Mohon tunggu...
Christov Manuhutu
Christov Manuhutu Mohon Tunggu...

Pembelajar yang masih terus belajar

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Indonesia Pasti Bisa, Pak Presiden!

16 Oktober 2014   00:36 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:51 1046 5 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indonesia Pasti Bisa, Pak Presiden!
14133717941245930907

[caption id="attachment_366701" align="aligncenter" width="624" caption="Ilustrasi: Shutterstock"][/caption]

“At its core, our financial crisis was a systemic run”

(John H. Cochrane, Toward a Run-free Financial System)

Pak Presiden,

Secara umum ada dua sistem keuangan di dunia yakni sistem fractional reserve banking dan sistem full reserve banking. Semua negara di dunia menggunakan sistem keuangan yang sama dengan Indonesia saat ini yaitu sistem keuangan fractional reserve banking. Akan tetapi sistem keuangan fractional reserve banking tidak stabil secara fundamental. Coba tanyakan hal ini kepada para calon Menteri Keuangan atau para calon Gubernur Bank Indonesia. Dalam semalam sistem keuangan ini dapat ambruk dan runtuh karena adanya resiko sistemik yakni bank run.

Pak Presiden,

Bank run terjadi ketika semua orang menarik dana yang dimilikinya dari lembaga keuangan pada waktu yang nyaris bersamaan, yang mana diketahui umum bahwa lembaga keuangan tentu tidak memiliki seluruh dana tersebut sehingga menyebabkan lembaga keuangan tersebut bangkrut atau gagal bayar. Masih segar di ingatan kita dengan bailout Bank Century bukan? Kekhawatiran terjadinya bank run karena Bank Century yang gagal bayar menyebabkan diberikannya dana talangan kepada Bank Century untuk mencegah bank run terjadi.

Pak Presiden,

Lantas, apakah kita mungkin memiliki sistem keuangan yang lebih stabil tanpa bank run? Jawabannya sangat mungkin. Mari kita tilik sedikit sejarah Amerika Serikat ketika dilanda krisis ekonomi hebat yang dikenal dengan Depresi Besar tahun 1928. Kala itu Amerika Serikat dihantam badai krisis keuangan yang hebat, terjadi bank run berkali-kali yang membuat tekanan besar pada ekonomi bangsa itu. Kala itu para ekonom terkemuka berkumpul, salah satu diantaranya Irving Fisher. Mereka mengajukan proposal program kepada Kongres atau DPRnya Amerika agar krisis seperti Depresi Besar tidak terjadi lagi di masa mendatang,  Fisher mengusulkan agar sistem keuangan fractional reserve banking dirubah menjadi sistem keuangan full reserve banking.

Pak Presiden,

Ijinkan saya membahas sedikit mengenai usul Fisher tersebut. Sistem fractional reserve banking adalah sistem ketika lembaga keuangan atau bank meminjamkan kepada pihak lain sebagian besar simpanan nasabah yang ada dan hanya mencadangkan sebagian kecil (fractional reserve) simpanan nasabah tersebut. Contoh kasus kelemahan sistem fractional reserve banking sederhananyaberjalan seperti ini:

Misalkan persentase dana yang dapat dipinjamkan dari total simpanan nasabah diatur oleh Bank Sentral berada pada angka 4%. Maka bila saya memiliki simpanan sebesar Rp 100 juta di bank A maka bank A wajib mencadangkan Rp 4 juta bila sewaktu-waktu saya hendak mengambil. Bila seluruh nasabah di Bank A berjumlah 100 orang nasabah dan menabung dengan nilai yang sama, maka bank A menerima simpanan sebesar Rp 100 milyar dan wajib mencadangkan Rp 400juta. Dana simpanan sebesar Rp 96,6 milyar itu dipinjamkan bank A kepada pihak lain. Namun misal tersebar rumor bahwa manajemen bank A telah melakukan kecurangan, saya dan 99 nasabah lain di Bank A  memutuskan menarik dana yang disimpan di Bank A (bank run). Namun dalam sistem fractional reserve banking, hampir dapat dipastikan bahwa bank A tidak memiliki dana tersebut karena dana tersebut tengah dipinjamkan kepada pihak lain. Bank A disebut sebagai bank gagal (failed bank).

Pak Presiden,

Tentu kondisi gagal bayar di bank A ini menyebabkan kegaduhan dan keributan di dalam sistem keuangan secara nasional, berita tersebar ke seantero negeri dan orang lain yang memiliki simpanan di bank B, bank C dan bank-bank lainnya panik dan melakukan penarikan simpanan mereka bersamaan ((bank panic). Seluruh bank dan atau lembaga keuangan dalam sistem  keuangan fractional reserve tidak memiliki cadangan yang memadai. Dan tanpa adanya dana talangan dari Bank Sentral, seperti halnya bank Century, maka sistem keuangan dapat kolaps dalam semalam. Rumor saja cukup untuk meluluhlantakkan sistem keuangan suatu negara. Semua negara di dunia pernah merasakan efek dari bank run karena sistem fractional reserve banking diadopsi oleh seluruh negara.

Pak Presiden,

Sistem keuangan full reserve banking, dalam contoh kasus yang sama, oleh Bank Sentral mewajibkan adanya cadangan nilai setara dengan simpanan nasabah (full reserve), dan bukan hanya sebagian. Dengan demikian, bank run dapat dicegah karena dana simpanan nasabah selalu tersedia.

Pak Presiden,

Saya yakin mereka yang mendukung sistem fractional reserve berargumen bahwa dalam sistem full reserve banking, dana yang dipinjamkan perbankan atau lembaga keuangan menjadi terbatas sehingga proses penciptaan uang menjadi lebih sedikit. Ada juga argumen lain  bahwa dalam sistem full reserve banking menjadi dalam sistem perbankan, mahalnya fee untuk menyediakan fasilitas-fasilitas seperti ATM menjadi tak terelakkan.

Akan tetapi bukankah selama ini sistem seperti itu yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya? Bukankah dana talangan yang harus disediakan untuk menjaga stabilitas keuangan akibat bank run juga mahal? Bukankah krisis keuangan yang ada tidak perlu terjadi lagi dengan adanya cadangan yang memadai?

Pak Presiden,

Saya teringat Bung Karno sekali pernah berkata : Jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Tahun 1998, uang rakyat digunakan untuk menutup kelemahan sistem fractional reserve banking.

Tahun 2008, kembali uang rakyat digunakan untuk membayar kelemahan sistem fractional reserve banking.

Meski tulisan ini saya untuk mengikuti kuis bareng Kompasiana  dan Bank Indonesia. Namun sekiranya tulisan ini sampai ke tangan Bapak, silahkan bapak merujuk proposal Irving Fisher dan rekan, "A Program for Monetary Reform" (http://en.wikipedia.org/wiki/A_Program_for_Monetary_Reform) untuk pembahasan yang lebih mendalam.

Saya percaya revolusi Mental yang bapak dengungkan pada masa kampanye dapat dimulai dari hal ini. Sejarah akan mencatat Indonesia bisa bebas dari dampak krisis keuangan global dengan diterapkan secara penuh sistem full reserve banking ini, bahkan dunia pasti belajar dari Indonesia untuk ini.

Indonesia pasti bisa, Pak Presiden!

Jakarta, 15 Oktober 2014

Christov Manuhutu

(Catatan : Simpanan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah simpanan nasabah yang dapat diambil sewaktu-waktu oleh nasabah dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan atau lebih dikenal dalam perbankan dengan istilah Dana Murah)

VIDEO PILIHAN