Ignasia Kijm
Ignasia Kijm wiraswasta

Senang mempelajari banyak hal. Hobi membaca. Saat ini sedang mengasah kemampuan menulis dan berbisnis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Generasi Masa Kini, Inspirasi untuk Orang Lain

13 Januari 2018   23:42 Diperbarui: 19 April 2018   23:02 654 0 0
Generasi Masa Kini, Inspirasi untuk Orang Lain
Magdalena Eda Tukan bersama anak-anak yang berkegiatan di SimpaSio Institut. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)


Menjadi generasi yang berpikir out of the box, yang berbeda dari generasi orangtua. Sosok berikut merasa hidup tidak cukup jika hanya diisi dengan bekerja untuk diri sendiri. Menjadi anak muda yang melayani masyarakat. Semua itu bisa dimulai dengan membuat sesuatu yang sederhana tapi bermanfaat untuk orang lain. Tentunya hal tersebut memacu orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka bukan pesaing, melainkan teman sejalan. Semakin banyak anak muda yang berbuat seperti itu, semakin banyak orang yang terbantu.

Magdalena Eda Tukan lahir di Larantuka, Flores Timur pada 9 Maret 1993. Dalam perjalanannya Eda, demikian ia disapa, memahami bahwa ternyata pembangunan fisik itu tidak ada artinya jika tidak diiringi dengan pembangunan kapasitas manusia. Masyarakat harus dipersiapkan sebelum membangun sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam pembangunan fisik rumusannya sudah jelas, sementara dalam pembangunan manusia  tidak hanya mempelajari psikologi, budaya, juga karakter setiap orang. Hal tersebut menantang bagi Eda. Pembangunan manusia jelas lebih sulit. Untuk membuat suatu perubahan harus dimulai dari anak-anak. Mengarahkan mereka, bukan membentuk seperti yang diinginkan orang dewasa.

Setelah lulus dari Teknik Planologi Universitas Trisakti pada 2015 Eda sempat bekerja di kantor konsultan perencanaan. Bosan dengan suasana kerja yang formal, Eda melirik pekerjaan lain sebagai peneliti muda. Tugasnya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat, khususnya anak muda untuk membangun daerahnya sendiri dengan wawasan lingkungan.

Pada Mei 2016 setelah menyelesaikan project Eda kembali ke tanah kelahirannya. Ia bergiat di SimpaSio Institut, lembaga arsip dan kajian budaya Flores Timur. Tujuan pendiriannya adalah menangkap peluang dan menjalin komunikasi keluar. Apalagi hari ini budaya Indonesia Timur menjadi sesuatu yang menarik untuk diangkat.

Sang ayah memberikan kebebasan kepadanya merancang kegiatan yang berkaitan dengan visi dan misi lembaga. Karena Eda menyukai dunia anak-anak, ia mendirikan Ruang Kreasi SimpaSio Institut. Kegiatan rutinnya adalah mendongeng dengan partisipasi anak usia PAUD sampai SD. "Saya resah sebab di Flores Timur, khususnya Larantuka tidak ada kegiatan kreatif di luar sekolah," kata Eda.

Bersama teman sejalan, Oncu Ratih dan sang adik Oni Tukan, mereka bersama mengurus SimpaSio Institut. Mereka mendapatkan fakta bahwa mendongeng tidak menjadi hal rutin yang dilakukan pemerintah. Tidak membudaya. Anak-anak hanya dipersiapkan menjelang lomba. Mereka tidak dibiasakan bahwa mendongeng itu baik dan merangsang kreasi yang lain, salah satunya adalah cikal bakal seni peran. "Saya melihat jika belajar hal akademis pasti membosankan untuk anak-anak," tutur Eda.

Magdalena Eda Tukan bersama anak-anak yang tengah mewarnai. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)
Magdalena Eda Tukan bersama anak-anak yang tengah mewarnai. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)

Di Ruang Kreasi SimpaSio Institut juga diadakan kegiatan mewarnai dan menggambar. Semua dimulai dari yang ada di rumah dan hal yang bisa dilakukan berdasarkan minat masing-masing, misalnya sumber daya mendongeng berasal dari Oni yang pernah mengikuti seleksi lomba mendongeng tingkat nasional mewakili NTT. Pinsil warna yang tidak terpakai bisa digunakan anak-anak dan  Eda yang hobi menggambar.  

