonsumsi obat secara teratur diikuti dengan  pola hidup sehat bisa tetap prima. Dia penyandang diabetes yang terkontrol dengan baik," ujar dr. Lily.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x