Anak-anak pernah membuat kotak pinsil dari koran bekas dan pot bunga dari botol minum kemasan. Hasil karya sederhana yang dipasang di depan rumah ternyata menarik minat kaum ibu yang menanyakan harga. Hal itu menunjukkan anak-anak mau belajar dan suka akan hal-hal kreatif. Sayangnya belum ada wadah. "Ketika mereka asyik membuat produk daur ulang, mereka tidak mau diajak pulang orangtuanya," kata Eda.

Eda bersyukur sampai sekarang orangtua percaya pada SimpaSio Institut. Mereka senang anak-anaknya belajar di sana. Berkumpul dan berbuat sesuatu. Ada kegiatan baru yang dilakukan anak-anak, yaitu berlatih drama di bawah asuhan Oni. Mereka mementaskan karya "Hadiah yang Kekal" pada acara Natal dan Tahun Baru bersama beberapa hari lalu. Menurut Eda, anak-anak memiliki kesadaran akan tanggung jawab, misalnya mereka mengganti dua buku untuk satu buku yang dihilangkan. "Tanpa dibuat aturan, anak-anak tahu mereka salah," tutur Eda.

Laboratorium

Kegiatan di Ruang Kreasi SimpaSio Institut tidak berbayar. Terkadang orangtua bertanya perihal kontribusi yang bisa diberikan sebab mereka melihat anaknya berkembang. Namun Eda belum berpikir serius ke arah itu. Dalam pandangan Eda cara itu baik untuk mendukung kegiatan SimpaSio Institut ke depannya. Namun ia harus belajar manajemen yang selanjutnya dikomunikasikan kepada orangtua.  "Sebenarnya secara tidak langsung orangtua mengembangkan ide untuk SimpaSio Institut. Saya menampung ide-ide itu," ujar Eda.

Dalam prosesnya Eda merasa ada beberapa teman yang mengerti dan mengapresiasi passionnya. Terkadang ia ingin menyerah. Namun semangat dari teman-teman membuatnya tidak berjalan sendiri. Kebutuhan mendasar SimpaSio Institut adalah buku anak-anak dan permainan edukatif. Bagaimana memasukkan matematika, bahasa Inggris, atau sains ke dalam sebuah permainan sehingga anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak tidak sadar bahwa sebenarnya materinya sama dengan di sekolah tapi model belajarnya berbeda.

Oni Tukan tengah mendongeng, aktivitas yang memantik semangat membaca anak-anak. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)
Oni Tukan tengah mendongeng, aktivitas yang memantik semangat membaca anak-anak. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)

Eda yang sempat bekerja di ISCO Foundation bermimpi membuat program sahabat pena. Anak-anak Flores dilatih menulis surat dan mengirimkannya kepada anak-anak di Jakarta. Saling bercerita mengenai kehidupan di daerahnya masing-masing. Terlebih saat ini anak-anak tidak lagi mengenal surat. Tujuannya memantik imajinasi, anak Flores harus ke Jakarta sementara anak Jakarta harus keluar dari Jakarta, melihat kehidupan yang lain.

Peristiwa yang membanggakan Eda saat dua anak yang biasa berkegiatan di SimpaSio Institut menjuarai lomba mendongeng dan mewarnai. Hal tersebut menunjukkan Simpasio menginspirasi mereka. Sejauh ini Eda melihat ada peningkatan minat baca dan mendongeng bersamaan dengan dukungan orangtua. "Orangtua pernah bercerita kepada saya bahwa anaknya sekarang enggan pergi bersama karena sudah punya komunitas sendiri," ujar Eda.

SimpaSio Institut bagi Eda ibarat laboratorium. Bagaimana program ke depan akan dijalankan. Kegiatan yang telah berlangsung ditampilkan di media sosial. Orang-orang yang mengerti dan punya passion di dunia pendidikan melihat hal tersebut sebagai salah satu model belajar alternatif. Mereka mengundang Ruang Kreasi SimpaSio Institut berkunjung ke kelurahan yang lain.

Selain menggelar kegiatan di rumah setiap hari Sabtu, Eda dan tim juga mendatangi kelurahan yang berbeda. Antuasiasmenya lebih tinggi dengan kehadiran 75 anak. Berbeda dengan kegiatan di rumah yang hanya dihadiri 10-30 anak. Mereka dari awal sampai sekarang setia mengikuti kegiatan, seperti sahabatnya SimpaSio. "75 anak ini sampai mau mewarnai dengan alas terpal," tutur Eda.

Fakta tersebut menunjukkan kebutuhan anak-anak terhadap kegiatan kreatif di Larantuka itu cukup besar. Sanggar untuk anak tidak ada. Sanggar musik atau tari dibangun menjelang festival dan tidak ada latihan rutin. Termasuk anak muda sebenarnya butuh wadah.

Tertantang

SimpaSio Institut tidak punya dana. Semua dimulai dari nol. Banyak permintaan dari kelurahan lain tapi terkendala di transportasi. Eda tidak mau membebani timnya dengan uang. Selain itu SimpaSio Institut ingin berbenah diri. SimpaSio Institut juga menggelar kegiatan di panti asuhan. Penghuninya beragam, ada yang normal, ada yang keterbelakangan mental. Itu tantangannya. Tim harus meningkatkan kualitas diri. Sebagaimana yang dialami Oncu yang mempelajari bahasa isyarat untuk mengajarkan matematika kepada anak tuna rungu. "Kami merasa terpanggil," tutur Eda.

Kegiatan kreatif yang diadakan SimpaSio Institut sebenarnya ingin mengasah bakat adik-adik. Bakat itu tidak pernah dilatih dan dirangsang sehingga tidak terlihat. Arahnya ke  peningkatan minat dan bakat untuk jangka panjang. Anak-anak memiliki kegiatan yang bermanfaat, bermain sambil belajar.

Aktivitas membaca yang digemari anak-anak. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)
Aktivitas membaca yang digemari anak-anak. (foto dokumentasi SimpaSioInstitut)

Di luar Ruang Kreasi itu SimpaSio Institut memiliki project kecil-kecilan, misalnya menyusun buku mendongeng kerja sama dengan Child Fund dan penyelamatan naskah. Rencananya Eda hendak membuka perpustakaan di rumahnya untuk umum. Dengan demikian SimpaSio Institut bisa menjadi ruang belajar tidak hanya untuk anak-anak mengingat ada dua kampus di Larantuka. "Inginnya SimpaSio menjadi tempat diskusi," tutur Eda.

Eda tengah berpikir bagaimana menarik simpati orang untuk bergabung di SimpaSio Institut. Sebab anak-anak tidak bisa diandalkan mengingat mood mereka yang naik turun. Untuk itu rencananya SimpaSio Institut melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah berupa melakukan kunjungan di  hari-hari tertentu. Aktivitasnya adalah membaca buku dan mendiskusikannya. "Apalagi sekarang ada program gerakan literasi. Jadi sudah sejalan," kata Eda.

Selain itu rencananya diadakan program mendongeng dari desa ke desa sebulan sekali. Aktivitas itu diharapkan membuat penasaran anak-anak. Selanjutnya mendorong mereka membaca. Ternyata nilai-nilai baik mudah diberikan kepada anak-anak melalui dongeng dengan cerita binatang. Selesai mendongeng mereka diajak berdiskusi, bercerita kembali. Kepercayaan diri terbentuk.

Ke depan SimpaSio Institut berpikir mengenai penggalangan dana melalui hasil karya anak-anak, seperti kalender atau notes dengan gambar anak-anak. Eda merasa perlu memperkuatkan kelembagaan ke dalam. Sampai saat ini Eda sudah melakukan usaha-usaha tertentu. Namun terhambat pada keterbatasan.